Oleh: Aristofani Fahmi

Bursa, Karagoz dan Simbol Profesionalisme Seni

9 Agustus 2015 - 08.04 WIB > Dibaca 1158 kali | Komentar
 
Bursa, demikian salah satu kota terpenting dalam sejarah Turki ini dinamakan. Bursa menjadi kota terpadat keempat setelah Ankara, Istanbul, dan Izmir. Pada tahun 1326 Kaisar Ottoman/Usmani menaklukkan Bursa dari kekuasaan Byzantium (Romawi Timur), kemudian menjadikannya sebagai Ibukota Ottoman pertama (Ottoman Empire). Di bawah dinasti Ottoman, Turki menjadi kerajaan Islam besar. Perang dunia I, kejatuhan dinasti Ottoman oleh sekutu kemudian memunculkan nama Mustafa Kemal Ataturk. Atatuk atau Bapak bangsa Turki mengubah Turki menjadi negara sekuler, modern, dan demokratis. Hari ini Bursa merupakan salah satu kekuatan ekonomi Turki di bidang industri. Mobil, kereta/teleferik (kereta gantung), tekstil dan lainnya diproduksi di kota ini.

Dalam hal Kebudayaan, Bursa sangat mengagungkan tokoh Karagoz dan Hacivat dalam seni pewayangan Turki. Lakon wayang ini mengisahkan dua tokoh berprofesi sebagai buruh bangunan. Hidupnya penuh simbol dan makna filosofis yang dibungkus dengan cara lelucon. Pewayangan Jawa lakon ini mirip dengan cerita Panji. Pada Folkdance Competition yang sudah berlangsung 29 kali penyelenggaraan ini Karagoz diwujudkan sebagai bentuk penghargaan. Tentu saja ada maksud memorabilia di sana.
***

Hari itu Jumat terakhir di bulan Ramadhan tahun 1436 H. Perlahan gerbong-gerbong teleferik bergerak mengantarkan penumpang ke stasiun tujuan. Berawal dari kawasan puncak gunung Uludag, menjelajah dan menerobos gugusan hutan pinus hijau sejauh lebih kurang 2 km menuju pusat kota Bursa. Berbagai pengalaman inderawi terjadi di sana. Pemandangan alami hutan pinus diselimuti kabut tipis perlahan terkuak disambut stadion berarsitektur modern markas klub sepakbola Eropa, Bursaspor. Selain itu, perubahan suhu drastis juga terjadi pada tubuh. Di kawasan puncak gunung Uludag pada musim panas saat ini berkisar pada 15-17 derajat celcius. Kemudian secara perlahan tubuh merasa hangat ketika tiba di stasiun terakhir teleferik dengan suhu sekitar 25-30 derajat celcius. Indera mengalami proses dissolved atau peleburan secara absolut dari natural yang anggun ke metropolitan yang santun.

Teleferik menjadi solusi transportasi panitia pelaksana 29th International Golden Karagoz Folk Dance Competition yang diselenggarakan tanggal 7 hingga 12 Juli 2015 oleh instansi Pariwisata Pemerintah Bursa. Saat itu kontingen Indonesia yang diwakili oleh Angsana Dance Comunity dari Kabupaten Tanjung Balai Karimun meminta solusi transportasi agar dapat melaksanakan shalat Jumat di masjid tepat waktu disela kegiatan yang padat. Kebetulan tidak ada masjid di kawasan puncak gunung Uludag.  Untuk menuju pusat kota Bursa ditempuh dengan bus selama 2 jam. Dengan teleferik, perjalanan hanya ditempuh 30 menit. Tidak banyak diskusi untuk solusi permasalahan seperti ini. Bagi grup Indonesia dan peserta Festival, ini sedikit persembahan Bursa untuk tamu budaya.

