Oleh: SPN Dantje S Moeis

Khabar Terakhir Anneke Dijkstra

9 Agustus 2015 - 08.06 WIB > Dibaca 1079 kali | Komentar
 
Hari ini memang agak lebih siang dari biasanya aku membuka studio, sekaligus kiosk tempat memasarkan karya-karya lukisanku. Hampir setahun  aku menempati kiosk ini. Kiosk yang berlokasi di pasar seni, sebuah kawasan yang disediakan pemerintah kota, untuk menunjang program mereka menjadikan kota ini, sebagai kota berwawasan seni.

Dari kiosk seberang, ditengah hiruk pikuk bunyi kendaraan yang melintas di depan, tak terdengar olehku teriakan Teuku Johan, teman sesama perupa pemilik kiosk diseberang sana,  yang menghimbau.

Dengan dengus nafas ngos-ngosan, karena sesak berlari menyeberang jalan, Teuku Johan dengan logat Acehnya yang ketal berkata.

Dasmo Orindra, tadi pacarmu orang bule itu menunggu. Tampaknya ia tergesa-gesa dan minitipkan surat buatmu padaku.

Oh ya? Terima kasih. Kau ada-ada saja. Dia bukan pacarku, masak orang yang belum jelas statusnya kupacari, gila apa?

Siapa tahu? Teuku Johan sambil berlari kecil meninggalkanku, tersenyum usil.

Sialan....

Dasmo Orindra yang baik,
Aku buru-buru harus berangkat ke Belanda untuk mengurus surat pindah tugas. Dari pimpinan kantor tempatku bekerja yang berpusat di Belanda, aku dipindahkan dari sini untuk bertugas di Toronto, Canada. Aku harap kau baik-baik saja dan persahabatan kita tidak akan terputus tersebab rentang  jarak yang memisahkan.
Mudah-mudah kita bisa bertemu lagi.

Zoentjes, Anneke Dijkstra
Aku hanya dapat tersenyum kecut setelah membaca surat pendek Anneke Dijkstra, dia minta dipanggil dengan Anne saja, perempuan Belanda yang kukenal lebih kurang setahun ini.

Sebuah persahabatan dengan awal-awal perkenalan yang unik.

Sore itu sesudah pertemuan pertama dengannya. Sesuai perjanjian kami, Anne datang mengambil lukisan potret seorang lelaki. Tak pernah kuketahui, bahwa orang yang dipotret itu adalah siapanya Anne. Anne tampaknya tak ingin hubungannya dengan pria di potret itu diketahuiku. Hanya teman biasa. Begitu katanya singkat.

Wow! Bagus sekali, lebih bagus dan lebih cakep dari aslinya.

Begitulah komentar Anne, begitu melihat lukisan pria, pesanannya. Aku memang diberikan kebebasan estetika, oleh Anne dalam menyalin, memberikan sentuhan senirupa, sehingga lukisan tersebut tidak lagi seperti gambar potret. Dan yang lebih utama, aku dapat dengan leluasa memberikan efek-efek seni-murni yang memperkaya, sehingga hasilnya bermuatan lebih dari sekedar kerja kamera atau proses fotografi.

Berapa hari kau mengerjakan ini.

Dua hari. Sehari kugunakan untuk pekerjaan sketcher dan penggarapan bentuk, pada hari kedua kugunakan buat perbaikan dan finishing touch.

Lagi-lagi, wow, sebagai ekspresi rasa puas dan kagum Anne.

Cuma, Anne melanjutkan kata-katanya. Hanya buat sebuah karya yang dikerjakan dua hari, aku harus membayar cukup mahal, seandainya dikurskan dengan Dollar menjadi  Delapan Ratus Dollar. Anne tertawa, entah kecewa atau mengejek tak tahulah. Yang jelas aku tersinggung.

Anne, untuk anda ketahui, separuh dari umurku telah kuhabiskan atau kugunakan, untuk mengerjakan lukisan ini dan lukisan-lukisan lainnya. Tanpa pengkayaan dari pengalaman yang melelahkan selama itu, aku takkan berhasil menyelesaikan karya yang anda sendiri barusan mengatakan puas dan mengaguminya. Dengan nada tinggi.

Aku paham, aku hanya bergurau dan mengusikmu. Rupanya hampir semua seniman punya rasa sensitivitas dan ketersinggungan tinggi sehingga minim sense of humor.

Aku merasa malu dan, maafkan aku.

Lupakan saja, jangan sampai peristiwa ini merusak kuncup bunga awal hubungan kita.

Merusak kuncup bunga awal hubungan kita? Terus terang aku tak paham makna dari kata-katanya. Ah, biarkan saja.

