Oleh: Khairul Anam

Puisi, Puasa dan Budaya Konsumsi

26 Juli 2015 - 07.50 WIB > Dibaca 1223 kali | Komentar
 
Sekarang adalah masa di mana penyair menulis puisi bukan karena kebutuhan rohani atau jasmani melainkan karena gaya hidup. Dengan aksi ini, penyair berlomba mengejar citra dan popularitas belaka. Padahal kebanyakan dari puisi yang disuguhkan tersebut tidak menampakkan nilai-nilai kemanusiaan atau nilai yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Aktifitas penyair seperti ini lambat laun akan membudaya kemudian merenggut kesadaran penyair sebagai penyambung lidah rakyat.

Bagaimana tidak, puisi diarahkan kepada momentum-momentum saja, agar menjadi penikmat pasif dari momen-momen tersebut. Gelombang penyair seperti ini biasanya sangat peka membaca mementum. Misalnya seperti Bulan Ramadhan yang berlangsung saat ini, hampir seluruh karya sastra di negeri ini, baik itu cerpen, puisi atau pun esai, berlomba-lomba menampilkan muatan religi. Kalau kita lihat dari sudut pandang sosiospiritual, karya-karya seperti ini hadir untuk menawarkan kesejukan rohani pada masyarakat yang tengah dilanda kekeringan spiritual akibat huru-hara kehidupan yang semakin semberawut.

Namun dengan begitu, maka kesusastraan kita akan semakin tidak jelas arahnya. Semua penyair menulis tentang puasa, semua esais menulis tentang hikmah ramadan dan semua cerpenis bercerita tentang ngebuburit dan sebagainya. Budaya seperti ini adalah budaya yang tidak patut untuk dilestarikan. Sebab semua itu hanya akan membunuh kreatifitas penulis dan yang tampak hanya mementingkan bagaimana karya itu di muat dan mendapatkan selamat dari banyak orang karena karyanya terbit di salah satu madia.

Puisi dan Konsumerisme
Maka dengan begitu apa yang dihawatirkan Baudrillard terhadap budaya konsumerisme telah menimpa kalangan penyair. Bagi Baudrillard konsumsi bukan sekedar nafsu untuk membeli begitu banyak komoditas, satu fungsi kenikmatan, satu fungsi individual, pembebasan kebutuhan, pemuasan diri, kekayaan atau konsumsi objek. Namun lebih jauh lagi, konsumsi merupakan suatu struktur atau fakta sosial yang bersifat eksternal dan bersifat memaksa individu.
 
Jadi manusia dipaksa untuk menkonsumsi tanpa henti, secara rakus dan serakah. Konsumsi yang dilakukan tidak memberikan kepuasan, dan justru yang terjadi adalah manusia senantiasa merasa haus untuk membeli produk-produk baru yang disuguhkan oleh para produsen. Begitu juga dengan puisi pada era sekarang, semua penyair dituntut untuk terus menyesuaikan diri dengan mementum, sehingga dapat dikonsumsi oleh media cetak yang merasa haus akan tema-tema yang lagi asyik diperbincangkan publik.  

Kemudian, aktifitas konsumsi merupakan aktifitas yang wajib dilakukan. Hal itu bisa dilihat dari semakin banyaknya jumlah permintaan akan suatu barang konsumsi dibandingkan dengan jumlah penawaran yang ada. Semakin hari sikap konsumtif manusia Indonesia semakin memprihatinkan dan semakin tak terkendali. Apapun yang bisa dibeli maka akan dibeli, tak peduli mereka butuh atau tidak pada barang tersebut.

Lebih jauh lagi, aktifitas konsumsi ini telah menjadi salah satu medium menuju ekspresi eksistensial; aku belanja maka aku ada. Ya, itulah mungkin ungkapan yang tepat dalam melihat realitas budaya konsumerisme di Indonesia. Hal ini bisa kita lihat di pusat-pusat perbelanjaan. Mall, misalnya, selalu dipenuhi dengan  orang-orang belanja. Dengan hadirnya bulan puasa maka semua orang semakin menjadi-jadi.

Hal ini terutama terjadi pada masyarakat perkotaan dengan gaya hidup metropolisnya, para elit politik dengan fasilitas mewahnya, kemudian para artis yang senantiasa mempertontonkan seputar kehidupan mereka yang mewah dengan baju kokonya, krudung yang penuh dengan lipatan-lipatan, mobil mewah dengan logo Marhaban Ya Ramadhan, dan lain sebagainya.

Dari fenomena tersebut, bisa kita lihat bahwa ada pergeseran paradigma di sana. Pergeseran paradigma ini ditandai dengan beralihnya adagium konsumsi menuju ekspresi eksistensial, dari produksi dan distribusi barang-barang, serta jasa sebagai jalan manusia untuk mengembangkan eksistensinya. Lantas yang menjadi masalah adalah mewabahnya budaya konsumsi ini pada para penyair, hingga ketika bulan Ramadhan datang, tiba-tiba tema puisi yang mereka tulis menjadi sangat religius dan bahkan lebih religius dari orangnya.

Dengan kata lain, identitas penyair dipengaruhi oleh faktor produksi manusia: menuju aktifitas konsumsi. Secara tidak langsung penyair dikontrol oleh aktifitas konsumsif. Penyair senantiasa terlempar pada keterlimpahan komoditas di sekitarnya, mau tidak mau penyair akan terbawa oleh arus yang mengarahkan mereka pada gaya konsumtif ini. Lantas di manakah eksistensi puisi jika semua aktifitas penyair dikontrol oleh aktifitas konsumsi? Padamu aku bertanya.***



Khairul Anam,
Aktif  di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us