 Semua berjalan dengan lancar.  Usai Shalat Jumat, bus untuk grup Indonesia sudah menunggu tak jauh dari masjid. Sederet kegiatan mulai dari sound check dan orientasi panggung serta street performance  sudah menanti. Grup peserta kompetisi Folklore tidak boleh terlambat sedikit pun. Apabila terlambat maka akan didahului oleh grup negara lain. Dan yang paling buruk adalah menjadi catatan profesionalitas oleh panitia sebagai pendukung  penilaian dalam kompetisi Folkdance. Dua guide jelita  yang mendampingi grup Indonesia dengan tenang dan sigap menggambarkan kinerja penyelenggara yang sempurna. Tanpa cacat.
Mengikuti Folkdance Competition di Bursa tahun ini mengingatkan saya pada even Parade Tari tahunan di Indonesia. Parade Tari di Indonesia diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi yang nantinya akan dikompetisikan secara nasional di Jakarta. Di Bursa, Folkdance Competition dilombakan demi gelar prestisius (Golden Karagoz) dan hadiah uang tunai total 12.000 Euro. Untuk tahun 2015  peserta dihadiri sebanyak 20 negara dari benuAsia, Eropa dan Amerika. Antusiasme peserta demi raihan tertinggi, menambah intensitas kompetisi. Saya kira antusiasme Parade Tari di Indonesia juga demikian.

Akhirnya komparasi atau perbandingan kedua helat tari ini tak terhindarkan. Alasannya adalah di Riau, Kepulauan Riau dan beberapa Provinsi lain menjadikan even seleksi Parade Tari tingkat daerah sebagai panggung utama. Artinya ajang Parade Tari menjadi tolok ukur dalam karir kepenarian. Namun di sisi lain Parade Tari dianggap sebagai ajang yang membawa para pengkarya tari pada kondisi stagnan. Koreografer senior Riau SPN Iwan Irawan Permadi tak pelak mengungkapkan pandangannya terhadap even ini. Parade tari dalam konteks proses  justru tidak ada nilainya karena setelah menang pun di tingkat nasional, karya yang ditampilkan akan habis begitu saja. Tidak ada upaya untuk meningkatkan pada ajang internasional. Parade tari seharusnya dijadikan ajang pembinaan dan lecutan bagi pekerja tari di Riau. Bukan sebagai puncak proses menari... (Riau Pos, 29 Juni 2014).

Setiap tahun penyelenggaraan Parade Tari selalu disertai dengan bunga-bunga cerita di sana sini. Bahkan hingga pada tingkat nasional. Tuduhan sepihak mengenai kecurangan dari sanggar yang tidak menang  selalu menjadi gosip berkepanjangan. Mulai dari kedekatan dengan Juri, titipan dari orang tertentu, atau bahkan suap kepada Juri. Terlepas hal tersebut benar atau tidak, saya menduga profesionalisme peserta kompetisi dan penyelenggara yang menjadi akar permasalahan.  Hal ini wajar karena sebuah sanggar dengan ambisi juara juga dekat dengan biaya produksi yang tinggi. Biaya produksi itu biasanya untuk mendatangkan koreografer dan komposer yang dirasa mampu untuk pencapaian juara. Komposer dan atau koreografer yang berasal dari kota besar biasanya memiliki nilai yang paling tinggi.

Iklim ini tidak ubahnya dengan dunia sepakbola profesional. Ada musim transfer pemain. Kondisi tersebut tidak terlepas dari nilai positif dan negatif. Bagi grup yang memiliki dana besar bisa sangat leluasa mengimpor pemain terbaik. Harapan dan peluang juara bagi grup seperti ini lebih besar. Apalagi memiliki ketepatan strategi dalam memilih pemain. Namun strategi seperti ini terbatas bila mengalami kendala biaya. Hal berbeda pada grup dengan dana pas pasan. Managemen yang baik dan pembinaan anggota adalah strategi yang tepat. Investasinya dengan membina penari, pemusik, koreografer, dan komposer dari anggota grup sendiri. Peluang juaranya bisa terjadi di masa depan, seiring peningkatan mutu grup di semua sektor, dan tentu saja langgeng.

Profesionalisme, sederhananya berkait dengan kesiapan pelaksana dan peserta yang rata-rata masih kurang. Kendala teknis adalah langganan Parade Tari di Indonesia. Khususnya di Riau, fasilitas sound system selalu menjadi keluhan peserta. Tidak balance, feed back, tidak bunyi,  grup ini soundnya bagus, grup itu tidak bagus dan lain sebagainya selalu dikeluhkan. Rata-rata sanggar peserta Parade Tari di Riau mempersiapkan diri sekitar 5-7 bulan. Adalah sebuah malapetaka apabila rusak karena kendala teknis dalam waktu singkat. Sebetulnya panitia sudah mengantisipasi dengan mengadakan sesi sound check sehari sebelum acara. Hal ini sudah menjadi paket penyelenggaraan even pertunjukan. Namun juga tidak berarti apa-apa oleh molor waktu pelaksanaan sound check baik itu dari pihak penyelenggara maupun peserta. Penguasaan teknis, artistik dan kedisiplinan waktu adalah tolok ukur profesionalisme dalam seni. Tidak ada tawar menawar di sana.

