Oleh: Riki Utomi

Menyelami Lautan Rindu Musa Ismail

2 Agustus 2015 - 08.09 WIB > Dibaca 1434 kali | Komentar
 
Menyelami Lautan Rindu Musa Ismail
Riki Utomi
Apa yang kita pikirkan tentang rindu? Jawabannya bergantung kepada masing-masing individu, sebab kerinduan, yang lahir dari kenangan yang tak terlupakan itu, tidak sama pada setiap orang. Selain itu, kerinduan ternyata mahadaya. Darinya mampu tercipta berbagai cerita. Musa Ismail misalnya, melahirkan karya sastra dari untaian kalimat yang bercerita perihal kerinduannya.

Karya sastra bentuk prosa (novel), yang diolah dari hasil kreativitas penulisnya, tidak serta-merta muncul begitu saja secara khayali. Kehadirannya adalah hasil olah-rasa dari fakta riil kehidupan (bisa jadi penulisnya). Karena itu, fiksi prosa—begitu juga halnya puisi—bergerak dari olahan kreatif fakta dan khayali. Kedua nuansa ini diolah dengan apik sehingga memberi daya pikat ketika hadir sebagai bacaan.

Karya-karya Seno Gumira Ajidarma misalnya, cenderung memasukkan fakta sebagai bahan cerita. Cara demikian akhirnya menjadi kunci kekokohan cerita yang ditulisnya. Kita dapat menemukannya dalam cerpen Seno “Aku, Pembunuh Munir” (Kompas, 29 Desember 2013). Cerpen yang juga termuat dalam antologi cerpen pilihan Kompas 2013 Klub Solidaritas Suami Hilang itu memberi kesan mendalam perihal peristiwa kemisteriusan kematian Munir (konon diracun ketika sedang dalam penerbangan dari Jakarta ke Amstedam) sebagai sosok pejuang kemanusiaan dan hak azasi manusia (HAM). Sosok dan tokoh Munir benar-benar ada dan dirangkai dengan tokoh Aku sebagai pencerita yang merupakan sosok khayali yang membawa alur cerita secara fiktif dan memikat.

Dari konteks di atas, fakta dan fiksi melebur menjadi satu dalam wadah karya prosa yang enak dibaca. Begitu pula dalam Lautan Rindu yang ditulis oleh tangan kreatif Musa Ismail. Novel bersampul sejuk yang spesial saya dapatkan langsung dari pengarangnya ini memberi corak khas tentang makna Lautan Rindu itu sendiri karena bersifat multitafsir.

Sebagaimana pandangan Wellek dan Warren (1989) bahwa realitas dalam karya fiksi tidak selalu merupakan kenyataan sehari-hari. Dalam Lautan Rindu, Musa berhasil mengawinkan kenyataan dengan hal-hal fiktif. Secara garis besar, novel religius ini ingin mendedahkan betapa pengalaman religius benar-benar dapat memberi kesan batin yang kuat kepada kekuasaan Allah SWT. Musa tidak menceritakan pengalaman sehari-hari yang dapat saja terjadi di sekelilingnya karena faktor rutinitasnya sebagai guru. Musa mengungkapkan pengalaman sekali seumur hidup (untuk sebagian orang) tentang perkara religius yang teramat penting untuk tidak diabaikan apalagi untuk dilupakan.

Saya yakin bahwa tidak seluruh realitas itu adalah pengalamannya, tetapi juga menumpuk pengalaman rekan-rekannya yang menjadi acuan dalam memperkuat kesan ceritanya dan ternyata berhasil menjadi cerita yang memikat, lebih jauh boleh jadi, keseluruhannya (para tokoh nyata dalam novel ini) menjadikan perjalanan suci itu hingga saling merindu untuk “kapan kembali lagi ke tanah suci”. Musa dengan piawai mengolah semua itu dengan bahasa sederhana, memikat, dan detail.

Lautan Rindu berkisah tentang perjalanan religius para tokohnya yaitu para guru dalam ritual umroh ke tanah suci. Namun, tentu cerita ini tidak setakat demikian, sebab di pertengahan cerita, banyak kisah yang diangkat kembali oleh Musa. Saya yakin ini sarat dengan fakta yang difiksikan. Ada hal-hal berkesan yang dapat kita tangkap dalam konteks pembahasan ini, yaitu Pukul 09.45 Aku dan kawan-kawan sudah berada di dalam lambung Singapore Airlines. Dalam rombongan perjalanan suci ini, kami berjumlah 76 jamaah. Ini adalah keberangkatanku pertama kali ke luar negeri. Dadaku berdebar juga bagai malam pertama ketika jadi mempelai dulunya. Pukul 10.00 Singapore Airlines terbang bagai burung garuda raksasa yang perkasa (66-67). Perjalaan riil ini sungguh menarik, karena Musa dapat memposisikannya ke hati pembaca.

Tokoh Aku yang secara intrinsik dapat berarti tokoh utama atau penulisnya sendiri, di sini bagi saya dapat juga berarti siapapun yang—apalagi pernah—memiliki pengalaman serupa.

Berikutnya, pada halaman 123-124 Ada getar gemuruh di hatiku untuk bertemu dengan Masjidil Haram dan Ka’bah. Gemuruh itu mungkin juga bergetar di setiap perasaan jamaah lainnya, pun terhadap semua umat Islam. Lambaian Mekah begitu terasa dekat. Berbisik mesra. Manja mendayu-dayu. Kalimat dalam paragraf ini memiliki kesan kuat dalam pengungkapan pengalaman Musa Ismail sekaligus ungkapan kerinduannya untuk kembali lagi ke Tanah Suci. Ada keyakinan, kekuatan, dan harapan menyatu serta menjalin menjadi indah untuk dikenang sekaligus menjadi kerinduan, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain (khususnya sidang pembaca).

Dari pembacaan atas novel Lautan Rindu karya Musa Ismail ini dapat dilihat kepiawaian Musa merekonstruksi kembali perjalanan religiusnya dengan indah sehingga melahirkan suatu kerinduan religius, dan bukan hanya itu, Musa—menurut hemat saya—mampu membahasakan dengan konteks persuasif. Bujukan dalam ceritanya ini juga secara tak langsung mengarah ke dakwah. Bahasanya yang lancar dan tidak menyulitkan itu menambah kekuatan pemahaman bagi orang lain, apalagi dengan nilai tambah adanya ungkapan-ungkapan etnik Melayu menjadi cerminan ciri khas seorang Musa sebagai anak jati Riau. Mudah-mudahan muncul kembali karya-karya religius dengan paduan etnik Melayu Riau yang lebih berkesan. ***


Riki Utomi
Guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 3 Tebingtinggi Kab. Kepulauan Meranti
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us