Oleh: Agus Sri Danardana

Adab Berbahasa

12 Juli 2015 - 09.08 WIB > Dibaca 1992 kali | Komentar
 
Adab Berbahasa
Agus Sri Danardana
Bahasa, dalam sejarah peradaban manusia, terbukti menjadi salah satu penentu kemajuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Bangsa Arab, misalnya, pada abad X menjadi kiblat penguasaan ipteks dunia karena keberhasilannya menerjemahkan tradisi ilmu Romawi-Yunani ke dalam bahasa Arab. Begitu pun bangsa Latin-Eropa, berkat keberhasilannya menerjemahkan ipteks berbahasa Arab ke dalam bahasa mereka, tumbuh menjadi pelopor ipteks dunia pada abad XII. Hal yang sama dilakukan oleh Jepang dan Korea. Hingga kini dua “singa” Asia itu mampu terus mengaum (sehingga ditakuti bangsa maju lainnya) karena kesetiaaan dan kebanggaan mereka terhadap bahasanya.

Di Indonesia, bahasa (Indonesia) belum mendapatkan tempat yang bermartabat. Sekalipun berkedudukan sebagai bahasa nasional (Sumpah Pemuda 1928, butir ketiga) dan bahasa negara (UUD 1945, Pasal 36) serta diyakini mampu menyatukan bangsa, bahasa Indonesia (BI) diduga belum menjadi sarana berpikir masyarakat penggunanya. Oleh sebagian orang, BI bahkan dianggap tidak mampu berfungsi sebagai bahasa ilmu.

Salah satu bukti yang memperkuat dugaan bahwa BI belum menjadi sarana berpikir masyarakat penggunanya adalah hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) pada 2009. Dalam studi itu dinyatakan bahwa tingkat literasi anak didik Indonesia berada pada level 3, sedangkan negara-negara tetangga (Thailand, Malaysia, dan Singapura) berada pada level yang lebih tinggi: 4, 5, bahkan 6. Yang menyedihkan lagi, studi itu juga menyatakan bahwa hanya 5% siswa Indonesia mampu memecahkan masalah yang memerlukan pemikiran.

Bukti lain bahwa BI belum menjadi sarana berpikir masyarakat penggunanya adalah masih tingginya penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang salah (nalar) dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk-bentuk bahasa yang salah (nalar) itu, karena terus-menerus digunakan: dari satu generasi ke generasi berikutnya, bahkan sudah dianggap baku dan tidak pernah dipikirkan kebenarannya. Contohnya terdapat pada pernyataan Atas perhatiannya, diucapkan terima kasih.

Pernyataan yang dapat dengan mudah ditemukan dalam bagian penutup surat/pidato itu bermasalah kerena menisbikan pelaku yang terlibat (sedang) berkomunikasi. Sejak dulu hingga sekarang tidak banyak orang yang menyadari bahwa akhiran /-nya/ (pada perhatiannya) dan awalan /di-/ (pada diucapkan) mengacu pada orang ketiga, bukan orang pertama (penulis surat/pepidato) dan bukan pula orang kedua (penerima surat/pendengar). Padahal, surat/pidato merupakan komunikasi dua arah (dialog) antara penulis surat/pepidato (sebagai komunikator) dan penerima surat/pendengar (sebagai komunikan). Agar tidak terjadi kesalahan (nalar), dengan demikian, akhiran /-nya/ (pada perhatiannya) harus disulih dengan kata ganti orang kedua dan awalan /di-/ (pada diucapkan) harus disulih dengan kata ganti orang pertama sehingga menjadi Atas perhatian Bapak (Ibu/Saudara), saya (kami) ucapkan terima kasih.

Kesalahan (nalar) juga terdapat pada judul-judul berita/tulisan di media massa, misalnya “Selain Selingkuh, Nikita Ungkap Kejelekan Ryan Lainnya”.