Mari kita lihat Folkdance Competition di Bursa. International Golden Karagoz Folk Dance Competition merupakan ajang Folkdance Competition terbaik di Turki. Selain karena hadiahnya yang menarik, even ini juga merupakan ajang ujian serta evaluasi kinerja dan tingkat profesionalitas berkesenian  negara peserta. Hal ini sudah menjadi sistem penyelenggaraan Golden Karagoz selama 29 tahun. Peserta harus siap mengikuti segala ketentuan kegiatan yang diatur  penyelenggara. Mulai dari persoalan makan, penggunaan ruang latihan yang terbatas, latihan di panggung, performance dengan durasi dan venue yang beragam, hingga kegiatan seremonial. Dan tentu saja persoalan artistik karya yang ditampilkan.

Panitia menyediakan waktu latihan untuk orientasi panggung setiap hari selama penyelenggaraan. Hari pertama berdurasi, 40 menit, hari kedua 30 menit, hari berikutnya 10 menit. Mulai dari proses masuk ke panggung, menyusun alat dan properti di panggung hingga keluar panggung. Seluruhnya terikat oleh waktu. Ajaib bagi peserta kompetisi di Indonesia, tidak akan didapati sound system yang feed back, tidak balance, dan kendala teknis lainnya. Grup hanya harus konsentrasi pada karya. Kegiatan ini tersistem sebagaimana pada saat kompetisi utama: toleransi waktu batas atas dan bawah hanya satu menit.

Tentang penjurian. Tahun 2015 ini panitia pelaksana menunjuk tujuh orang Juri dari tujuh negara yang berbeda. Mereka adalah profesional di masing-masing bidang. Ada yang bidang koreografi, musik, kostum, make up, lighting, artistik, dan satu orang bertugas pengukur durasi. Masing-masing menilai berdasarkan bidangnya.

Sistem penilaiannya pun sederhana namun mutlak. Masing-masing peserta diberi poin 100, nilai maksimal yang sama.  Pada awalnya seluruh peserta dianggap bagus. Kemudian pada saat pentas, maka seluruh elemen bekerja. Misalnya koreografi yang dilakukan secara berulang dan menjemukan, akan dikurangi 5 poin. Apabila dalam musik iringan terdapat kesalahan tempo, harmoni yang tidak semestinya, maka juga akan dikurangi poinnya. Kostum, ekspresi dan tata rias yang tidak sesuai dengan tema karya akan dikurangi poin. Penilaian seperti ini mendetail hingga pada hal kecil. Misalnya asesoris yang terjatuh, atau pemasangan yang tidak seragam pada seluruh penari. Begitupun dengan durasi karya. Di depan meja Juri diletakkan tiga buah lampu berwarna hijau kuning dan merah, sebagai penanda waktu memulai dan akhir. Apabila durasi berlebih dalam toleransi satu menit maka poin dikurangi. Akumulasi pengurangan poin ini yang akan menentukan pemenang kompetisi International Golden Karagoz Folk Dance Competition.

Penghargaan tertinggi, Golden Karagoz diraih peserta dari negara Serbia, Silver Karagoz diraih Bulgaria, dan Bronze Karagoz diraih Turki Utara. Angsana Dance Community dari Indonesia dan peserta negara Estonia meraih penghargaan dengan kategori Honourable Mention. Setingkat Juara Harapan 1. Penghargaan yang sama pernah diraih Indonesia pada tahun 2011 oleh grup asal Makassar. Melihat pemilihan juri dan sistem kompetisinya, kecil kemungkinan terjadi kecurangan. Tidak ada gosip miring setelahnya. Yang ada adalah pesta tarian spontan secara bersama antar negara peserta di area Kultur Park Bursa usai pengumuman pemenang.

Angsana Dance Community yang dipimpin oleh Sinta Triliarossa pada ajang ini tentu saja terbilang luar biasa. Sanggar yang diberangkatkan atas kerjasama CIOFF Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Balai Karimun ini boleh dibilang masih baru. Lahir tahun 6 tahun lalu (2009), namun prestasinya pada Parade tari di Tanjung Balai Karimun dan Provinsi Kepulauan Riau Sanggar ini langganan juara. Memutuskan untuk berkiprah di ajang internasional adalah sebuah loncatan besar. Ujian untuk mengukur diri. Mulai dari karya hingga managemen, segalanya dikerjakan maksimal. Di sinilah peran serta pemerintah sebagai pihak yang bertugas sebagai pembina dan penanggung jawab perkembangan dan pelestarian karya daerah.

