Oleh: Ranto Napitupulu

Melihat Chairil Anwar dalam Rekayasa Imajinasi

26 Juli 2015 - 07.50 WIB > Dibaca 852 kali | Komentar
 
DI Kota Batavia sebelum Indonesia merdeka, seorang lelaki bertubuh kurus, berambut ikal lebat, wajahnya sedikit cekung, berusia sekitar 18 tahun, berjalan membelah terik matahari. Matahari pada siang itu, sedang memanggang rimba di tengah kota, yang kemudian menjadi rimba bagi hidup lelaki bernama Chairil Anwar itu.

Ia datang dari Medan, Sumatera bersama ibunya. Meski ia anak seorang ayah yang pernah menjadi petinggi di Kenagarian Indragiri, Riau, entah mengapa, ia hanya berlatar belakang pendidikan yang tidak seberapa, tidak tamat MULO. Di Batavia, ia mencari jati dirinya; menggenapi janji pada hatinya, yang ia buat sedari berusia 15 tahun. Ia tidak mau menghianati suara-suara yang memanggil dari dalam jiwanya.

Meski hidup jauh dari mapan (yang kemudian ia sebut hanya menunda kekalahan), malahan mungkin dapat disebut terlunta-lunta dan sakit-sakitan, sehingga ia sendiri kemudian berkata dalam sajak Aku: Aku ini binatang jalang/ Dari kumpulanya terbuang/, ia berkarya dan berkarya. Ia terus belajar; membaca dan membaca, ia pinjam buku dari perpustakaan pribadi H.B. Jassin. Chairil tidak mau terkungkung oleh jam kantor, meski sesungguhnya ia punya kemampuan (terutama dalam hal bahasa; Inggris, Belanda dan Jerman) untuk bekerja kantoran.

Hidup di Batavia pada masa Chairil mengarungi hidupnya, boleh jadi adalah gampang-gampang susah. Artinya, tidak seganas kini. Rasa kekeluargaan masih terjungjung, dan kepada kawan masih belum terlalu berhitung. Tetapi tentu saja, situasi seperti itu, hidup jauh dari mapan, malahan mungkin dapat disebut terlunta-lunta dan sakit-sakitan, logikanya tidaklah mungkin memiliki ruang dan waktu untuk menjawab suara-suara yang datang dari dalam jiwanya.

Tetapi itulah Chairil Anwar. Setelah sajak Nisan yang ia tulis tahun 1942, karya-karyanya terus lahir dan lahir. Hingga akhir hayatnya pada 28 April 1949, penyair pelopor Angkatan 45 yang lahir di Medan pada 26 Juli 1922 itu, tidak pernah berhenti membuat karya sastra. Tahun 1949, tahun perjalanannya menuju Karet yang ia sebut sebagai daerahku y.a.d dalam Yang Terampas dan Yang Putus, ia masih menulis beberapa sajak, termasuk sajak Yang Terampas dan Yang Putus. Andai saja ia lebih lama hidup, sudah barangtentu ia akan menulis (lagi) ratusan karya sastra, juga sajak yang lebih bernas; sajak-sajak yang sebenarnya, bukan hanya percobaan kiasan-kiasan baru, (seperti ia tulis dalam suratnya kepada H.B. Jassin).

Melihat Chairil Anwar lewat puluhan bahkan mungkin ratusan bibliografi yang ditulis di berbagai media cetak dalam bahasa Indonesia maupun bahasa asing, atau lewat rekayasa imajinasi, yang tampak adalah bara api yang tidak pernah padam dalam dirinya, yang selalu menyalakan keinginan-keinginannya untuk melahirkan karya-karya sastra yang bernas, juga sajak yang sebenarnya sajak. Chairil Anwar tidak pernah merasa sempurna dalam menulis sajaknya, sehingga ia selalu berusaha untuk melahirkan karya-karya yang sempurna. Meski ia telah mencipta sajak yang menurut H.B. Jassin cukup bernas, ia tetap belum puas.

Ini terlihat dari isi salah satu suratnya kepada H.B. Jassin yang berbunyi begini: Jassin, begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak keperwiraan seperti Diponegoro tidak lagi. Menurut oom-ku, sajak itu pun tidak baik. Lagi pula dengan keritik yang agak tajam sedikit, hanya beberapa sajak saja yang bisa melewati timbangan. Tetapi kau tahu, apa yang kuketemui dalam meneropong jiwa sendiri? Bahwa dari sajak-sajak bermula hingga penghabisan belum ada garis nyata lagi yang bisa dipegang. Jassin! Aku mulai dengan 10 15 sajak-sajak yang penghabisan di antara ada juga yang tidak bisa diterima sebagai sajak. Kita ketemu lagi, (Chairil Anwar, Aku Ini Binatang Jalang, 2005 hal 96).