***

Pertemuan demi pertemuan, membuat aku semakin akrab dengan Anne. Dia sangat terbuka, seperti lazimnya perempuan negeri barat. Segala sesuatu tentang dia, sampai hal-hal yang sifatnya pribadi, dengan terus terang ia ceritakan padaku. Mulanya aku tak percaya dia dapat melakukan itu, seandainya tidak dalam pengaruh alkohol berkadar tinggi. Namun tidak demikian. Dalam keadaan sadarpun, ia banyak bercerita tentang dirinya. Yang tak pernah ia ceritakan, baik dalam keadaan sadar atau mabuk alkohol, adalah tentang hubungannya dengan lelaki yang sifatnya spesial atau khusus. Sehingga aku hingga kini tak mengetahui apakah ia sudah bersuami atau belum.

Pernah pada suatu kali pertemuan, aku menanyakan, karena sebelumnya ia bertanya, apakah aku sudah mempunyai hubungan istimewa dengan perempuan lain atau belum.

Menjawab pertanyaanku ia hanya tertawa keras, sehingga menarik perhatian pengunjung lainnya di cafe tempat pertemuan itu. Mungkin untuk tidak mengecewakanku, ia jawab juga dan jawabannya membuat aku terperangah karena kejujurannya yang kuanggap berlebihan. Sehingga bagiku, ia terkesan mengumbar aib yang secara sadar ia lakukan.

Ah, hingga saat ini aku belum bertemu dengan lelaki yang sreg dihati dan kalaupun ada lelaki yang pernah dekat denganku, itu hanya sebatas pemenuhan kebutuhan biologis aku dan dia. Setelah itu kami sedikitpun tidak pernah terpikir membuat agreement yang mengikat. Jadi, hingga saat ini aku lupa pada mereka, berapa jumlahnya, mungkin sepuluh, seratus bahkan mungkin seribu lelaki yang pernah kukenal dekat, berhubungan, lalu dengan rentang waktu yang tidak terlalu lama, munculah rasa bosan, muak karena tak memberikan sesuatu bagi pengkayaan batin, kecuali hanya pengalaman seksual dan kepuasan sesaat yang meletihkan. Ha...ha..ha...

Kau membuat pilihan hidup dalam lingkaran yang beresiko tinggi.

Ah kau. Kita sejak dilahirkan sudah dihadapkan pada resiko-resiko itu. Kenapa takut?

Mungkin kau benar. Tetapi kau, bukan tidak dihadapkan pada pilihan lain yang tidak terlalu dihadang oleh resiko tinggi.

Resiko seperti apa yang kau maksud?

Resiko pada janji Tuhan apabila melakukan larangannya. Janji Tuhan dari segala agama, bukan hanya agamaku tapi juga agamamu, apapun itu.

Oh ya?

Betul, aku yakin sesuai dengan imanku. Dan adalagi resiko lainnya, seperti penyakit akibat hubungan seks yang akibatnya sangat menakutkan.

Aku saat ini seperti berhadapan dengan penginjil sekaligus dokter. Sorry, aku tak suka itu.

Maaf  kalau begitu, terserah kau, aku hanya mengatakan apa yang aku tahu dan kuyakini kebenarannya. Lupakan saja.

***

Memang hari-hari pertemuan dalam menjalin persahabatan kami, lebih banyak difasilitasi oleh dunia malam. Disebuah tempat, di pojok jalan Melawai, dekat Akademi Grafika, yang bernama Old West Bar.

Aku bukanlah seorang penyuka alkohol. Sehingga aku selalu dalam keadaan sadar, merasa berat dan  agak mengganjal dihati, tatkala terpaksa membopong Anne keluar dari bar dalam keadaan sempoyongan, memanggil taksi dan menghantarnya pulang ke apartement.

Akhir dari peristiwa yang berulang-ulang kulakukan, demi rasa belas dan kasihan, membuat aku menjadi tersiksa, menanggung hasrat penyaluran dan terkadang membuat tak dapat memicingkan mata hingga pagi. Atau kalaupun tertidur, selalu dijagakan oleh mimpi basah yang lumayan melegakan.

Bagimana tidak, saat membopong, hampir segala bahagian dari tubuh sintal Anne yang membangkitkan rangsangan, mau tak mau harus kupegang atau tak sengaja terpegang.

 Syukur, bahwa Tuhan sayang padaku dan selalu mengingatkan, sehingga kami atau aku, tak pernah sedikitpun terbetik niat buat melakukan hal-hal terlarang.
Puji syukur ya Allah. Spontan aku menengadahkan kepala, membuka kedua telapak tangan ke langit, padahal aku sangat tahu, bahwa Tuhan ada di mana-mana, tidak hanya di langit sana.

