Sajak-sajak Cikie Wahab

9 Agustus 2015 - 08.17 WIB > Dibaca 1167 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Cikie Wahab
Cikie Wahab
Pelupa Kata

Ada yang kuingat dalam limbung tubuhmu
Jatuh ke ceruk khayalku
Sepenuh rindu yang meruap
Menyesap membayangi diri sendiri
Dalam waktu tertentu
Kita bisa menjadi apapun
Memanjang berpilah-pilah pintu
Mengerut tak ingin diganggu

Tak ada yang bisa menahan kita
Dari rasa dahaga yang murka
Sekali sentak kita lengah
Segalanya jadi musnah
Dan kemunculan wajah-wajah
Tak ada bedanya dari masa ke masa
Mencoba melupakan kata
Yang pernah membusungkan dada
“Jangan kau hina burukku. Di situ celah kepasrahan tiba.”
“Jangan resahmu kau pinta. Ada yang kelak kehilangan jua.”

Pantun tak bernama
Kasih tak bertuan punya
Turun ke dalam diri
Belajar menjadi sepi dari pertemuan ini
Sekali saja beri aku sirih
Agar sumpah kehilangan perih
Agar mulut tak lagi berbuih
Di halaman terakhir
Yang kelak kutulis takdir
Tentang permainan kita
Yang mengagungkan kata
Lekat di segala maknanya

Sungguh, bilapun ada gelak tawa
Kumainkan peranan raja-raja
Yang menguasai gempita di dada
Dalam rumah tak bertuan nama
Di sana kita akan belajar
Tentang syair yang panjang
Niscaya kita bisa pulangkan
Kecemasan yang datang silih berganti
Tak mendapat tempat di dalam hati.

Pekanbaru. Juni 2015


Mencium Belang Sendiri

Sebelum kukemas cerita ini dalam sebait sajak
Yang harus kau ketahui tentang seluk beluk hidupku
Aku ingin mengajakmu bermain dadu
Mendengar gemeretak kayu yang kita tepuk dengan pongah
Dan mata menyala yang membuat lelucon seperti neraka
Bahkan dengan sepenuh tawa yang dimainkan siapa saja
Betapa banyak hal yang kita lalui
Dengan doa dan lirikan mantra pengusir sepi
Tapi tak juga kita yang punya kuasa
Atas kehendak membabi buta
Entah pada episode ke berapa aku akan kembali mencintai
Mencium belang wajah sendiri
Menenggelamkan usia
Melangitkan doa
Dan sajak ini berkali-kali akan muncul lagi

Pekanbaru, Juni 2015


Pasu Gewang

Seorang perempuan mandi di pasu gewang
Rambutnya terurai panjang
Molek ke pinggang
Bertambah jalan menuju kediaman
Mencari perhitungan yang diharap datang

Berkesudahan riak ini, Tuan. Tak sanggup menjejak kelam
Haluan badan tak dapat ditentukan
Ke hati jua hamba turutkan
Hingga genap sendirian
Berhati jalan dengan tengkuluk bunda kandung
Ke mana hendak pulang
Ke ayah berlindung naung

Makan dan minum ia di balai panjang
Sambil bercakap kasih yang hilang
Batang tumbang rimba di hadang
Jangan besarkan rusuh di pikiran
Kelak pulang hanya segantang pesan

Pku. Juni 2015


Jikalau, Dik

Jikalau lambatlah, Dik    
Kita tebar larangan
Mandi dan berlabuh di dalam jamban
Di anjungan pembawa kabar kedatangan
Penat di badan tak hilang-hilang

Biar hamba menjadi bagian dari jemputan Sultan
Dendang bertabuhan
Periuk naik titian
Burung pergam dan selais medang
Jadi jamuan tuan dan puan

Jikalau tepatlah, Dik
Gemulai pucuk meranti
Tegak tersentak sebagai harga diri
Menyeret sampan hingga ke tepi
Negeri yang dinanti  sepasang suami istri

Bukan main rancak salam
Salam pembuka nak dipandang
Sembah kita pada Tuhan
Lidi sekebat jadi pengikat

Jika eloklah, Dik
Punai kan tepat pulang ke sarang
Kasih kan genap berangkulan
Bersiaplah kita menjadi tongkat
Yang menyabung gelanggang nikmat

Pku, Juni 2015


Kenduri

Dari sebuah kenduri besar
Lengkaplah pelayaran di seluruh Bandar
Paras  terkinyam bintang
Terang seluruh alam
Embun membekas kabut
Lengang ke gelanggang
Luaslah perumpamaan
Gendang bertabuhan, makanan dihidangkan
Keris pusaka tersandang
Anjungan meninggi di tepian

Sesungguhnya yang demikian, Tuan
Ada doa-doa saling bersilangan
Perkara kebahagiaan yang dapat ditakar
Jarak haluan yang telah terbakar
Pun orang-orang semakin paham
Dalam pelita
Kenduri dipenuhi gelak tawa

Pku, Juni 2015



Cikie Wahab
lahir dan tinggal di Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf. Beberapa karyanya terbit di Jawa Pos, Riau Pos, Sumut Pos, Majalah Sagang, Story, Radar Banten, Padang Ekspres dan Indopos. Cerpen dan puisinya terangkum dalam antologi bersama seperti Fragmen Waktu, Robohkan Pagar Ini, Datuk, Bulan Majapahit Mojokerto, Kopi Hujan Pagi, dan Ayat-ayat Selat Sakat, dan Bendera Putih untuk Tuhan. Cerpennya “Kesalahan Angin Selatan” terpilih sebagai cerpen terbaik lomba menulis “Kawabanua, Kalimantan Selatan dalam Cerita.” Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Gaun Sinar Bulan (2012). 
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us