Oleh: Zuarman Ahmad

Popeh Ramu Rokan Itu Terbang Tinggi Bersama Buwong Kuayang : Almarhum Yusri Syam

2 Agustus 2015 - 08.05 WIB > Dibaca 1018 kali | Komentar
 
PADAHAL, Jumat, pagi hari raya di kampung saya Dalu-dalu Tambusai, sebelum orang pergi ke tanah lapang melakukan sembahyang hari raya Aidilfitri 1 Syawal 1436 H 17 Juli 2015 M; Jusri Syam, sahabat saya ini masih mengirimkan SMS kepada saya mengucapkan selamat hari raya, mohon maaf zahir bathin, minal aidhin wal faidhin. Dan, saya membalasnya sebagaimana juga SMS kawan-kawan lain yang masuk ke hp saya semenjak malam dan pagi hari raya: Selamat hari raya Aidilfitri 1 Syawal 1436 H, mohon maaf zahir bathin, minal adhin wal faidhin. Hanya itu, tidak ada pesan-pesan khusus dari saya maupun dari kawan saya Yusri Syam ini, dan saya juga tidak meneleponnya karena lupa mengisi pulsa hp.

Sabtu, 2 Syawal 1436 H 18 Juli 2015 M, saya balik ke Pekanbaru, karena pada hari raya ketiga ada job kecil-kecilan main musik Melayu bersama Ifen Piul (maklumlah sebagai pemusik Samin -- Sabtu Minggu memenuhi kekurangan belanja dapur) orang kenduri kekah; saya singgah di rumah John Kobet (Junaidi Syam) adik Jusri Syam sambil berhari raya. Hampir tiga jam saya di rumah John Kobet, biasalah bicara tentang Melayu dan ke-Melayu-an yang tak pernah habis-habis. John Kobet, tengah menyiapkan buku Melayu Besar, yang mengupas dari sudut yang mungkin tidak saya (kita) duga dari analisis ke-Melayuan, bukan di luar Melayu. Setelah berhari raya di rumah John Kobet, saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru. Tiba di Pekanbaru, saya ditelepon oleh Sukron (tamatan Akademi Kesenian Melayu Riau Jurusan Musik yang sudah bekerja di Pasirpengarayan) yang mengatakan bahwa Yusri Syam meninggal-dunia karena penyakit jantung. Tidak puas dengan berita dari Sukron, saya menelepon John Kobet, dan benarlah berita itu adanya. Selanjutnya, saya mengirim berita duka ini lewat SMS kepada Dantje S Moeis, Hukmi dan Masteven Romus, karena saya pikir kalau kawan-kawan yang lain mungkin sudah diberi kabar oleh John Kobet, adik Almarhum.

Tahun 2014 yang lalu, ketika Yusri Syam datang untuk menyelesaikan finishing-touch penulisan buku Lagu Buwong Kuayang Pada Ritual Dewo Orang Melayu Bonai ke kantor majalah budaya Sagang, tempat saya dan Dantje S Moeis sehari-hari merenung dan bermenung, entah memikirkan budaya Melayu dan ke-Melayuan atau memikirkan negara ini yang tak jelas lagi mau dibawa kemana (he he), Dantje seperti tidak meyakini sosok Yusri Syam sebagai seorang yang bergelut sehari-hari pada budaya Melayu dan Ke-Melayuan, terutama Rokan. Namun setelah beberapa sembang, Dantje merasa Yusri Syam seorang yang memiliki integritas, kemauan, dan pengetahuan yang kuat dan tinggi, terutama kepakarannya mengenai etnozoology kupu-kupu, yang bahkan berhubungan dengan pohon tempat kawasan kupu-kupu itu hidup dan bertempat-tinggal. Dari persebatian dan persenggamaannya bertahun-tahun dengan kupu-kupu dan alam, Yusri dapat membedakan nama dan jenis pohon dan mengetahui usianya, karena itulah Yusri juga menanam beberapa pohon yang belum terdapat di taman etnozoology kupu-kupu miliknya yang juga merupakan taman dengan beragam pohon yang sangat berhubungan erat dengan kelangsungan hidup kupu-kupu.

Setelah Yusri Syam pergi dari kantor majalah budaya Sagang, Dantje merasa orang ini kurang terpublikasi. Menurut Dantje, ia bukan sosok yang doyan mengejar cahaya lampu sorot - miris melihat kondisi hutan kita, dan indikatornya seperti spesies kupu-kupu yang semakin miskin ragam karena semakin susut dan berkurangnya habitat hutan. Yusri Syam, tekun dan menguasai persoalan kupu-kupu dari beragam aspek. Sebenarnya, di kalangan ilmuan dan peneliti nasional dan internasional, nama Yusri Syam bukanlah nama asing di telinga dan ingatan mereka. Coba kalau yang dilakukan Yusri Syam ini terjadi di pulau Jawa, waima kentut saja mereka di atas pentas, di tayangan layar televisi, atau di podium, beritanya mungkin heboh sampai ke kutub utara dan kutub selatan bumi ini, dan inilah nasib kita di sini di luar pulau Jawa, yang kadang-kadang apa yang dibuat seniman dan budayawan di pulau Jawa sana bahkan lebih dahulu dikerjakan oleh seniman dan budayawan di sini (baca: Melayu Riau), tetapi seperti tak berarti, seperti tak ada apa-apa sama sekali (ngalah nasib).

