Oleh: Rian Kurniawan Harahap

Malapetaka Wak Labu

2 Agustus 2015 - 08.08 WIB > Dibaca 1876 kali | Komentar
 
Belum lagi budak-budak kecil selesai tadarus di surau. Orang-orang kampung sudah sibuk pulang ke rumah masing-masing. Mereka meninggalkan anaknya untuk mengaji di surau dan pulang sendirian jika sudah selesai. Budak-budak kecil ini bukan main beraninya. Pasalnya bukan masalah malam atau sepinya jalanan, tetapi mereka harus menantang maut sampai ke surau itu. Surau tempat mereka Tarawih ada di kampung sebelah. Hanya ada satu surau di kampung itu, sehingga orang kampung kami harus segera bersama-sama menuju kampung itu jika ingin beribadah.

Sungai kecil dan jembatan akar yang diikat oleh Mak dan Bapak kami. Inilah jalan yang terus kami lewati sepulang tadarus. Ditemani pelita yang kami pegang dengan tangan kanan, sementara sisi tangan yang lain harus bergantung erat, bertaruh hidup dan mati, mengawal canda kami untuk bisa tadarus lagi keesokan malamnya. Kami lakukan ini setiap hari di bulan Ramadan sampai akhirnya sebuah kabar mengejutkan datang di pertengahan Ramadan.

Mak dan Bapak kami berkumpul di lapangan tengah kampung. Mak dan Bapak memang orang yang sibuk. Tak biasanya dia mau berleha-leha sepagi ini, berdiri dengan orang kampung lainnya. Banyak pekerjaan yang lebih penting dari berkerumun, sementara sawah masih belum di bajak, gagal panen pun sedang diintai oleh hujan yang terus menerus datang. Aku jadi teringat apa yang disebutkan Mak dan Bapak tadi malam. Mereka memang berbincang santai di beranda.

Besok Wak Labu datang dari kota. Orang-orang sudah sibuk menyiapkan acara penyambutan.

Wak Labu, anaknya Datuk Husin?

Ia dulu kan dia orang kampung kita. Semenjak bapaknya meninggal dia berangkat ke kota.

Sekarang dia kembali lagi ke kampung kita? Untuk apa pak? Aku dengar dari orang-orang dia malah sudah sukses di sana. Jadi seorang tukang cukur yang laris malah.

Ia makanya dia mau bangun kampung, katanya dia sudah punya cukup dana untuk membangun kampung.

Perbincangan mak dan bapak terhenti begitu saja. Memang nampak di raut mak bahwa ia sama sekali tak percaya jika Wak Labu yang sudah kaya mau datang lagi ke kampung, yang surau saja tak punya. Lain kulihat di wajah bapak, tatapannya mengabarkan hasrat kalau Wak Labu adalah manusia baik yang memang lahir dari rahim kampung dan akan membangun kampung.

Lepas itu aku baru sadar mengapa orang-orang kampung mau berdiri, berlama-lama menegangkan urat kaki, padahal sedang berpuasa. Tak lama memang, muncul seorang lelaki paruh baya, dengan guratan uban yang memenuhi rambutnya. Usia kepalanya lebih tua daripada wajahnya. Dengan pakaian yang necis persis orang kota, tatapan yang tajam dan senyum yang merona. Aku baru sadar bahwa memang layaknya aku berada di harapan yang bapak sampaikan juga. Memang Wak Labu inilah orang yang akan mengubah kampung kami.

Ia disalami satu demi satu kepala adat kampung, berjalan ke tengah kerumunan, lalu menyampaikan sambutannya. Ia sudah begitu fasih berbahasa negara, ia tak lagi punya dialek kampung. Kota telah mengubah sejatinya Wak Labu dari kampung menjadi sebuah dimensi kota yang representatif.

Saya terharu dan bangga melihat kampung ini kembali. Saya berjanji akan membangun kampung ini. Saya dengar anak-anak kita sering mengaji di surau kampung seberang. Kasihan anak-anak kita, maka dari itu pembangunan awal di kampung kita akan membangun surau yang besar dan lengkap fasilitasnya.

