Sajak-sajak F. Rizal Alief

9 Agustus 2015 - 08.15 WIB > Dibaca 1121 kali | Komentar
 
Sajak-sajak F. Rizal Alief
F. Rizal Alief
Menyelam dalam Lautan

Karena dadamu adalah lautan, tak mungkin kuukur dengan mataku
Apalagi menyelaminya dengan anganku yang tak seberat batu
Tubuhku akan terombang-ambing di permukaan, tak sampai di dasarmu
Sampan pun yang kubawa hanya akan mampu berputar-putar di atas waktu

Sungguh dadamu adalah memang lautan yang dalam dan seluas langit biru
Dan aku tak akan sampai di dasarnya kecuali dengan kelembutan hatiku
Maka kulakukan semua itu agar bisa sampai di dasarmu dan bertemu
Dengan segala macam hal yang tak bisa kulihat hanya dengan kedua mataku

Bandungan, 2015


Menanam Padi

Di sebidang tanah tersubur dalam diriku kutanami bibit-bibit padi pilihan
Ia tumbuh bagus memang dengan un-daun, batang dan akar tak berlebihan
Tapi tak dapat dipungkiri di sela-sela padi tumbuh pula put-rumput lain
Yang harus terus kubersihkan dengan telaten agar tak merusak kesuburan

Dan di sebidang tanah yang lain, tak kutanami barang sebiji pohon padi pun
Put-rumput liar bertumbuhan seperti tak dapat kucegah dengan cara apapun
Ada yang meninggi, ada yang menjalar ada pula yang berserabut kiri-kanan
Namun, tak ada padi yang benar-benar tumbuh meski hanya sendirian

Bandungan, 2015



Pisang Roboh

Tak kusangka setelah buahnya matang, pohonnya roboh sendiri ke tanganku
Sebelum kutajamkan arit dan kumenebangnya atau peluh mengucur malu
Tinggal kupetik saja dan kusimpan terlebih dulu agar manis kian menggodaku
Sebelum kumakan penuh perasaan tak berlebihan bersama anak dan istriku

Bandungan, 2015


Membangun Rumah


Benar-benar tak kusangka, kau pun telah membangun rumah dalam rumahku
Bukankah ini rumah sudah sangat kecil dengan hanya memiliki satu pintu
Bukan cuma itu, lantai, pintu, jendela hingga atapnya kau ambil dari milikku
Bahkan sampai rumahku bagai susunan batu-batu lugu tanpa cahaya jiwaku

Bandungan, 2015


Elang dan Agas

Dengan sepasang sayapnya yang lapang elang itu terbang sangat tenang
Mengitari bubungan rumahmu tanpa suara mencekik kecuali mata nyalang
Tanganmu bersedekap di atas debar jantung yang semakin kencang
Sebab ternyata kau hanya seekor agas dengan angan melambung-lambung

Elang itu semakin nyaman menikmati bentangan sawah luas, sungai mengalir
Hutan perawan, laut tak terbatas, perkampungan dan taman bunga bersinar
Sementara kau tak bisa berbuat apa-apa kecuali mata yang kian nanar
Dan dekapan tangan yang kian erat, sebab sayapmu tetap tak bisa melebar

Bandungan, 2015



Setetes Embun


Pada dasarnya kita ini hanyalah setetes embun saja di pucuk put-rumput
Menggenggam satu kesempatan sementara sebelum matahari terbit
Dan menghisap kita seluruhnya menjadi embun lain di lain pucuk rumput
Lalu angin datang untuk mengeringkan sisa basah kita penuh semangat

Bandungan, 2015



Enau 1


Tak bisa disalahkan memang ketika sebatang enau harus memanjati sigai
Tersebab batangnya yang kian menjulang, daunnya runduk, buahnya rampai
Sementara sigai tingginya tak berubah, ujungnya ke ujung enau tak sampai
Maka sebagai enau kau pun memilih jalan ini dengan begitu damai

Bandungan, 2015



Enau 2


Mataku semakin perih melihat semakin banyak saja sebatang enau berbeda
Ia memilih memiliki dua sigai atau lebih sekaligus untuk dipanjatinya
Tak perduli sigai-sigai itu milik enau lain yang sudah lama digunakannya
Doa-doa pun bersimpuh pasrah dalam dadaku mendapati ini semua

Bandungan, 2015


F. Rizal Alief
lahir di Gapura Timur, Sumenep. Mahasiswa STKIP PGRI Sumenep ini menulis puisi dan cerpen serta beberap novel sejak jadi perantau di Yogyakarta. Kumpulan puisi tunggalnya  Alief Bandungan (2014). Novelnya yang sudah terbit Gaik Bintang (2015) dan Purnama di Langit Pangabasen (2015). Saat ini tinggal di Madura.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:44 wib

BUMN Dukung Pengembangan Wirausaha

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Follow Us