Oleh: Jarir Amrun

Yok Balek Kampung!

12 Juli 2015 - 09.21 WIB > Dibaca 1438 kali | Komentar
 
Yok Balek Kampung!
Aneh kadang, tapi itulah indahnya Islam di Indonesia. Kalau di belahan dunia Islam lainnya, seperti di wilayah Arab dan lainnya tidak ada. Mudik atau pulang ke udik (kampung) atau balek kampung itu adanya hanya di Indonesia, atau beberapa negara sekitarnya seperti Malaysia, Brunai (dulu disebut dengan wilayah Nusantara), sementara daerah lainnya tidak ada istilah mudik saat hari raya.

Di Arab, hari raya yang besar itu pada saat Idul Adha. Sementara di Indonesia, Malaysia, Brunai (Melayu Serantau), Idul Fitri merupakan hari raya yang sangat besar artinya, yakni hari balek kampung alias mudik.

Istilah mudik, yakni pulang ke udik. Udik adalah kampung yang jauh dari kota. Makanya, orang kota yang mengejek orang kampung baru sampai di kota disebut dengan orang udik (kampungan). Udik merupakan kampung yang betul-betul kampung, jauh dari perkotaan. Penduduknya disebut orang udik alias kampungan. Ketika di mal, harus mengikuti gaya orang kota, nanti bisa disebut orang udik.

Namun istilah udik itu, sekarang berubah menjadi tren. Orang kota yang kaya, saat hari raya Idul Fitri ternyata mereka suka mudik, alias balek ke kampung. Coba tanyakan ke orang kota, ketika hari raya Idul Fitri atau lebaran, mau mudik ke mana Pak? Sekaya apa pun, mereka akan dengan bangga menyatakan kampung halamannya, bagi yang warga Jakarta ada yang menyebutnya mudik ke Solo, Jogja, Medan, Pekanbaru, Padang dan lainnya. Mereka bangga menyebut kampung halamannnya.

Begitu juga saat kita tanyakan kepada penduduk di ibu kota provinsi, seperti Kota Pekanbaru. Tahun ini mau mudik atau balek kampung ke mana? Ada yang menyebut ke Payakumbuh, Solok, Kisaran, Siantar, Kerinci dan beberapa kota di provinsi lainnya. Namun, bukan hanya warga provinsi tetangga yang merantau ke Pekanbaru ini yang ingin balek kampung, warga Siak, Bengkalis, Duri, Dumai, Ujungbatu, Baganbatu, Pelalawan dan lainnya, mereka juga tidak ingin tinggal di Pekanbaru selama hari raya Idul Fitri, sebab orang tua dan sanak keluarga di kampung itu menunggu kehadiran mereka. Walaupun kampungnya ke Mengkopot, Semokot, Meranti Bunting di pedalaman Kepulauan Meranti, mereka lebih memilih balek kampung daripada berlebaran di Kota Pekanbaru. Lebih syadu lebaran di kampung daripada di kota. Bahkan bisa dikatakan, orang yang berhari di Pekanbaru saat malam takbiran, menangis, mengenang emak dan abah di kampung. Sebaliknya orang kampung bergembira -ria menyambut lebaran. Nah di sinilah tak enaknya jadi orang kota. Kasian orang kota tak punya kampung (kata orang udik), tengango di kota yang lengang.

Saat hari raya inilah bangganya jadi orang kampung. Tapi umumnya orang itu ternyata orang kampung. Bahkan sekelas Presiden Soeharto balek kampung ke Jogja, SBY balek kampung ke Pacitan, Gus Dur ke Jombang, Jokowi ke Solo. Begitu juga seorang gubernur, bupati dan pejabat lainnya, umumnya mereka adalah orang kampung. Bahkan umumnya para jenderal itu ternyata orang kampung. Sebab yang bisa tahan banting itu adalah orang kampung, makanya jenderal-jenderal itu yang meniti karirnya dari bawah dan tahan banting itu, adalah orang kampung. Lihat saja Jenderal TB Simatupang dari Siantar, Jenderal Sudirman dari Banyumas (Ngapak), Panglima TNI yang baru dilantik Presiden Jokowi yakni Jenderal Gatot Nurmantyo ternyata kampungnya dari Tegal.

Begitu juga profesor, tidak sedikit mereka berasal dari orang kampung. Di Riau misalnya Rektor Unri Prof Aras Mulyadi DEA, kamungnya dari Simandolak, Kuantan Singingi. Rektor UIN Suska Prof Dr Munzir Hitami dari Rumbio, Kabupaten Kampar dan masih banyak yang lainnya.

Maka banggalah jadi orang kampung atau orang udik. Ternyata orang udik itu yang memimpin negera ini. Pernah suatu hari penulis mengunjungi kampung seorang politisi senior Partai Golkar yakni Burhanuddin Napitupulu. Kampung beliau di Desa Sibulan-Bulan, Kecamatan Purbatua (dulu Kecamatan Pahae Jae), Kabupaten Tarutung, Sumut, ternyata kampungnya benar-benar jauh. Untuk menuju kampung beliau harus melalui jembatan kayu yang melewati Sungai Batang Toru, kondisinya kampung sangat sederhana. Di kampung ini pula lahir Prof Agus Salim Sitompul, yakni penulis buku sejarah HMI. Saya tidak menyangka dari kampung sangat-sangat udik ini lahir politisi senior Golkar dan profesor sejarah.

Di Riau, lihat sendiri kampung Si Sigai, Chaidir, dimana? Yakni Rokan IV Koto. Ihhh, jauh sekali, jalangnya berbukit dan rusak. Saya pernah liputan kemiskinan di sana. Tapi dari kampung yang udik itu, lahir sosok Chadir yang berhasil meraih gelar doktor hewan dari UGM. Memang orang kampung itu banyak yang pintar. Dan saat hari raya (lebaran), mereka mudik alias balek kampung.

Begitu juga mengapa peristiwa hari raya Idul Fitri ini disebut lebaran, berasal dari kata lebar (lapang). Sebab di saat Idul Fitri ini, kita dianjurkan lapang dada, saling bermaaf-maafan. Di Bengkalis, warganya melakukan barakan (keliling mengunjungi tetangga selama bulan Syawal). Nah, ternyata Islam itu indah, kita dianjurkan lapang dada (lebaran).***


Jarir Amrun
Redaktur Pelaksana
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us