Usia itu singkat, dan karya-lah yang abadi, begitu yang selalu disampaikan oleh Hasan Junus (alm). Jusri Syam (10 Pebruari 1972 17 Juli 2015), meninggal-dunia di studio taman Etnozoology Kupu-kupu di kawasan Hapanasan miliknya, yakni di kawasan wisata pemandian air panas Pasirpengarayan Rokan Hulu. Yusri menyebut Etnozoologi Kupu-kupu ini dengan istilah Melayu Rokan Popeh Ramu Rokan. Dan karena usahanya inilah ia mendapat penghargaan Kader Konservasi Alam Teladan Tingkat Nasional 2013, selain meneliti budaya Melayu Rokan seperti membuat film dokumenter tentang Upacara (Ritual) Dewo Buwong Kuayang Bonai. Menurut cerita Yusri kupu-kupu (ramu-ramu) yang diteliti dan terdapat di taman Etnozoology Kupu-kupu (Popeh Ramu Rokan) miliknya terdapat lebih-kurang 300 spesies.

 Seperti batang dan bentangan sungai terus mengalir sampai jauh, tiada tahu berhenti, tak mencapai ujung sebelum mencapai muara dan bersatu dengan lautan sastra. Kenali dan berenanglah di sungai-sungai Rokan, Indragiri, Kampar, Siak; arungilah Nil sungai paling mengandung sejarah, arungi Gangga yang religius, hiliri Mississippi yang paling panjang, mudiki Amazon yang buas ganas, rasakan dingin Yang Tse, jangan sampai ada sungai besar atau kecil yang tak sempat kau jelajahi, Hasan Junus menulis pesan dalam sebuah esei-nya bahwa hidup harus terus mengalir seperti air batang (sungai), menyinggahi dan mengenali alam dan menjelajahi seluruh kehidupan dimana saja.

Dan Yusri Syam telah melakukan pesan Hasan Junus itu pada dirinya sendiri dan untuk kelangsungan hidup dan kehidupan habitat makhluk dan alamnya, terutama kupu-kupu dan hutan. Dan, seperti sebuah pesan juga, Yusri Syam mengingatkan kita untuk melanjutkan pesan alm Hasan Junus itu, yakni memelihara dan menyatu dengan makhluk dan alam tempat kita hidup dan tinggal supaya ekosistem berlangsung dan terjaga, sebagaimana juga peringatan al-Khalik, pemilik alam maya pada ini: Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS, 30: 41)

Ia meminta seorang petugas wisata Hapanasan Pasirpengarayan (pemandian air panas) untuk membeli air mineral, dan sekembalinya orang itu dari membeli air mineral ia membangunkan Yusri Syam yang disangkanya tengah tertidur, tetapi tubuhnya telah kaku dan di dekatnya ada kitab Al-Quran yang sepertinya baru saja dibacanya. Tubuh Yusri Syam tak bergerak lagi. Ia berpulang ke Rahmat Allah tidak di kasur empuk rumahnya, tapi di taman Etnozoology Kupu-kupu miliknya. Jiwanya terbang bersama kupu-kupu menuju Sang Khalik. Yusri Syam telah meninggalkan warisan yang luhur terutama kupu-kupu (ramu-ramu) dan hutan, seperti sebuah pesan untuk dijaga kelangsungan hidupnya, tetapi kepada siapa?

Yusri Syam, telah terbang tinggi bersama kupu-kupu (ramu-ramu) dan burung Kuayang, dan tak akan pernah turun kembali  ke bumi. E, yo buwong la Kuayang/ Nga tobanglah momubong yo buwong Kuayang/ Buwong ko siko yo buwong Kuayang//  E, yo turunlah yo ju/ Yo ku baruh angin yo buwong Kuayang / Buwong Kuayang yo tobang momubong// E, yo buwong lah ko siko / Gak sambai sambailah yo buwong Kuayang / Pagi lah kulopeh yo potang ku kurong// E, yo buwong lah ku siko/ Yo buwong lah Kuayang yo buwong Kuayang// (Zuarman Ahmad, Yusri Syam, 2014)

Wahai burung Kuayang
Terbanglah membubung wahai burung Kuayang
Ke sinilah burung Kuayang
Wahai turunlah
Ke baruh angin, wahai burung Kuayang
Burung Kuayang terbang membubung
Wahai, burung ke sinilah
Kiranya terbang merendahlah burung Kuayang
Pagi kulepas petang ku kurung
Wahai, burung ke sinilah
Wahai burung Kuayang

Selamat jalan sahabat. ***


Zuarman Ahmad
penulis buku Lagu Buwong Kuayang Pada Ritual Dewo Orang Melayu Bonai bersama Yusi Syam, pemusik, pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR) dan Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR), penulis cerita-pendek, Wapimred Majalah Budaya Sagang, Penerima Anugerah Sagang 2009.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us