Sajak-sajak Muhammad Asqalani eNeSTe

12 Juli 2015 - 09.15 WIB > Dibaca 1687 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Muhammad Asqalani eNeSTe
Segala dalam Satu
: Alda Muhsi

Seperti pagi yang buru-buru lesap dari mataku, gamang tampak seterang
siang, ketika kegelapan menegaskan kelaparan malam, di sisa fajar,
nafas kugantungkan ke kanvas yang menggerakkan leher duha.

Doa terhempas, bersembunyi di celah paha: mendarahi pagi, mengentalkan
siang, mengandung malam, melahirkan fajar.

Duha tiba-tiba dewasa, setelah kita tiada, kita tiada setelah mabuk
oleh masbuk, setelah ditekuk kerasnya rukuk.

Pagi, siang, malam, duha, terbakar kala fajar, sementara fajar tak mampu
membakar diri, meski ia sangat ingin.

2015



Meraba Laut

aku masih merabaraba laut
membayangkan hening kedalamannya
mungkin seekor ikan tuna tersesat di sana.
membincuhkan seluruh buncah doa.
agar matanya sedikit menemu cahaya.
sebelum malam, sebelum seluruh malam,
sebelum sempurna malam, tanpa cahaya bulan,
menenggelamkan segala keinginan

2015



Mudrik Sava Zorina


Sekuntum bunga pecah, berdarah, kala bulan kusut
   di jendela jelaga, kala kelambu terbelah sepasang
pemangsa,

Ayahmu menyembur 300 juta putih partikel doa,
di mana ibumu membuka riwayatmu sebagai hayat garba,
lalu kauturun seperti pangeran penyerbuk dari istana
bunga bunga tanpa wanita.

Namamulah itu, yang mengacung sekokoh kota-kota
nawaitu, yang dipancangkan ayahmu dengan teguh
ovum ibu, bersama ke langit memagut tumbuh dewasa
sukmamu.

Terimalah takdir bunga-bunga yang tersemat di telinga
serbukmu, sabuk takdir akan melingkar di pinggang
panggung, ketika kaulakonkan hidupmu yang kadang
   menanggung amis lokan.

2015



Ikan Bariba

Nabi bersendawa,

Di sisik-sisik telaga,
Lapar menjelma biodata
Bio ikan berbadan melata

Begitu kata ibu
Di jam-jam kantukku
Hingga suntuk dewasaku

Mendewakan ikan bariba
Dengan sebelah doa
Serta sebilah dosa

2015



Orang Orang

Orang-orang memeluk semua harapan yang tertidur,
mimpi serupa tikar yang luntur, kepala hilang warna,
akal seperti reruntuhan pelangi, ketika kueja satu warna; hitam.
Apakah Tuhan sudah sepekat jelaga? Namun aku tak percaya,
surga juga putih semata.

Jika kujaga, naluriku tak memiliki peta, dan sepasang tanganku
adalah peraba yang angan, sebatas bayang-bayang sepinggan,
ketika patah sembahyang setiang.

Lalu apa? Luapan airmata adalah cinta yang turun ke langit.
Sebagai laut yang biru kemelut. Menenggelamkan nyawaku
selutut.



Hipotesa Nul
-bagi Jamil

Cok, kehe ma maridi
aso ulang manyosal di pudi niari
manyombah taalo do karejo
inda merdunia mur ma oto

adalah cara paling murni membeslah pagi,
dengan jemari embun di tetas sujud,
menjemput matahari diri,
bagi cawan nafsi yang futur

kauenyah hujan di ubun
mengupas masa lalu dengan tasykur
tersesat di kebun anggur
menjadi hamba yang masyhur

memetik harpa
dari sekonyong-konyong asa
menyerong hampa
sampai arang segala rahasia

digenggam nadi-nadi
ke dalam celan wadi
seperti transfusi waktu
ke lembah thoharoh

osa do Cok, kehe ma ho tu huta
ke he ma tu parik paridian
ulangko maradian bope ulok lewat
ucapkon ma salaamun ala nuhin

bagi ibu,
semak jiwamu adalah muasal ular
yang melata meliputi semesta

ada pun melati
mekar putih di hatimu
memelurkan sanggul ibu
yang sebundar apel
simpanan ayah.

bergelindinglah doa.
kisutlah dosa.
petiklah petala.
buah jantungku!

2015



Sufi

bumi seluas telapak tangan,
doa membentangkannya.

2015



Cogan Kuno
: Turki

Majusi terapung-apung di tepi api.
Matanya congkak berdiri, tapi luap air menggelamkannya.

Ia menyimpan sejenis tanduk, untuk menusuk doa,
tapi doa bukan sejenis luka.

Ia duduk, dalam surup yang sempurna menerangi kutuk.
Ia hendak menjatuhkan jantung diri ke abu yang sebentar lagi,
menjelma taburan langit dengan hujan yang melebar

Ke daun-daun hati yang unggun

Polarizena 2014



Muhammad Asqalani eNeSTe
kelahiran Huta Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris  Universitas Islam Riau (UIR). Karya-karyanya terbit di laman Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Riau Pos, Batam Pos, Pos Bali, Inilah Bogor, Koran Madura, Koran Riau, Metro Riau, Haluan Riau, Medan Bisnis, dll. Puisinya terangkum dalam sejumlah antologi, seperti Kutukan Negeri Rantau, Purnama Trowulan Majapahit - Mojokerto, Diverse, Negeri Langit, Ayat-Ayat Selat Sakat, Bendera Putih untuk Tuhan, Sepotong Rindu dalam Sarung, dll.  Bukunya yang terbaru Doksologi (Sarbikita, September 2014). Bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Selasa, 13 November 2018 - 16:56 wib

Terkait Kasus Century, Miranda Diperiksa KPK

Selasa, 13 November 2018 - 16:45 wib

Momen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Selasa, 13 November 2018 - 16:30 wib

Sungai Siak dan Burung Serindit Promosikan Riau

Selasa, 13 November 2018 - 16:30 wib

Sungai Siak dan Burung Serindit Promosikan Riau

Follow Us