Sajak-sajak Marsten L. Tarigan

26 Juli 2015 - 07.58 WIB > Dibaca 1376 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Marsten L. Tarigan
Marsten L. Tarigan
Episode: Sebuah Persinggahan

Aku mencari hujan, prajurit awan
yang memecah pertemuan jadi ciuman,
kuasa Tuhan yang berkali-kali dirahasiakan,
membungkusnya dalam nuansa firman.
Di sini kukecup cinta yang kekeringan,
rembulan buta yang tersungkur dalam luka.
Mereka butuh hujan.

Aku mengembara kembali
melintasi padang alang-alang origami,
dan di antara misteri-misteri melankolia,
kupunguti usia manusia selagi belia.
Kini aku menujumu
seperti membicarakan kesempatan
yang tidak datang dua kali
dalam sebuah labirin
dari suara pagi.

Di sekali persinggahan,
dengan payah kutuliskan sajak
tentang sebuah perjalanan.
Mungkin harus kurumus lagi yang kucari,
mendulang ulang yang ingin kunikmati.
Barangkali sesuatu yang bisa
kulakukan berulang-ulang,
semisal memelukmu
hanya di sela-sela kata.

Ketika sesaat lagi aku tiba, dengan mistis
malaikat menampakkan dirinya dan berkata,
duduklah di sini, karangan bunga ini dari kekasihmu.
Sejak saat itu pula hatiku dipenuhi hujan,
sesuatu yang kucari selama ini
meski seringkali dengan cobaan
cara Tuhan menuntun.

Kandang Singa, 2014



Laba-laba dalam Rumah

Jantung laba-laba itu
telah kutebang dari tubuhnya,
dari kasau-kasau rumahku.
Meski setiap kali mereka terjatuh,
masih juga kutemukan panggilan kecil
dari arah ranjang kalbuku.
Entah bagaimana harus kuukirkan suara itu,
mungkin seperti ketukan kaki kijang
atau semestinya segambar deru ombak
di dinding-dinding ruang tamuku.

Di situ kutemukan anak-anak
yang menujum bapaknya sendiri,
kemudian ia menjelma laba-laba
dan masuk ke dalam lorong-lorong apak
membangun lapang sepetak
tempat diri merasa berkuasa.

Lapang itu jaring yang menangkap semua suara
: sekedar lewat atau singgah karena berdarah.
Tapi panggilan dari ranjang kalbu
masih saja berhasil mengelabuiku,
laba-laba serta jaringnya
melulu saja tumbuh kembali.

Rumah ini seakan memusuhiku.
sementara di tubuhnya ada sesuatu
yang berusaha kuredam dan kubersihkan,
namun yang kutemui hanyalah kesunyian
dalam setiap pengulangan barangkali kehampaan.

Kandang Singa, 2014



Nurani Seorang Serdadu

Aku terus berlari dengan nurani
meski lidah ini mulai retas kecil-kecil.
Segalanya kian mengabur dalam mataku
bersama dengan datangnya angan-angan
yang telah lama tak kembali dalam ingatan.
Masih adakah alasan agar aku tak perlu sembunyi
dari kata-kata yang bangkit dari pembatas buku
serta wajah yang terletak dekat gelas-gelas?

Disana ada kesepian yang mengikutiku
dengan topeng di tangan kanannya
mengenakan baju yang perlahan memanjang
sedikit demi sedikit dalam setiap gerakannya,
lentur seperti alang-alang yang tumbuh di dadaku
: sesuatu yang belum seorangpun mengakuinya
sebagai rumah tempat berbahagia
atau anak yang durhaka.    

Katanya aku bukanlah seorang serdadu,
tetapi keraguan yang menyerahkan diri
pada sebuah keheningan perjalanan,
pagi hari yang berlari entah kemana.
Tak mampu kubayangkan
dengan apa aku melihat.
alang-alang yang tak bersuara itu,
tari-tari yang tak pernah berhenti
menjadi tali dan puisi.

Kandang Singa, 2014



Kepulaga

Entah dari mana datangnya angin ini,
menghalau perahu, membawa kepulaga
bagi penduduk sekitar pesisir.
Mereka meraba kenisbian semesta
mengukur tingginya mercusuar
seperti menanjaki pohon kaliki
menuju langit yang diduga asin rasanya.

Saban hari semua orang di sini
mengangkat kaki tinggi-tinggi
meninggalkan anak-anaknya
dalam kurung-kurungan kayu
sementara mereka terus berjibaku
dengan kaku langkah sendiri.

Barangkali di atas hunian yang buta ini,
akan kami temukan bulatan-bulatan baja
pengganti kepulaga bagi peperangan iman
atau dongeng-dongengan yang sejak bayi
membenturi kepala mereka,
berusaha menyapu duka luka mereka.

Begitu juga tangis bayi-bayi
hanyut terbawa perahu bersama kepulaga,
ditelan merahnya karang terbalik
dan orang-orang makin merinding,
terus pula meninggi di gigir binara hari.

Kandang Singa, 2013



Monodi Pulang

Ketika suara-suara kucipta dari cahaya pagi,
kau pun mengerti bahwa semua ini adalah kelelahan,
tandanya ada yang kucuri dari dirimu.
Misalnya kilap sepatu bootsmu
atau nyanyi-nyanyian natal
yang selalu kita tuntun ke arah pelaminan.
Namun ini sebuah perumpamaan,
bahwa kepulangan
yang selalu kutimang-timang.

Sambil selalu berjalan,
semakin jauh kutinggal perasaanku,
sehingga puisi yang kutulis tak lagi membicarakan dirimu.
Tapi sekedar saja kuingat-ingat lagi tingkah-laku
dan benda-benda yang pernah kau miliki.

Barangkali kita, mungkin aku,
harus pindah ke bukit-bukit dekat awan
supaya dapat mencapai dan aku yang dipercayai.
Seperti juga selama ini, berbagi pikiran
membuatku jarang bicara, perasaan yang rentan
mulai kuhindari keberadaannya.

Tampak mereka tertunduk-tunduk
di depanku dengan sayap-sayap putih,
bernyanyi-nyanyi dan sesekali menyebut dosa-dosa
yang di setiap akhir kata dibubuhkan namaku.
Tapi di bukit sana atau perjalanan ini,
selalu ada saja yang datang
bagai puji-pujian mengajak aku pulang,
bisa pula mengolok-olok aku,
membicarakan semesta.

Kandang Singa, 2013


Marsten L. Tarigan
lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Sekarang tinggal di Bandung, bergiat di Regu Kesenian Cengos.si dan Komunitas Kandang Singa.
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us