Orang-orang melongo, seperti dihipnotis melihat janji-janji Wak Labu. Janji itu memang sangat menggiurkan, terutama untuk surau. Kami tak perlu lagi menyeberangi jembatan maut untuk mengaji. Kemudian mak dan bapak kami tak perlu cemas menunggu kami di rumah. Surau sudah terhampar imajinasinya di kepala kami semua. Wak Labu pun pergi dengan cekatan, seakan tidak meninggalkan kesempatan kepada kami, bertanya bentuk, kapan dibangun atau apakah kami harus membantunya mengerjakannya? Karena tidak mungkin ia mengerjakannya sendiri. Semuanya sudah hilang dengan sebentuk penasaran dari orang kota yang pulang ke rumah lamanya di ujung kampung.

Orang-orang bubar, melihat satu sama lain. Ada sisi dan sikap antara percaya atau tidak percaya, lalu mereka pergi ke ladang, sawah masing-masing. Mencari rezeki di tengah bulan suci, dengan kepala yang sedikit tergoyang oleh janji-janji surau untuk memulai kaji di kampung sendiri. Bapak dan mak pun kadang terhuyung, tatapannya jauh menatap sebuah bangu nan yang akan disongsong sebagai tempat mereka mengadu.
***

Tak perlu hitungan hari. Wak Labu sudah mendatangkan tukang-tukangnya dari kota. Bukan main jumlah bahan bangunan untuk membangun surau ini, Wak Labu memesan ratusan sak semen, pasir kerikil pun bergantian diturunkan dari truk-truk kota. Kampung kami riuh, sepulang kerja orang-orang berdiri berjejer melihat perkembangan pembangunan surau kami. Memang Wak Labu juga tidak memperkenankan kami untuk membantunya.

Sudah ada tukang, saya tidak ingin memberatkan orang kampung.

Baik betul Wak Labu. Ia datang dengan segepok harapan tentang kepastian masa depan kami untuk menjadi lebih baik. Lantas kami pun duduk beralaskan tanah, melihat satu demi satu bentuk bangunan itu bisa diartikan. Sampai akhirnya kubah bulan dan bintang itu datang. Surau itu pun memang tampak megah, bersih dan mungkin tampak jauh lebih baik dari surau kampung seberang.  

Aku begitu senang, mak dan bapak apa lagi. Sepanjang makan mereka hanya menceritakan bagaimana rasanya masuk pertama kali esok hari. Aku juga larut dalam perbincangan itu, aku membawanya dalam mimpi tidurku. Menjadikannya bunga mimpi terbaik dari seorang bocah.

Esoknya lepas Magrib kami pun duduk bersila di dalam surau. Karpetnya begitu halus, corak dan motif kaligrafinya begitu molek. Kami masih terkagum-kagum melihat ke langit-langit surau. Lampu yang terpasang begitu berkilau, pasti semua didatangkan dari kota. Wak Labu memang paham betul mana barang yang mewah dan mahal. Semua orang kampung duduk termangu melihat kemilau surau ini. Wak Labu pun dengan bangga  mengatakan, Inilah surau kita.

Tetua-tetua kampung pun menyalami Wak Labu untuk kesekian kalinya. Mereka merasa terhutang budi dengan tukang cukur sukses dari kota ini. Sementara kami langsung memulai tadarus, bersama ustad kami. Kami memang sudah izin dengan ustad di surau kampung seberang. Dengan bangga kami katakan bahwa sebentar lagi kami akan memiliki surau sendiri. Kini kami mengaji di surau sendiri, dengan pengeras suara yang lantang sampai ke seluruh kampung, atau malah-malah suaranya bisa sampai ke kampung seberang, melewati derasnya sungai.