***

Dasmo Orindra. Kau satu-satunya lelaki aneh yang pernah kukenal. Setelah ia membangunkanku yang sengaja tidur malam itu di sofa apartementnya. Malam itu, aku sungguh tak tega meninggalkan ia sendirian dalam kesakitan, mual dan muntah berkali-kali, akibat pengaruh alkohol yang digogoknya.

Mengapa begitu?

Kau sama sekali tak mengusikku dan membiarkan aku tidur sendirian di ranjang. Padahal kau mempunyai kesempatan untuk melakukannya dan aku pasti takkan menolak. Atau aku sama sekali tak menarik bagimu? Sehingga hasrat seksualmu tak bangkit sama sekali. Anne menghirup kopi dan menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam.

Cuma, sebagai orang yang membenci perilaku pemaksaan, aku juga tak ingin kita melakukan itu tanpa kesepakatan dan saat berhubungan itulah, moment penyaluran dimana kita betul-betul saling membutuhkan, serta menemukan kepuasan yang maksimal.

Oh, kau salah. Lelaki mana sih yang tak bangkit keinginan birahinya, ketika menggendong orang secantik kau ke atas  tempat tidur. Melihat kau terlelap sendirian tidur hanya dengan mengenakan pakaian seadanya. Tetapi ada sesuatu yang dapat mengalahkan keinginan itu. Yaitu moral kami, agama kami, yang melekat kuat di hati sejak dulu.

Aku tahu, Anne tak suka diceramahi seperti itu. Bahkan aku teringat ketika ia menyamakan aku dengan pengkotbah, saat berkomentar tentang kebiasaannya yang salah dimata agama. Namun aku tak perduli, aku yakin dengan kegigihanku. Mudah-mudahan Tuhan dapat memberikan kesempatan aku untuk berbuat baik, dengan memperbaiki cara hidup Anne.

Ketaksukaan Anne tampak jelas terpancar dari perilakunya. Ia seperti acuh tak acuh, bernyanyi-nyanyi kecil dan terus menghisap rokok, menghembuskannya berkali-kali.

Kegigihan yang cerdas, bukanlah kegigihan yang dipaksakan. Aku paham sekali akan hal itu. Bukan berarti putus asa, keinginanku untuk merubah sikap Anne yang sudah mendarah daging di dirinya takkan pernah berhenti. Cuma ada kesulitan yang kuanggap sebagai tantangan. Aku dan Anne dari kepercayaan yang berbeda, begitu juga dengan kultur, yang jelas-jelas tak dapat diselaraskan, tanpa argumentasi dan metafora bersifat universal. Apalagi Anne, yang kuanggap sudah terlalu masuk dalam lubang tanpa kaidah agama.

Aku coba mengalihkan pembicaraan, agar suasana tak menjadi beku.

Kulihat Anne menggigit-gigit kukunya. Kebiasaan buruk ini kutandai muncul, apa bila ia dalam kegalauan dan ini selalu kuperingatkan, seperti juga kali ini.
Mulai lagi ya, kebiasaan burukmu itu.

Oh ya, Anne menarik jari-jarinya dari mulut, terima kasih Dasmo Orindra. Kau selalu memperingatkanku dan itulah, yang membuat aku merasa terperangkap dalam penjara indah yang kau ciptakan. Berbeda dengan laki-laki barat yang pernah kukenal, mereka egois. Mereka tidak pernah memperhatikan detail. Padahal, pada masalah-masalah yang sederhana itulah menurutku, wujud dari perhatian yang tulus, jujur tanpa embel-embel lain.

Terimakasih. Kau terlalu memujiku.

Pikiranku yang menerawang pada kenangan bersama Anne, sontak terganggu mendengar ring tone dari smart phone penanda e-mail masuk untukku.

Saudara Dasmo Orindra,
Sahabatku yang juga sahabatmu, Anneke Dijkstra, pagi tadi meninggal dunia dalam damai. Berdasarkan surat keterangan kematian dan diagnosa dokter, ia meninggal karena lama mengidap penyakit HIV Aids dan keracunan alkohol.

Pesan terakhirnya, ia memberi alamat e-mailmu dan meminta aku memberitakan tentang dan penyebab kematiannya ini padamu. Ia bersyukur, berkat imanmu yang kuat, kau tak sempat tertular penyakit yang diidapnya walau kesempatan itu selalu ada.

Marry Jane Toronto, Canada
Seperti kerasukan, aku menghambur masuk ke kamar mandi, menanggalkan segala pakaian yang melekat di badan, mandi dan menuangkan sebotol penuh cairan pembersih ke sekujur badan. Walau aku sangat tahu, penyakit yang satu itu takkan menular karena hanya bersentuhan badan. Rest In Peace for Anneke Dijkstra.***


SPN Dantje S Moeis
Perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya Sagang,  dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbabaru
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Kamis, 20 September 2018 - 17:37 wib

Ancaman Serius Plastik Mikro

Follow Us