Oleh: Raja Saleh

Poli

26 Juli 2015 - 07.53 WIB > Dibaca 3303 kali | Komentar
 
Poli
Raja Saleh
Tulisan sederhana ini terinspirasi dari kekalahan yang diderita tim voli Indonesia dari Thailand, Minggu, 15 Juni 2015 pada perhelatan Sea Games 2015 di Singapura. Namun, sebenarnya tidak ada hubungan apa pun antara tulisan ini dengan tim voli Indonesia. Hanya terngiang dalam ingatan, ketika berucap voli, terbayang kata “poli”.

Mengapa kata “poli” memiliki banyak makna? Tak hanya itu, kita sering dengar kata “poligami”, “poligini”, “poliandri”, dan sebagainya.

Dalam KBBI, “poli” berarti bentuk terikat banyak. “Poligami memiliki makna sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki atau mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang bersamaan. “Poligini” berarti sistem perkawinan yang membolehkan seorang pria memiliki beberapa wanita sebagai istrinya dalam waktu yang bersamaan. “Poliandri” adalah sistem perkawinan yang membolehkan seorang wanita mempunyai suami lebih dari satu orang dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian, masih kata “poli” sebagai bentuk terikat banyak, juga ada kata “polisemi” yang berarti bentuk bahasa (kata, frasa, dan sebagainya) yang mempunyai makna lebih dari satu. Selain itu, juga ada kata “politeknik” yang menurut KBBI berarti hal-hal yang besangkutan dengan pengajaran keterampilan dan ilmu-ilmu terapan. Artinya, “politeknik” merupakan lembaga pendidikan yang menyediakan berbagai jurusan teknik, misalnya teknik mesin, teknik elektronika, teknik informatik, dan sebagainya. Itulah definisi dan contoh-contoh penggunaan kata “poli”sebagai bentuk terikat banyak.

Ketika berkunjung ke rumah sakit, kita juga akan melihat tulisan “poli anak”, “poli gigi”, “poli mata”, dan sebagainya. Tulisan-tulisan tersebut biasanya terpampang di atas pintu masuk ke ruangan periksa dokter. Kata “poli” yang dimaksudkan di sini tidak diartikan sama dengan yang diuraikan pada paragraf sebelumnya. “Poli anak” di sini bukan berarti banyak anak, banyak gigi, dan banyak mata, tetapi “poli anak” adalah bagian dari rumah sakit atau klinik yang dikhususkan untuk tempat berobat anak. “Poli gigi” adalah bagian dari rumah sakit atau klinik yang dikhususkan untuk tempat berobat gigi. Begitu juga “poli mata” adalah bagian dari rumah sakit atau klinik yang dikhususkan untuk tempat berobat mata. Jadi, “poli” pada “poligami”, “poligini”, dan “poliandri” berbeda makna dengan “poli” pada “poli anak”, “poli gigi”, dan “poli mata”.    

Kata “poli” juga ditemukan pada kata “politikus”. “Poli” pada kata “politikus” juga tidak bermakna banyak dan juga tidak berarti tempat. “Poli” di sini bukanlah bermakna banyak tikus dan bukan juga berarti tempat tikus. Kata “politikus” dalam istilah linguistik adalah kata yang mengalami infleksi, yaitu perubahan sebuah kata ke dalam kategori-kategori morfologis dan gramatikal yang berdampak pada perubahan fungsi dan bahkan cakupan maknanya. Jadi, “politikus” sudah memiliki makna sendiri. Dalam KBBI dapat kita lihat, bahwa “politikus” adalah ahli politik; ahli kenegaraan, arti lainnya adalah orang-orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Walaupun politikus sering dimaknai negatif sebagai orang yang berpolitik ala tikus (binatang pengerat). Hal itu adalah sesuatu yang salah. Sesungguhnya politikus adalah referensi unsur infleksi, dalam hal ini adalah unsur jumlah. “Politikus” adalah bentuk tunggalnya, dan “politisi” adalah bentuk jamaknya. Hal ini sama dengan “alumnus” (tunggal), “alumni” (jamak), “datum” (tunggal), “data” (jamak), “musikus” (tunggal), “musisi” (jamak), dan sebagainya.

 Kembali kepada makna kata “poli”, dari tiga contoh penggunaan kata “poli” yang telah diuraikan, “poli” memiliki makna yang beragam. Pertama, “poli” yang bermakna bentuk terikat banyak (poligami, poliagini, poliandri), kedua, “poli” yang bermakna sebagai tempat (poli anak, poli gigi, poli mata), kemudian “poli” dalam politikus yang mengalami unsur infleksi.

Merujuk kepada contoh pertama, kata “poli” sebenarnya adalah kata turunan yang dibentuk dengan cara menggabungkan kata asal dengan bentuk terikat. Hal ini juga terlihat dari cara penulisannya, kata “poli” tidak dipisahkan dan tidak diberi tanda hubung (-) dengan kata asalnya. Pada contoh tersebut, penulisan “poli” digabungkan dengan gami, gini, andri, semi, dan teknik. Jadi, “poli” di sini sama fungsinya dengan pasca (pascasarjana, pasca panen), pra (praperadilan, prasekolah, prakata) non (nonaktif, nonpendas, nonreguler), multi (multiguna, multitafsir, multidimensi), swa (swasembada, swakelola, swadaya), adi (adikuasa, adidaya, adipura), dan sebagainya.  

Pada contoh kedua, yaitu tulisan “poli anak”, “poli gigi”, “poli mata” yang terpampang di rumah sakit dan klinik pengobatan, merupakan contoh yang salah dan mungkin tidak kita disadari. Seharusnya, ditulis dengan “klinik anak”, “klinik gigi”, dan “klinik mata”. Kesalahan ini diduga akibat dari pengguna hanya mencontoh penggunaan kata poli pada kata “poliklinik”. Namun, mungkin karena kata “poli” dan kata yang mengikutinya (anak, gigi, mata, dan sebagainya) jika dipisahkan masih memiliki arti, maka penulisan “poli anak”, “poli gigi”, “poli mata” dan sebagainya dipisahkan. Inilah kesalahan berbahasa yang dilihat oleh banyak orang setiap hari, karena rumah sakit merupakan tempat yang banyak pengunjungnya, dan itu terpampang di pintu masuk ruang periksa dokter yang tentu saja orang yang berpendidikan tinggi.  

Sedangkan pada contoh ketiga, yaitu penggunaan kata “politikus”, hal ini merupakan opini masyarakat yang sudah menilai buruk terhadap orang yang berkecimpung dalam bidang politik. Sebenarnya, tentu masih ada politikus yang betul-betul membela kepentingan rakyat, tidak seperti politikus yang ada dalam pikiran banyak orang. Secara definisi dalam KBBI pun “politikus” memiliki arti yang positif. Mungkin juga, karena kata “poli” di sini bergabung dengan kata “tikus”, jadi penggunaan kata “tikus” membantu memperkuat opini masyarakat bahwa politikus itu adalah orang yang berpolitik dan hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok serta menggorogoti uang rakyat. Diketahui bahwa tikus adalah binatang pengerat yang sering dilambangkan untuk sang koruptor, dan korupsi banyak yang dilakukan oleh orang-orang di partai politik, tetapi tentu bukan hanya politikus yang melakukan korupsi.***  


Raja Saleh
Pegawai (Fungsional Peneliti) Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us