Oleh: Desi Sommalia Gustina

Melongok Realitas dalam Angka-Angka yang Beranjak dan Perasaan Kecemasan

12 Juli 2015 - 09.05 WIB > Dibaca 1131 kali | Komentar
 
Sitor Situmorang (1984:3) bilang puisi lahir atau tumbuh dari iklim tertentu, situasi dan kondisi budaya tertentu. Si penulis puisi berfungsi sebagai tukang cerap dan tukang olah apa yang ia peroleh dari iklim itu. Mencerap segala rupa dan jenis kesan sesuai kepekaan budaya manusia, atau dengan kata lain sesuai kepekaan penyairnya. Untuk semua itu si penyair berfungsi sebagai medium lalu memberinya bentuk dan merangkainya dengan beragam metafora dan beragam diksi yang dipilih.

Senada dengan itu, Indra Tjahyadi (Jurnal Nasional, 15 Juni 2008) bilang puisi tidak lahir dari kekosongan. Melainkan ia lahir dari totalitas pengalaman estetika manusia dalam relasinya dengan realitas dunia, yang kemudian dimaterikan dalam bentuk jalinan kata-kata (yang indah), yang memiliki daya guna bagi kelangsungan hidup dan peradaban manusia. Dimana kemudian kita dapat menemukan antara puisi dan di dunia ia dilahirkan senantiasa memiliki hubungan yang amat dekat dan tak terpungkiri. Satu pertalian yang sangat erat dan saling terkait antara satu dengan lainnya.

Sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa puisi bukan lahir dari sesuatu yang tiada, melainkan sebaliknya: ia lahir dari sesuatu yang ada dalam realitas. Dimana realitas menjadi tempat menempa sekaligus mematangkan pengetahuan-pengetahuan, pengamatan, dan pengalaman-pengalaman artistik dan kreatif seorang penyair. Dalam kesusastraan Indonesia kita banyak menemukan penyair yang menulis puisi berangkat dari realitas yang ada di masyarakat tempat ia tinggal, kemudian dari realitas itu dipadukan dengan pergolakan ‘rasa’ dan permainan imajinasi, lalu dieksplornya dengan berbagai simbol kata-kata.

Hal ini dikarenakan sastrawaan atau penyair merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri. Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Goenawan Muhammad, Afrizal Malna, untuk menyebut beberapa nama. Dimana pada akhirnya pembaca bisa menemukan ada kesalingterkaitan antara realitas dan puisi yang diciptakan oleh para sastrawan. Artinya, penyair benar-benar menulis dan menuangkan gagasannya di ranah realitas, katakanlah terkait persoalan kehidupan yang kian hari kian menyeruak dan menampakkan wujudnya. Dan realitas itu kemudian memberi roh terhadap sebuah puisi yang kita baca.

 Buku kumpulan puisi Angka-Angka yang Beranjak dan Perasaan Kecemasan yang ditulis oleh Dedy Tri Riyadi ini adalah salah satunya. Buku ini merupakan sehimpun puisi yang lahir dari persentuhan-persentuhan terhadap realitas. Menurut pembacaan saya, secara garis besar puisi-puisi dalam buku ini merupakan sekumpulan puisi yang berasal dari kegelisahan penyairnya atas berbagai persoalan yang ia tangkap, ia lihat, ia rasakan, dan kemudian ia terjemahkan ke dalam karya sastra bernama puisi. Kegelisahan-kegelisahan yang lahir atas beragam peristiwa di masyarakat, yang kemudian mewujud dalam angka-angka. Semacam angka-angka yang mewakali beban perasaan penyairnya.

Angka-angka dalam kumpulan ini tentu saja tidak berbicara tentang hitungan kuantitatif sebagaimana angka-angka pada usia kuantitaf manusia. Bukan seperti angka-angka disekitar hitungan kuantitatif dari kelahiran yang merupakan usia biologis seseorang, usia kuantitatif. Namun, angka-angka dalam buku ini berbicara tentang beragam permasalahan kehidupan.  Tentang kesengsaraan, ketakutan, ketidakadilan, dan lainnya. Seperti dalam potongan puisi berikut ini:

“/Aku menenggelamkan seluruh kota/ dan kenangan yang buruk,/ menara juga tembok kota/ di mana makhluk-makhluk menyeramkan/ menjenguk masa lalu./ Aku memilih tinggal dalam gubuk,/ dekat laut, dan dari kejauhan/ gunung seperti harapan/ yang terus timbul./ Di sana, meski tak bisa kulupakan,/ kutulis kenangan buruk itu/ sebagai dunia yang terbalik…/” (puisi Dalam Sebuah Sajak).

Begitu pula sebagaimana yang didedahkan Dedy pada puisi berikut:

“/ Pikiranku, kota tua hampir ambruk./ Masa silam sebuah peluru meriam./ Lubang menganga yang nyaris/ mengubur ladang-ladang subur/ dan sungai deras beralur./ Karenanya, aku lebih suka memejam/ mata, menanggap segala peristiwa/ kibar bendera di atas menara,/ berita perang yang berulang/ : tak ada kalah atau menang…/” (puisi Memikirkan Kau).

