Oleh: Agus Sri Danardana

Pertalite

9 Agustus 2015 - 08.09 WIB > Dibaca 2463 kali | Komentar
 
Pertalite
Jumat, 24 Juli 2015, PT Pertamina resmi melakukan uji pasar bahan bakar minyak (BBM) jenis baru: pertalite. BBM jenis baru itu dijual dengan harga promosi Rp8.400,00 atau lebih mahal (Rp1.000,00) daripada harga BBM jenis premium yang dijual Rp7.400,00. Konon, uji pasar itu dilakukan untuk mendapatkan respon dan mengetahui animo masyarakat mengenai pertalite.

Tulisan ini tak hendak mengungkai seberapa tinggi respon dan animo masyarakat terhadap keberadaan jenis BBM baru itu, tetapi hendak menyoal (pe)nama(an)nya: pertalite. Mengapa? Karena nama itu (pertalite) menimbulkan masalah dalam bahasa Indonesia, baik dalam pelafalan maupun penulisannya.

Oleh banyak orang, pertaliteselalu dilafalkan ala asing (bahasa Inggris): /pertalait/ dan ditulis Pertalite (awal huruf kapital: P). Pelafalan dan penulisan seperti itu tentu saja tidak selaras dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam (ber)bahasa Indonesia, antara pengucapan/pelafalan dan penulisan sebuah kata hampir tidak ada perbedaan: apa yang terucap itu pula yang tertulis. Kata elite, misalnya, tetap diucapkan/dilafalkan /elite/, bukan /elait/. Kalaulah ada yang melafalkannya /elit/, pasti kata itu juga ditulis elit. Dengan demikian, pertalite seharusnya dilafalkan /pertalite/, sesuai dengan tulisannya.
Begitu pun penulisannya. Nama jenis produk baru Pertamina itu, jika dikutip dalam tulisan: berita, esai, artikel, dsb., tidak perlu ditulis dengan awal huruf kapital, kecuali mengawali kalimat. Penulisan yang sama, dengan demikian, berlaku juga pada jenis BBM produk Pertamina lainnya, seperti premium, pertamax, pertamax plus, minyak tanah, solar, dan biosolar.

Masalah lain yang berkemungkinan besar akan muncul atas “kasus” pertalite ini adalah menurunnya kebanggaan bangsa Indonesia terhadap produksi dalam negeri. Hal seperti itu telah terbuktikan pada produk-produk sandang Indonesia. Karena produk-produk sandang Indonesia (seperti baju, celana, tas, dan sepatu) itu pada umumnya bermerek asing (seperti Arraw, Levi’s, Gucci, dan Reebox), orang pun menganggapnya sebagai produk asing. “Buatan luar negeri,” kata banyak orang. Sebagai akibatnya, jika kemudian memunculkan rasa bangga pada diri mereka, kebanggaan itu pun hampir dapat dipastikan teralamatkan untuk bangsa asing, bukan untuk bangsa Indonesia, meskipun barang-barang itu jelas-jelas buatan dalam negeri (Indonesia).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa jenis BBM baru produk Pertamina itu diberi nama bernuansa asing: pertalite? Bukankah jenis BBM baru beroktan 90 itu dibuat dan dipasarkan di dalam negeri, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia, sebagai pilihan lain (alternatif) di samping premium (beroktan 88) dan pertamax (beroktan 92) yang telah ada sebelumnya?

Pertalite memang hanya sebuah nama, yang bisa jadi tidak dianggap penting oleh sebagian orang. “Apalah arti sebuah nama,” kata Shakespeare. Namun, bagi bangsa Indonesia (muslim utamanya), nama adalah sebuah identitas dan sekaligus doa. Nama Amir, misalnya, di samping memperlihatkan identitas kemusliman, juga mengandung doa (harapan) agar pemiliknya menjadi pemimpin. Begitu pun Suharto dan Naratungga. Di samping memperlihatkan identitas kejawaan dan keindonesiaan, kedua nama itu juga mengandung doa (harapan) agar pemiliknya menjadi orang kaya dan orang terpilih.

Lalu, bagaimana dengan pertalite? Wallahualam bissawab. Yang pasti, pertalite sudah dipasarkan. Sangat kecil kemungkinannya nama yang tidak beridentitas dan berspirit Indonesia itu diubah atau diganti. Cara termudah yang dapat dilakukan adalah tidak melafalkan pertalite dengan cara asing: /pertalait/, tetapi harus melafalkannya dengan cara Indonesia: /pertalite/. Cara “pengindonesiaan” seperti itu juga dilakukan pada kata faximile. Kosakata asing (Inggris) itu setelah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia (diserap menjadi faksimile) juga dilafalkan ala Indonesia: /faksimile/.

Kasus pelafalan (ala asing) sudah sejak lama terjadi di Indonesia. Sekalipun Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) telah diberlakukan sejak Agustus 1972 lalu, hingga kini kasus pelafalan asing masih terus berlangsung, terutama  pelafalan nama (dan merek) asing, seperti George (dilafalkan /jos/), Angeline (dilafalkan /enjelin/), dan Coca Cola (dilafalkan /koka kola/). Anehnya, meskipun pemiliknya orang Indonesia dan dipasarkan (hanya) di Indonesia, merek (semen): Holcim masih dilafalkan ala asing: /holsim/, bukan /holcim/. Bahkan, nama negara: Cina pun sudah mulai “diasing-asingkan” pelafalannya, menjadi /caina/.

Begitulah Indonesia, sebagian besar rakyatnya rupanya sedang terhegemoni oleh segala sesuatu yang berbau asing. Sebagai akibatnya, bangsa Indonesia tidak hanya kehilangan kedaulatan dan jatidiri, tetapi juga kehilangan orientasi. Tanpa disadari, tiba-tiba bangsa Indonesia banyak yang mengidap penyakit fobia (rasa takut yang berlebihan) untuk sekadar mengakui, apalagi membanggakan, barang miliknya sendiri.

Disadari atau tidak, penggunaan bahasa akan berpengaruh besar pada sikap masyarakat dalam memersepsikan sesuatu. Jika di ruang-ruang publik digunakan bahasa asing, misalnya, besar kemungkinan lambat laun akan membentuk persepsi masyarakat bahwa bahasa asing lebih utama daripada bahasa Indonesia. Sebaliknya, jika di ruang-ruang publik itu digunakan bahasa Indonesia, dapat dipastikan tidak hanya persepsi masyarakat (bahwa bahasa Indonesia lebih utama daripada bahasa asing) yang terbentuk, tetapi juga rasa bangga untuk terus menggunakannya. Mereka merasa dihargai karena bahasa yang mereka gunakan (bahasa Indonesia, yang menjadi media sosialisasi budaya dan pembentuk jatidiri mereka itu) digunakan juga secara luas di tempat-tempat umum dalam segala bidang kehidupan. Dengan demikian, secara psikologis mereka pun akan merasa (aman) berada di negerinya sendiri.

Sebentar lagi bangsa Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-70. Mudah-mudahan kasus-kasus “pelecehan” bahasa Indonesia tidak terus berlangsung sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat benar-benar merasakan nikmat kemerdekaan, sekalipun hanya dalam berbahasa.

Dirgahayulah Indonesiaku. Jaya dan damailah selalu.***

Salam.


Agus Sri Danardana
Penulis adalah Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us