Sajak-sajak Nadia Octavialni Ali

12 Juli 2015 - 09.13 WIB > Dibaca 1560 kali | Komentar
 
Sajak-sajak  Nadia Octavialni Ali
Sebungkus Kopi

Malamku hanya ditemani
sebungkus kopi
yang kuseduh bersama ingatan.

Lalu kulihat di televisi
para gadis muda
nampak tertawa dalam iklan.
Ada seorang ibu yang
menggantung harap
pada hologram
di balik bungkusnya
yang keseribu,
seperti menanti peruntungan.

Kububuhkan sunyi di atas
permukaan secangkir kopi itu.
Meruapkan nama-nama
yang terlupakan.
Kemudian kureguk bersama
dua sendok kenangan.

Tapi kesepian tak kunjung larut
dalam pikiran.
Sungguh tak bisa kuhindarkan,
begitu dinginnya takdir
sejak awal perjumpaan.



Kau Menerbitkan Matahari

Kita adalah dua orang yang
sengaja bertemu dan
berharap malam tak lekas datang.

Sekadar untuk membayar
rindu yang tak kunjung lunas
di setiap jeda percakapan.

Lalu aku ingat kau
pernah bilang,
bahwa kau akan terus menemaniku
sampai ke tepian waktu.

Ada seorang anak kecil berlari
di hadapan dua orang yang sedang
bercengkrama.
Kedua tangan anak itu
menggenggam seekor kunang-kunang.

Kau yang bilang akan setia
menanti meski langit
dan tanah mulai tak merestui.

Lantas anak kecil itu terjatuh
dan kunang-kunang akhirnya
terlepas dari genggamannya.

Anak kecil itu luruh di pinggir telaga
kunang-kunang kabur
mengedipkan cahaya.

Kau  yang bilang akan menerbitkan
matahari ketika hujan turun dan
membasahi sela-sela bulu mataku.

Ada yang melihat bayangmu
di balik semak-semak
taman kota itu.

Mereka atau bahkan aku
tidak tahu bahwa kau telah hadir
di sana, sebelum sesuatu
tenggelam dalam perasaanku
dan tak pernah terbit lagi.



Daun Kemboja


Aku ingin menjadi dedaunan kemboja
yang teguh kala tubuhnyaterterpa angin,  
teriris sepi yang melintang dengan
sekelebat bayang.

Aku ingin menjadi dedaunan kemboja
yang rela dihinggapi parasit dengan gesit.
Seekor laba-laba merayu
untuk menggantungkan diri
di tangkai dan kelopak tubuhnya.

Aku ingin menjadi dedaunan kemboja
yang tabah, terpelanting jatuh ke tanah.
Ketika dedaunan lain
tumbuh menggantikannya.

Aku ingin menjadi dedaunan kemboja
yang setia berada di sampingmu
sampai ke tempat berlabuh
yang terakhir sekalipun
menunggu untuk tak utuh.



Sebentar Lagi, Aku Gila


Sebentar lagi aku berubah menggila
jalinan otak tak lagi terpilin rapi.

Kacau bercampur peluh
mengalir di pusaran kata-kata.

Selangkah lagi akan ada yang pergi
kenapa harus merumput
pada padang derita?

Memilih angin menyentuh luka
Tinggalkan perih, berdarah-darah
menggenang bagai danau nestapa
di hadapan ini mata.

Sebentar lagi aku menggila
kuasah kata malah menusuk kalbu.
Tubuhku telah bercompang-camping,
oleh sobekan duka.

Biarkan jerit melengking
Biarlah luka aku saja yang simpan.

Siapa yang akan berperan jadi wayang,
engkau pasti memilih jadi dalang?



Catatan Kosong

Hendaknya aku mengisinya dengan apa?
Sebuah perasaan yang tercambuk hari
atau otakku yang telah terebut paksa
tangan kecemburuan?
Sebab rasa takut telah mencuri
pandanganku. Sehingga tiba-tiba menyewa
sepetak tanah
Di antara padang anganku
di sana.

Perasaan memang ialah jurang
di mana langkah yang terluka
juga apapun yang karam ke sana,
akan larut terbawa arus sungai
di kedalamannya.

Atau aku biarkan kosong saja.
Tak perlu ada kata keluar bergerombolan
tetap tersembunyi di sebalik kolong pikiran.
Tak ada yang dapat tercolong.
Tak bisa juga aku keluarkan mereka
dengan pertolongan.

Tapi Aku tak ingin ini bersih
tanpa apa-apa.
Kubiarkan saja terisi seadanya.
Kutulis diriku dari semua sisi
mungkin saatnya aku membubuhi
saksi sepi.

Lantas bagaimana
kalau aku terlalu menciut tak bernyali.
Keberanianku terlanjur lama
tak pernah kembali.

Benarkah  aku ini seorang pengecut
hingga aku tak mampu juga mewarisi hati
yang tengah bergelut di dalam diri ini?


Nadia Octavialni Ali
lahir 15 Oktober 1992. Mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Pernah bergiat di komunitas-komunitas sastra di Bandung, dan aktif menulis puisi, cerpen dan ulasan travel, kuliner, sesekali menerjamahkan puisi juga cerpen dan lain-lainnya di berbagai media seperti blog, beberapa buletin dan majalah kampus.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Follow Us