Oleh: Musa Ismail

Daghe Surge

26 Juli 2015 - 07.51 WIB > Dibaca 1271 kali | Komentar
 
Menunggu Hari  Raya, menantang kemarau, menanti kesejukan hujan di penghujung Ramadan. Hampir semua orang mendadak alim. Ramadan datang penuh energi.  Tapi, ... beginilah kepedihan.

Cik,  Mimi dapat jemputan, suara terbata-bata,  mata berkaca-kaca. Lesu.

Jemputan ke mana?  Ke hulu atau hilir?  Pak Cik merasakan tanda-tanda. Matanya juga  berkaca-kaca. Lemah.

Ke hulu,  Cik. Itu ada dua orang yang menjemput Mimi. Mereka berpakaian serba putih. Mereka senyum,  Cik. Mimi mau ikut mereka ya? Orang itu mengajak Mimi. Mimi sudah siap. Kalau Mimi pergi ke hulu nanti,  Cik jangan bersedih. Yang mengajak Mimi,  orang baik-baik. Dara itu tergeletak di lece sambil tersenyum memandangi Asrizal,  Pak Ciknya. Lelaki berusia kepala tiga itu membalas dengan senyuman pahit. Kepahitan itu begitu jelas di balik air mukanya yang iba. Kepahitan dan kehidupan ibarat pinang dibelah dua.

***

Di luar,  udara dingin pagi sangat segar. Setiap pagi,  udara segar yang masuk melalui tingkap itulah biasa dihirup Mimi. Kesegaran udara begini selalu menjadi dambaan siapa pun. Tentu hanya lingkungan asri yang bisa menghadirkan suasana nyaman. Aroma pepohonan getah di sekitar rumah inilah yang menyemarakkan suasana segar. Nenek Mimi atau emak Asrizal,  Hamidah,  setiap hari menoreh pepohonan getah itu sebagai sandaran hidup mereka. Meskipun harga karet melorot, nenek Mimi dan warga kampung Temeran tetap menyandarkan nafkah mereka pada pepohonan penghasil karet itu, termasuk kedua orang tuanya.

Hati-hati, Mimi sayang. Awas tersandung, seru Maryani agak khawatir. Emaknya itu sangat perhatian padanya yang ketika itu baru beranjak 4 tahun. Sejak berusia beberapa bulan, Mimi tak lagi memperoleh kasih sayang dari ayah. Ayahnya sudah bercerai dengan emaknya dan pindah ke kota lain, sekitar 500 km ke arah utara.

Iya,  Mak. Mimi hanya berlari pelan-pelan, sahutnya tersendat-sendat dan agak pelat. Terkadang, anak itu memetik pucuk paku buat main masak-masakan bersama kawan-kawannya. Maryani terus saja berpindah dari satu pohon getah ke pohon getah lainnya. Matanya terbagi dua. Sebagian dia mengawasi buah hatinya dan sebagian lagi mengawai pelan pada pohon getah yang ditorehnya. Melalui pepohonan getah itulah Allah Taala mengalirkan rezeki buat mereka. Pepohonan getah itu bukan miliknya,  tetapi milik emaknya,  Mak Siti,  nenek Mimi, yang sudah sebatang kara.

Anak seusia Mimi tidak seharusnya setiap pagi berada di pepohonan getah. Kenyataan hidup tidak bisa dielakkan,  tetapi mesti dijalani dengan keikhlasan dan siasat. Maryani terpaksa membawa Mimi di kebun getah demi mengais rezeki. Untungnya,  saat ini harga getah mencapai Rp11.000/kg. Maryani bertekat bekerja sekuat tenaga untuk mengumpulkan rupiah demi dirinya dan Mimi, terutama demi masa depan anaknya itu.  Maryani tentu tak mau nasib Mimi seperti nasib dirinya saat ini. Mimi harus punya masa depan yang cerah. Mimi harus menjadi dara yang berpendidikan,  begitu Maryani berpikir di sela-sela pohon getah.

Mar,  jangan kaubawa Mimi sering-sering ke kebun. Kasihan dia masih kecil. Tinggalkan saja dengan Emak di rumah. Biar Emak yang menjaganya, Mak Siti merasa sangat khawatir dengan cucunya. Salah satu wujud kasih sayang.

Kalau gitu,  baiklah Mak.

Pagi ini,  Mimi mulai dijaga neneknya. Dara kecil itu tidak lagi ikut emaknya ke kebun karet. Maryani lebih leluasa menoreh pepohonan karet. Meskipun terpikirkan Mimi,  tetapi perasaannya lebih nyaman. Keselamatan anaknya tentu lebih terjaga jika dibandingkan dengan keadaan sebelum ini. Begitulah hati seorang ibu terhadap anaknya. Kasih ibu bagai lautan tak bertepi. Gigitan nyamuk dan miang semak-semak tak sanggup mematahkan kasih sayang Maryani. Saat ini,  janda itu hidup hanya untuk Mimi di balik kelebat pepohonan getah.  Sekitar pukul 06.00, Maryani memotong karet hingga pukul 10.00. Kemudian,  dia langsung mengambil Mimi dan membawa pulang.

