Oleh: Asmawi Ibrahim

Riau di Ujung Harapan 2020

9 Agustus 2015 - 08.22 WIB > Dibaca 1398 kali | Komentar
 
Riau di Ujung Harapan 2020
VISI misi Provinsi Riau belum berubah sejak disahkannya Perda nomor 36 tahun 2001. Bunyinya, terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian dan kebudayaan Melayu dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis, Sejahtera Lahir dan Batin di Asia Tenggara 2020. Jika dihitung angka, itu berarti tinggal empat tahun empat bulan lagi. Dengan sisa waktu yang singkat itu, tentu begitu kecil kemungkinan akan tercapai. Jangankan pusat perekonomian dan kebudayaan, kondisi perekonomian masyarakat Riau hingga kini masih tertatih-tatih. Sejahtera lahir batin juga masih jauh panggang dari api.

Faktanya angka kemiskinan masih cukup tinggi. Badan perencanaan pembangunan daerah (Bappeda) Provinsi Riau tahun 2014 merilis 8,4 persen penduduk Riau masih tergolong miskin. Belum lagi persoalan pendidikan, kesehatan hingga infrastruktur. Bergulirnya otonomi daerah sejak 1999 lalu dimana anggaran pendapatan belanja daerah seluruh Riau meningkat drastis, ternyata belum berbanding lurus dengan perbaikan semua persoalan itu. Kini, jika ditotal APBD Provinsi Riau bersama kabupaten/kota, jumlahnya hampir mencapai Rp36 triliun lebih. Wow, angka yang seharusnya mampu menjadikan pembangunan lebih maksimal jika pemanfaatannya tepat sasaran.

Dalam lingkungan masyarakat yang agamis, ini peluang ketercapaian paling dominan. Sebab tidak perlu banyak membuat kebijakan. Riau sebagai negeri Melayu yang bercirikan Islam, tinggal menguatkan nilai-nilai agamisnya yang sudah terpelihara sejak masa dahulunya. Syukurnya, hingga saat ini suasana masyarakat agamis itu masih terpelihara cukup baik meski gempuran modernisasi terus terjadi. Seluruh stakeholder mampu berpijak kebijakannya atas nilai-nilai Melayu nan berlandaskan  Islam.

Menjadi pusat kebudayaan Melayu juga dipandang masih jauh dari pencapainnya. Hal ini mengemuka dari pandangan para budayawan, tokoh masyarakat, seniman dan lainnya. Pengembangan dan membuat kebudayaan Melayu menjadi besar dan pusat rujukan di negeri Riau ini masih belum membumi. Masih banyak diperlukan keberpihakan pemerintah untuk mewujudkannnya. Jangan hanya sebatas simbol dan seremonial tapi pemasyarakatan tidak tercapai sama sekali. Kerja menjadikan sebagai pusat kebudayaan melayu masih membutuhkan waktu cukup panjang.

Pencapaian yang ambisius dalam visi itu Asia Tenggara. Sebuah cita-cita tentu boleh setinggi-tingginya. Kalau perlu lingkup dunia. Tapi sekali lagi tinggal empat tahun empat bulan lagi waktu tersisa. Jika menjadi pusat di Asia Tenggara tentu harus lebih hebat dibanding negeri tetangga. Tapi kita harus pulalah logis. Jangankan lebih. Untuk saat ini mendekati saja tidak. Yang paling logis untuk saat ini adalah merevisi kembali Perda itu terutama tahun pencapaiannya. Supaya semua pihak dapat  lagi membicarakannya. Dapat lagi berkegiatan. Sebab dengan angka 2020 yang masih dalam perda, cara berpikir sebagian orang masih di logika tidak mungkin tercapai di waktu singkat.

Hari ini bisa jadi pijakan untuk berpikir ulang sudah sejauh mana percapaian visi Riau. Riau merayakan hari jadinya ke 58. Berpikir ulang untuk membenahi berbagai persoalan yang membelit. Harus ada sikap optimis yang tinggi. Harus ada kekompakan. Kerja keras. Bersihkan segala bentuk kepentingan yang hanya memperkaya perorangan. Segala kemampuan anggaran daerah harus digunakan sepenuhnya untuk kemaslahatan masyarakat Riau. Semoga Provinsi Riau mencapai kesejahteraan, berbudaya dalam lingkup yang agamis.***


Asmawi Ibrahim

Pemimpin Redaksi
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Pertamina Jamin Pasokan BBM di Riau Cukup

Kamis, 15 November 2018 - 15:15 wib

Sinergi Pemerintah-Swasta Tingkatkan Pendidikan Karakter Guru

Kamis, 15 November 2018 - 15:01 wib

Bulog Tawarkan Beras Berkualitas dan Murah

Kamis, 15 November 2018 - 15:00 wib

Banjir di Inhu Kembali Makan Korban

Kamis, 15 November 2018 - 14:47 wib

Taruna Akademi AL ke Negeri Istana

Kamis, 15 November 2018 - 14:30 wib

Desember, Awal Pemeriksaan JCH

Kamis, 15 November 2018 - 14:13 wib

Pembangunan Berbasis Pengurangan Risiko Bencana

Kamis, 15 November 2018 - 14:00 wib

Ganti Bola LHE Terkesan Proyek

Follow Us