Raihan peringkat empat grup Angsana pada ajang bergengsi di Turki patut mendapat pujian setinggi langit. Pujian dari beberapa Juri pun melengkapi perjalanan grup Angsana. Salah seorang Juri dari Rusia yang ikut dalam bus rombongan grup Angsana ke Istanbul untuk kembali kenegara masing-masing, sebelum berpisah terjadi obrolan singkat. Sang Juri yang hanya bisa berbahasa Rusia dan Perancis itu pun memperlihatkan catatan penjuriannya. Walhasil pada kertas tersebut tertera tulisan Indonesia dengan angka tertinggi. Dalam perbincangan, sang Juri mencoba menyampaikan bahwa ...Indonesia adalah grup yang super... grup yang profesional. Juri lain yang juga direktur Agrigento Festival & Competition di Italia menyampaikan apresiasinya kepada karya grup Angsana usai kompetisi. Bahkan saat itu langsung manyampaikan harapannya agar Angsana dapat ikut pada Festival di Agrigento Italia tahun 2016.

Tidak berhenti pada Agrigento. Mustafa, direktur Festival yang mengaku mengelola 17 buah Folklore Festival di Turki rupanya menguntit segala kegiatan yang dilakukan grup Angsana selama 5 hari. Di sela kompetisi, Mustafa berujar seraya berharap besar kepada Angsana untuk berpartisipasi pada salah satu Folklore Festival yang dikelolanya tahun depan.

Mengapa dan bagaimana bisa Angsana meraih penghargaan Honourable Mention dan berpredikat profesional. Hal ini rumit. Tak ada yang dapat menebak secara pasti isi kepala setiap juri. Namun yang dapat diuraikan adalah respon dan kejelian dalam melihat peluang yang dapat dimaksimalkan oleh grup dengan karyanya. Angsana memang rajin membuat karya yang disiapkan untuk salah satunya kompetisi  Parade Tari. Stok karya yang dikuasai sudah cukup untuk menyusun strategi dalam kompetisi.

CIOFF Indonesia sebagai penyelia sudah memahami hal tersebut. Dalam proses pendampingan CIOFF Indonesia,  tidak ada waktu untuk santai bagi grup Angsana. Di sinilah ujian sesungguhnya. Setiap saat diisi dengan diskusi berkualitas tentang strategi kompetisi. Akibatnya perubahan dan perombakan karya pun terjadi. Pengetahuan koreografis, kekuatan fisik dan kemampuan kepenarian, dan responsibilitas musik iringan dituntut melebihi porsi latihan sebelumnya.

Penilaian Juri serta apresiasi para direktur festival tersebut semoga bukan lips service atau basa basi. Keikutsertaan grup Angsana pada 29th International Golden Karagoz Folk Dance Competition dan sanggup mengikuti peraturan pelaksanaan dengan baik justru pelajaran yang lebih berharga. Kini Angsana Dance Comunity adalah grup asal pulau kecil di Kepulauan Riau dengan label profesional. Tidak ada salahnya bila Pemerintah Daerah Kabupaten Karimun atau Kepulauan Riau bahkan Pemerintah pusat untuk berinvestasi pada grup seni serius sebagaimana yang dijalankan oleh grup Angsana. Sanggar yang dibangun atas dasar kebersamaan dan dedikasi tinggi terhadap pengembangan seni pertunjukan tradisional di daerahnya.

Sekali lagi, label profesional menjadi kunci pergaulan di dunia seni internasional. Sepertinya ini dapat menjadi jawaban dari keluhan SPN Iwan Irawan Permadi. Pelajaran dan pengalaman seperti ini hanya dapat diraih dengan konsistensi dan kerja keras. Bagi Angsana pelajaran dan pengalaman baru  ini harus diamalkan secara istiqamah dalam proses berkesenian. Berkelanjutan demi peningkatan kualitas karya dan grup. Setelah itu barulah profesionalisme seni berbicara tentang harga, atau bahkan tunduk pada grup yang profesional.


Aristofani Fahmi
Penonton Kesenian, Representative CIOFF Indonesia Section Riau - Kepri. Aktif di Riau Rhythm Chambers Indonesia.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us