Mimi baik-baik saja, tak perlu khawatir, Mak Siti meyakinkan anaknya. Maryani tersenyum sambil menggendong Mimi dengan sepenuh hati.

Besok Mar titip Mimi lagi,  Mak.

Kalau itu,  tak perlu kaucakap lagi. Mak dengan senang hati akan menjaga Mimi.

***

Mar, Mak menyuruhmu pulang sekarang, seseorang dengan napas terengah-engah menyampaikan pesan Mak Siti.

Ya,  sekejap lagi aku pulang.

Sekarang,  Mar,  sekarang.

Ada apa. Masih ada separuh lagi pohon getah ni.

Anakmu sakit.

Maryani bagai kesurupan. Dia berlari melapah semak menuju rumah. Pembawa pesan itu hanya termangu memandang Maryani yang meluru pulang. Sedikit pun dia tak memandang kiri-kanan atau ke belakang. Di pikirannya,  cuma Mimi. Apa gerangan yang terjadi pada Mimi? Maryani  bagai bersayap. Kakinya ibarat tumbuhan yang merambat hidup memenuhi jalan setapak. Sedikit pun perempuan itu tak ragu melapah semak. Selain sudah hafal dengan liku-liku jalan ke kebun getah itu,  wajah Mimi-lah yang menjadikannya ingin bergegas tiba di rumah.

Mimi..., Mimi,...bangun, Mak Siti bagai kehabisan suara. Terkadang dia meracau.

Maryani terbang. Dia langsung memapah Mimi yang kejang-kejang. Mulutnya tak bersuara. Hanya buih yang meleleh. Matanya,  ya Rabbi,  matanya terbeliak. Di dada Maryani seperti ada belati yang menghunjam dalam. Dia bagaikan kehilangan akal ketika memandang Mimi dalam keadaan berbusa di mulutnya. Mimi terkulai. Buih itu masih saja meleleh. Semakin lemah. Semakin tak bertenaga.

Ijal, bantu Kakak. Kita bawa Mimi ke dokter, mata Maryani tak henti-hentinya mengeluarkan air bagai mata air perigi di belakang rumahnya. Ijal,  tepatnya Asrizal,  bergegas menghidupkan motornya.  Sekitar 20 menit,  mereka sampai di Bengkalis,  di rumah praktik dr. Rama, dokter spesialis anak. Bagi Maryani,  waktu dalam perjalanan itu seperti melewati bara-bara neraka. Dengan tangis yang belum berhenti dan cemas yang mengganas,  Maryani dan Ijal bergegas menggendong Mimi ke ruang dokter tanpa antrean. Untung pasien yang lain memakluminya.

Dok,  tolong anak saya, Maryani masih panik.

Sudah berapa kali begini?

Baru ini,  Dok.

Epilepsi. Anak Ibu mengidap epilepsi.

Apa itu,  Dok?

Ayan. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa pun walaupun dari garis keturunan tidak ada yang pernah mengalami epilepsi ini. Akan tetapi penyakit epilepsi tidak dapat menular ke orang lain karena penyakit ini hanya merupakan gangguan otak yang tidak dipicu oleh suatu kuman dan virus serta bakteri jahat

Apa bisa disembuhkan?

Penyakit ini tidak seperti penyakit lain yang dapat disembuhkan dalam jangka waktu tertentu dengan sempurna. Seorang penderita penyakit epilepsi harus menjalani hidup yang sehat dan teratur, selalu memiliki padangan yang positif, adanya dukungan dari keluarga dan lingkungan.

Maryani masih terisak. Berbahaya,  Dok?

Maaf,  Bu. Epilepsi mempengaruhi otak anak. Penyakit ini mengganggu neurologis yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang dan ditandai dengan adanya serangan-serangan epileptik. Anak akan mengalami gangguan berbahasa dan kemampuan verbal, kemampuan mengenal dan mengingat apa yang didengar, mengeja, membaca, berbicara, kemampuan berhitung, dan kemampuan bidang matematik. Bahkan,  bisa lumpuh, suara dokter itu terdengar sangat hati-hati.

Masya Allah,  subhanallah,  innalillah,  suara Maryani panik. Ruang praktik dokter dan sekitarnya berubah semakin pekat. Mata Maryani lekat ke arah anaknya yang tergeletak di pembaringan pasien.

Bersabar lebih baik,  Kak, Asrizal membujuk Maryani. Kita rawat Mimi baik-baik, berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya.

Sepanjang jalan pulang bagai bentangan neraka. Maryani terus menumpahkan air mata.