Bergantian kami mengaji malam itu, diawasi oleh ustadz. Malam itu rasanya surga sudah berada di atas kepala. Kami bahagia tak tanggung kepalang, sampai-sampai tak sabar menunggu giliran. Mak dan bapak dan beberapa orang kampung juga tak ingin pulang. Mereka mulai nyaman berlama-lama di dalam surau. Ada yang berbincang, sambil melirik ke arah bangunan yang disukainya. Ada yang duduk menyendiri dan macam bentuk sikap agar masih bisa menikmati bangunan ini.  

Wak Labu tak nampak, setelah bersalaman tadi ia langsung hilang. Terlebih hujan datang dengan lebat dan cepat. Orang-orang kampung keluar, menaikkan sendalnya takut hanyut terbawa hujan. Kami terkurung di surau tak bisa pulang. Kami semakin semangat mengaji, kalau bisa khatam malam ini. Rasa gembira sudah membumbung di kepala sebab tak lagi pergi meniti jembatan di tengah pelita untuk sampai ke surau.

Hujan semakin deras, ada seberkas cahaya yang masuk dan datang di teras masjid. Kami terus mengaji. Wak Labu masuk ke surau, tergopoh-gopoh dan memaksa orang-orang kampung berdiri serta sekerlip mata memandang seakan menyambut seseorang. Wak Labu mengatur posisi orang kampung itu, berderet baris dan membisikkan ke mereka sebuah aturan penyambutan dengan senyum. Apa yang terjadi? Wak Labu lantas membuka, pintu sebuah mercy mewah dengan cahaya lampunya menembus masuk ke surau. Wak Labu meletakkan payung di atas kepalanya.

Kami masih terus mengaji semakin lama semakin keras. Wak Labu memberi kode orang-orang untuk menyalami pria itu. Pria yang lebih necis dari Wak Labu. Wajahnya sering nampak di beberapa jalan protokol sebelum masuk kampung kami. orang-orang kampung pun turut menyalami pria itu. Wak Labu lantas memberi langkah pertama masuk surau pada pria itu, sementara orang-orang harus di belakangnya dan tak boleh mendahului.

Cuaca semakin tidak karuan di luar dan akhirnya semua orang masuk ke dalam surau. Kami masih dengan ejaan dan bacaan khusuk kami. Lantas Wak Labu  mengambil mic dari tanganku. Kebetulan itu adalah bagianku mengaji tapi aku tak memberikannya. Aku belum selesai mengaji, lantas kenapa mic dipaksa diambil dari tanganku. Aku tak rela, sepintas mata aku menantang Wak Labu. Ia tetap saja menarik mic itu dariku. Namun orang-orang sudah duduk rapi, pria necis itu duduk istimewa di tengah. Aku masih mengaji, ayat demi ayat. Wak Labu, mungkin begitu geram. Ia langsung mencabut kabel mic. Suaraku mengaji tak lagi terdengar, Wak Labu langsung mengambil mic dan kembali menghidupkannya.

Inilah orang yang kita tunggu, Bapak Sungkono, salah seorang calon Bupati dari ...

Petir bermain gembira di langit. Kilat membelah langit. Badai menerjang kampung kami. Angin bertambah-tambah kuatnya, semua hening. Listrik seketika padam, tak ada yang melihat wajah-wajah, hanya sekilat cahaya yang menampakkan wajah dan kepala yang membuat murka. Orang-orang berlari pulang, menyelamatkan dan berdiam diri di rumah masing-masing.

Paginya tiang-tiang pancang surau roboh, tampak porak-poranda, padahal baru saja dibangun. Ada pula seorang warga berlari-lari, membawa surat kabar dari kota memampang wajah Wak Labu dan pria necis tadi malam.

Kasus pencucian uang calon Bupati membawa malapetaka.

Esok malam aku mengaji di surau kampung seberang dan berharap bisa khatam.***


Rian Kurniawan Harahap
adalah Mahasiswa Pascasarjana Unri. Menulis cerpen di beberapa media lokal dan nasional. 
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us