Dalam rekayasa imajinasi, atau mungkin sebenarnya demikian adanya, pada tahun 1949, dalam keadaan sakit-sakitan dan tak terurus, Chairil Anwar mengembara di ujung belantara kehidupannya, lalu ia menuliskan sajak Derai-Derai Cemara, yang oleh sastrawan Supardi Djoko Damono disebut sebagai sikap hidup yang matang dan mengendap, sekaligus merupakan kesimpulan yang diutarakan dengan sikap yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia.

Cemara menderai sampai jauh/ terasa hari jadi akan malam/ ada beberapa dahan di tingkap merapuh/ dipukul angin yang terpendam// aku sekarang orangnya bisa tahan/ sudah berapa waktu bukan kanak lagi/ tapi dulu memang ada suatu bahan/ yang bukan dasar perhitungan kini// hidup hanya menunda kekalahan/ tambah terasing dari cinta sekolah rendah/ dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/ sebelum pada akhirnya kita menyerah//, demikian Chairil menuliskan sajak itu.

Hemat saya, yang tampak sesungguhnya bukanlah sekadar sikap hidup yang matang dan mengendap, tetapi adalah proses hidup berkesenian dan hidup pribadi Chairil Anwar secara utuh; pergumulan batin sebagai seniman, menghadapi konflik batin sebagai manusia biasa dan bagian dari satu keluarga.

Chairil tidak bisa mengelak dari proses hidup itu. Jika ia menuliskan aku mau hidup seribu tahun lagi pada baris terakhir sajak AKU, bukanlah sebagai tanda kealpaannya pada kodrat, tetapi boleh dibaca dan ditafsirkan sebagai ungkapan keinginan dan semangatnya dalam berkarya. Ia ingin terus berkarya, hingga lama. Perihal kodrat, ia tetap ingat, bahwa pada waktunya ia harus pulang kepada sang khalik. Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang, tulisnya dalam sajak Yang Terampas Dan Yang Putus.

Suatu waktu, di tahun 1949, lelaki bernama Chairil Anwar yang sakit-sakitan itu, bertemu dengan seorang lelaki yang sudah lama menaruh harapan besar akan bertemu dengannya. Ia bertemu dengan lelaki itu di kantor surat kabar Pedoman, tempat Rosihan Anwar bekerja. Nama lelaki itu Sitor Situmorang (1924-2014), juga seorang lelaki yang pada masa itu semangatnya tengah menyala-nyala untuk berkarya di ranah kesusasteraan dan jurnalistik. Pertemuan itu berlangsung akrab, karena Chairil sudah mengenal lebih dulu Sitor dari resensinya atas kumpulan sajak Gema Tanah Air susunan H.B. Jassin.

Di kemudian hari, di dalam otobiografinya, Sitor Situmorang mengaku telah lama mengagumi Chairil, sejak ia masih di Sumatera. Kata Sitor, Chairil adalah seniman terbesar Angkatan 45. Senada dengan itu, seorang Wing Kardjo juga menuliskan dalam tesisnya Sitor Situmorang: La Vie et Loeuvre dun Puete Indonesia (1981) bahwa Chairil tidak mati-mati dalam diri dan sajak-sajak Sitor. Sajak-sajak pertama Sitor sangat dekat dengan pengucapan dan gaya Chairil. (Sitor Situmorang; Biografi Pendek 1924-2014, hal 20).

Ketika kita mencoba melihat Chairil Anwar, sebaiknya, yang hendak kita lihat janganlah semata-mata hidup yang dialaminya karena berkesenian; tidak memiliki pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, tidak mau mengurus diri sehingga menjadi penyakitan dan akhirnya mati muda. Tetapi hendaklah yang utama kita lihat, proses berkaryanya hingga melahirkan karya-karya yang bernas.

Melihat Chairil Anwar dalam catatan sejarah kesusasteraan kita, atau dalam rekayasa imajinasi sekalipun, kita telah tidak sekadar memberi apresiasi kepada karya-karyanya, tetapi telah pula melihat kemajuan apa yang telah dicapai oleh puisi kita; puisi Indonesia.***

Ranto Napitupulu,
peminat sastra, tinggal di Desa Tualang, Kab. Siak, Riau.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us