Sebulan setelah kejadian itu,  Mimi semakin sering diserang ayan. Cobaan pun bertambah berat. Kini,  Mimi hanya bisa terbaring di tilam.

Mak,  mengapa Mimi tak bisa berdiri?  Wajah anak itu muram.

Maryani hanya terdiam dalam tangisnya yang dalam.

Pepohonan getah juga diam bersedih. Maryani tak lagi bersemangat menoreh. Semak-semak mulai menghantui pepohonan itu. Air matanya terus saja meleleh ketika memandang Mimi yang tergolek lemas di lece.

Sudahlah,  Mar. Terima saja takdir ini. Kita doakan saja agar Mimi dilindungi Allah taala, Mak Siti menepuk pundak anaknya. Pelan.

Apa dosa Mar,  Mak, Maryani seperti kecewa.

***

Beginilah kepedihan datang,  seperti kebahagiaan juga.

Mak,  maafkan Mar. Mar terpaksa pergi ikut suami. Tolong jaga Mimi, begitulah tulisan disecarik kertas. Tulisan berbekas tetesan air mata itu terletak di samping Mimi. Tanpa sadar,  mata Mak Siti mengeluarkan air karena ada sebak di hatinya. Sesak yang amat berat.   Setelah menikah lagi sebulan lalu,  perhatian Mar jadi tawar terhadap Mimi. Abah tiri Mimi memperparah tawarnya perhatian itu sehingga menjadi pahit,  semakin pahit. Abah tiri anak malang itu tak mau menanggung dan merawatnya.

Sudah 9 tahun. Mimi diasuh nenek dan Pakciknya, Ijal.

Mengapa Emak tak menjenguk Mimi,  Nek? Pakcik,  Emak ke mana? Apakah Emak tak sayang lagi dengan Mimi. Rasanya rindu dengan pelukan Emak, suara dara itu terbata-bata. Nenek dan Pakciknya hanya bisa terisak pelan. Dari tingkap, hujan renyai membingkai  bagai terali-terali kecil.

Mimi, di sini ada Nenek dan Pakcik. Nenek dan Pakcik tetap akan menyayangi Mimi, Ijal mencoba membuyarkan kerinduan Mimi. Dasar perempuan tak tahu diri. Tak bertanggung jawab. Tak patut disebut Emak oleh anaknya, Ijal menggerutu pelan. Tangannya mengusap kepala Mimi dengan lembut.

Hari-hari yang dilalui Mimi terasa lambat sekali. Siang dan malamnya hanya terbaring di lece.  Sudah sekitar 5 tahun terakhir,  lumpuh menggerogoti motoriknya.  Dia lumpuh. Dara itu tak lagi bisa melakukan apapun. Dia laksana indap-indap. Dia adalah dara yang terbang membawa cahaya yang indah dan sejuk dipandang. Berkelap-kelip bagai bintang di angkasa.  Sejak Ramadan tiba,  Mimi selalu tersenyum. Hingga di penghujung Ramadan ini pun,  senyum Mimi senantiasa mengembang bagai bunga-bunga di musim penghujan.

Ya Rabb,  Mimi selalu rindu Ramadan.  Mimi juga rindu Emak. Semoga Emak pulang menjelang Idul Fitri. Ya Rabb,  aku ingin menjadi perempuan suci, kalimat doa itu berulang-ulang diucapkannya. Meskipun keinginan melepaskan rindu kepada Emaknya belum tercapai selama sepuluh tahun,  Mimi tetap saja berdoa. Ya,  apa perasaan kita jika Emak yang masih hidup,  tetapi tak pernah lagi menjenguk kita? Perasaan itulah yang terus menghenyak sisi-sisi kehidupan Mimi.

***

Ramadan datang penuh energi. Kini, Ramadan  akan pergi. Tapi, ... beginilah kepedihan.

Cik,  Mimi dapat jemputan, suara terbata-bata,  mata berkaca-kaca. Lesu.

Jemputan ke mana?  Ke hulu atau hilir?  Pak Cik merasakan tanda-tanda. Matanya juga  berkaca-kaca. Lemah.

Ke hulu,  Cik. Itu ada dua orang yang menjemput Mimi. Mereka berpakaian serba putih. Mereka senyum,  Cik. Mimi mau ikut mereka ya? Orang itu mengajak Mimi. Mimi sudah siap. Kalau Mimi pergi ke hulu nanti,  Cik jangan bersedih. Yang mengajak Mimi,  orang baik-baik. Dara itu tergeletak di lece sambil tersenyum memandangi Asrizal,  Pak Ciknya. Lelaki berusia kepala tiga itu membalas dengan senyuman pahit. Kepahitan itu begitu jelas di balik air mukanya yang iba. Tiba-tiba saja air mata Pakciknya membungkam suasana. Begitulah kepedihan.***


Musa Ismail
Penulis adalah guru di SMAN 3 Bengkalis.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 wib

1250Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Follow Us