Secara sintaksis, judul tulisan itu mungkin tidak bermasalah, tetapi secara semantis jelas bermasalah. Siapa yang berselingkuh? Jawabannya ada dua kemungkinan, Nikita atau Ryan. Kemungkinan pertama mengandaikan Nikita melakukan dua hal: berselingkuh dan mengungkap kejelekan Ryan lainnya, sedangkan kemungkinan kedua mengandaikan Nikita hanya melakukan satu hal: mengungkap (per)selingkuh(an) dan kejelekan Ryan lainnya sekaligus. Padahal, dalam isi tulisan, jelas-jelas disebutkan bahwa yang berselingkuh adalah Ryan. Oleh karena itu, agar tidak bermasalah (baik secara sintaksis maupun semantis), judul tulisan itu harus diubah menjadi

a.  Selain Selingkuh, Kejelekan Ryan Lainnya Diungkap Nikita; atau
b.  Nikita Ungkap Perselingkuhan dan Kejelekan Ryan Lainnya; atau
c.  Selain Ungkap Perselingkuhan, Nikita juga Ungkap Kejelekan Ryan Lainnya.

Celakanya, judul berita/tulisan seperti itu terus bermunculan. Pembaca pun dipaksa untuk memahaminya sesuai dengan kehendak penulis. Judul berita/tulisan seperti “Lebih 24 Jam Diperiksa, Polisi Belum Tentukan Status Ibu Angkat Angeline” dan “Mangkir, KPK menjemput paksa Alex Noordin”, misalnya, harus dipahami bahwa yang diperiksa dan yang mangkir adalah ibu angkat Angeline dan Alex Noordin, bukan polisi dan KPK.

Ternyata kesalahan (nalar) tidak hanya terjadi dalam bentuk kalimat, tetapi juga dalam pembentukan (gabungan) kata. Bentuk mengejar ke(ter)tinggalan dan pengentasan kemiskinan, misalnya, dapat dijadikan contoh.

Makna kedua bentuk itu sama sekali tidak seturut dengan makna yang diniatkan, yakni untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan (dengan meniadakan kemiskinan). Mungkinkah kemajuan itu dapat diraih dengan mengejar ke(ter)tinggalan? Mengapa tidak mengejar kemajuan yang dilakukan? Pun mungkinkah kesejahteraan itu dapat diraih dengan (program) pengentasan kemiskinan? Bukankah pengentasan kemiskinan itu berarti ‘pengangkatan kemiskinan’? Seberapa pun tinggi kemiskinan itu berhasil diangkat (jika tidak diberantas), rasanya, tidak mungkin kesejahteraan akan terwujud.

Ketidaklogisan berpikir juga sering diperlihatkan para pembawa acara (pewara) dan reporter dalam berbahasa. Pewara sering menyilakan waktu dan tempat untuk memberi sambutan, sedangkan reporter sering bertanya tentang sesuatu yang sudah diketahuinya. Perhatikan contoh (1) dan (2) berikut ini.

1.  Kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, waktu dan tempat disilakan.
2.  Pemirsa, sekarang ini saya berada di tempat pengungsian Gunung Sinabung di mana terdapat ratusan pengungsi yang belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Nah, siapa yang disilakan pada contoh (1)? Pasti maksudnya Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, bukan waktu dan tempat. Lalu, di mana terdapat ratusan pengungsi yang belum mendapat perhatian serius dari pemerintah pada contoh (2)? Ia (reporter itu) juga sudah tahu: di tempat pengungsian Gunung Sinabung. Mengapa ia masih bertanya, (dengan kata tanya) di mana?

Senyatanyalah, BI belum menjadi sarana berpikir bagi sebagian besar rakyat Indonesia. BI masih menjadi sarana komunikasi semata. Dalam ber-BI, sebagian besar rakyat Indonesia hanya meniru: menggunakan bentuk yang sudah ada (yang digunakan banyak orang, tanpa memikirkan salah-benarnya), tidak mencipta.

Betulkah bahwa bangsa Indonesia hanyalah bangsa pengguna, bukan bangsa pencipta (dalam berbahasa sekalipun)? Wallahualam bissawab.

Selamat Idul Fitri, Saudara-saudaraku. Segenap pengelola “Alinea” mohon maaf lahir dan batin. Salam.***


Agus Sri Danardana
Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us