Melalui dua penggalan puisi di atas kita dapat melihat bagaimana aku lirik bertutur lirih tentang sebuah persoalan yang terjadi di masa silam, tentang sebuah kenangan yang tidak menggembirakan, tentang sebuah tikai dengan segala sisi gelap yang menyertainya. Dimana moncong senjata dan peluru meriam menjadi saksinya, dan sepihan reruntuhan menjadi buktinya. Perselisihan tentu saja merupakan sebuah tema yang getir, tapi menjadi sesuatu yang menarik ketika ia telah berubah wujud dalam angka-angka yang dijalin dengan cermat dan dengan ritme yang terjaga. Boleh jadi, kita kemudian lupa bahwa apa yang diceritakan oleh aku lirik dalam sebuah puisi merupakan sisi kelam dari hidup tersebab larut dalam lirik yang dirangkai oleh penyairnya.

Selain itu, sesuatu yang juga menarik dari angka-angka dalam kumpulan ini menurut saya adalah ketika ia berupaya menunjukkan pada kita bahwa hidup begitu memikat justru karena beragam peristiwa yang terdapat di dalamnya. Disamping juga karena beragam persoalan dengan segala serba-serbi yang mengelilinginya. Misalnya ketika Dedy menuliskan tentang ketidakmampuan, kepasrahan, cinta, kesedihan dan lain sebagianya menjadi metafor-metafor yang demikian menyentuh. Seperti pada bait berikut ini:

“/Aku tak memanggilmu/ untuk memanggul/ kesedihan itu sendiri./ Angin tak mengantarkan/ kabar ketelantaran juga./ Yang berdentang itu/ kau gelandang di padang-padang salju/ yang memucat seperti usia./ Aku memanggilmu dalam gigil,/ agar kau tak terasa terkucil…” (puisi Lonceng).

Hal yang tak jauh berbeda juga terdapat pada puisi berikut:

“/Namamu, Air./ Mesin yang mendulang/ dan mengonversi diri sendiri./ Aku hanya batang-batang hidran/ di gersang padang. Kata-kata yang mencoba/ mendefinisi kehausan panjang./ Rindu ikan ikan berenang…/ (puisi Mulut).

Disamping itu, pada kumpulan ini saya juga menemukan—katakanlah semacam kejutan ketika Dedy mengangkat beberapa pesan moral yang biasa diucapkan dan diperdengarkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kemudian oleh Dedy diolah dengan beragam metafora, sebutlah pameo, seperti “hidup itu pilihan” yang kemudian digubah menjadi:

“/Jika hidup adalah gelombang besar/ akankah kau memilih berjaga di dermaga?/…. Jika hidup adalah gelombang besar,/ bangunkan aku segera./ Jauhkan aku dari jendela…/” (puisi Angka-Angka Yang Beranjak).

Pameo yang sama juga dapat kita jumpai pada larik berikut:

/…Tapi, hidup tak semata/ menerka dan memperkatakan/ perkara-perkara,/ mencari kesimpulan sementara,/ atau mengundi kemungkinan/ yang terjadi nanti…/ (puisi Perkiraan Tentang Setia).

Selain pameo, dalam kumpulan ini saya juga mendapati beberapa pribahasa yang biasa kita dengar dalam keseharian kita telah berubah rupa menjadi sesuatu yang baru dan segar, seperti pribahasa “daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah” menjadi rangkaian kalimat yang memikat dalam bait puisi berikut:

“/…Lebih baik jadi bintang laut/  Dia mati ketika laut surut saja./ Aku tak mau mati sebagai ikan,/ lihatlah seekor kucing kuning menunggu…/” (puisi Angka-Angka yang Beranjak).

Begitu juga dengan pribahasa “waktu adalah uang” kemudian digubah menjadi:

/Waktu seperti kasir yang sibuk menghitung/ perniagaan kita sehari-hari: rugi atau untung…/” (puisi Dan Waktu Seperti Tertidur).

Juga pribahasa “jinak-jinak merpati” yang sering kita dengar kemudian oleh Dedy digubah menjadi:

/…Bersetialah seperti merpati./ Merpati selalu kembali ke sarangnya./ Tuluslah seperti merpati, tapi harus cerdik/ seperti ular.../ (puisi Merpati).

Apa yang dilakukan Dedy tentu saja merupakan hal yang patut diapresiasi karena dengan demikian saya pikir Dedy telah berupaya mendekatkan puisi kepada masyarakat, utamanya dengan mengangkat hal-hal yang dekat dan kerap menjadi bahan pembicaraan di masyarakat dalam sebuah puisi. Dengan demikian, penyair dengan caranya sendiri telah ‘berdialog’ dengan pembacanya sekaligus menyampaikan gagasannya. Sebab puisi juga merupakan semacam dialog, misalnya dialog antara manusia dengan manusia lainnya; antara seorang anak dengan Ibu, seorang rakyat dengan penguasa, seorang pengajar dengan siswa, seorang pekerja dengan majikan dan lainnya, juga dialog antara seorang hamba dengan tuhannya, ataupun antara sepasang kekasih dan lain sebaginya.

Dari ‘dialog-dialog’ itu menunjukkan bagaimana kepekaan penyair pada hidup dan kehidupan, disamping juga merupakan cara sastrawan memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui puisi-puisi yang ditulisnya. Hal ini seirama seperti yang Danarto katakan bahwa sastra sebenarnya alat untuk menerima dan memberikan pencerahan. Begitu.***

Pekanbaru 2015.



Desi Sommalia Gustina
alumnus pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Andalas Padang. Saat ini bekerja sebagai Tenaga Ahli KPI Daerah Riau. Menetap di Pekanbaru. Menggerakkan Komunitas Menulis Rumahkayu. Ia dapat dihubungi melalui email: desisommaliagustina@yahoo.co.id
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 09:04 wib

Targetkan Raih Juara Umum

Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Follow Us