ESAI BUDAYA

Menggaungkan Hari Puisi Indonesia

16 Agustus 2015 - 11.43 WIB > Dibaca 802 kali | Komentar
 
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar

SEJUMLAH sastrawan angkatan muda di Riau melakukan kunjungan silaturahim ke rumah sejumlah sastrawan yang lebih senior. Kunjungan yang digelar dalam suasana Idul Fitri tentu saja punya makna berlapis. Suasana ritual saling memaafkan sekaligus upaya nyata membuhul hubungan liuntas generasi sastra. Boleh jadi, sastrawan-sastrawan senior yang dulu pernah jaya di zamannya lalu sekarang memasuki masa dorman (tidur) kreativitasnya, perlu dikejutkan agar kembali bangkit. Setidak-tidaknya para senior itu masih dikenang oleh generasi sesudahnya.

Kegiatan silaturahim  yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Puisi Indonesia  (HPI) yang dikemas dengan nama  Salam Puisi. Acara ini digagas oleh sejumlah komunitas sastra di Riau yang dikoordinatori oleh sastrawan dan tetarawan, Kunni Masrohanti. Setidak-Tidaknya terdapat enam komunitas seni yang turut menggelorakan HPI di Riau, khususnya Pekanbaru. Sebuah tempat bersejarah yang dijadikan lokasi pendeklarasian HPI pada tanggal 22 Nopember 2012 silam. Tak kurang dari 40 penyair Indonesia turut hadir. Komunitas itu di antaranya Komunitas Rumah Sunting, FLP, Pena Terbang, dan Paragraf.

Kegiatan-kegiatan lain yang digelar dalam rangkaian HPI kali ini selain Salam Puisi juga road show ke sejumlah SMA atau sederajat, pembacaan puisi, diskusi puisi dan perayaan puncak HPI yang dipusatkan di bawah Jembatan Siak III tepatnya 31 Juli 2015.

HPI yang disepakati oleh para deklarator-sastrawan dari seluruh Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri dissepakati tanggal 26 April. Persis hari kelahiran Pelopor Puisi Modern Indonesia, Chairil Anwar.  Selama dua tahun berturut-turut, gaung HPI terkean hanya bergaung di ibukota Jakarta dengan rangkaian kegiatan Lomba Baca Puisi Nasional, pemilihan buku puisi terbaik dan perayaan puncak HPI yang selalu dipusatkan di TIM Jakarta.

Sementara di Tanah Melayu Riau yang menjadi titik awal munculnya HPI justru sebelum ini terkesan agak sepi. Padahal, Gubernur Riau waktu itu- HM. Rusli Zainal yang menjadi tokoh utama dalam deklarasi HPI itu berazam agar setiap tahun para camat di Provinsi Riau harus menggelar acara perayaan kegiatan HPI. Sayang, gagasan manis yang bernas itu bak terkendala di tengah jalan. Apalagi kemudian ditakdirkan, Rusli Zainal berhadapan dengan kasus hukum selaku kepala daerah Riau.

Boleh jadi  hingga kini masih banyak orang di negeri ini yang belum tahu. Apalagi faham secara mendalam hakikat HPI itu.  Padahal, sejak awal, para sejumlah sastrawan Indonesia yakni  sastrawan Rida K. Liamsi -raja media di Riau yang selalu mengabdikan dirinya bagi dunia sastra-, kritikus Maman S. Mahayana, Agus R. Sarjono, Pemred Majalah Sastra Horison, Jamal D. Rahman dan sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda. Sudah bersusah payah membahas dan mendiskusikan arti penting HPI bagi negeri ini.

Gagasan mewujudkan HPI tentu tak muluk-muluk. Indonesia yang sejak lama sudah memiliki tradisi sasra khususnya perpuisian yang panjang -sejak masa purba, penjajahan, kemerdekaan hingga kini sekitar ribuan tahun- cukup menyedihkan bila tak punya Hari Puisi yang patut dikenang dan diabadikan. Padahal di negara lain, sudah jadi hal biasa ketika cuplikan bait puisi para penyair besar di negara itu dipajang di tembok atau bagian gedung yang dapat membangkitkan ingatan kolektif rakyat bahkan dipandang dapat memotivasi kehidupan bernegara dan berbangsa.

Adanya HPI tentu  tak perlu ada yang harus dicurigai.  Sebab HPI lahir tanpa ada tendensi politik, atau modus-modus yang lain-lain. Keberadaan HPI semata-mata  diperuntukkan bagi semua penyair  dan peminat puisi Indonesia tanpa membedakan kelamin, asal dan golongan.

Mimpi indah dengan HPI sesungguhnya bagamana HPI suatu ketika tercantum dalam agenda Hari Besar di Indonesia. Tentu saja diperlukan political will dari pihak pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang membidangi soal-soal budaya termasuk puisi.

Puisi memang tak serta-merta bisa membuat pencipta (creator) jadi kaya dan sejahtera. Tapi yang pasti, puisi pasti dapat memperhalus budi bagi setiap warga yang mencintai dan memujanya. Siapa yang tak pernah lepas dari puisi dalam rentang panjang kehidupannya. Ingatlah di masa-masa belia dulu, tradisi jatuh cinta tak akan lengkap tanpa kata-kata indah yang berbunga-bunga yang tak lain adalah puisi.

Di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang kian sibuk dan rumit, boleh jadi puisi mampu jadi penengah atau pemecah kebuntuan di tengah silang-sengketa yang tak berujung. Tindak kekerasan di negeri ini benar-benar sudah merasuk ke semua sumsum kehidupan. Mulai kehidupan anak, perempuan hingga para lansia. Tak ada hari tanpa peristiwa kejahatan.

Tradisi perpuisian di Indonesia yang jadi mimpi para penyair di mana-mana bagaimana puisi sebagai bacaan atau pertunjukan mampu menjadi selingan yang indah bagi semua orang. Mulai dari orang awam hingga pejabat atau birokrat atau pula para pebisnis yang bergelimang uang. Semestinya puisi mampu menjadi alat pencerah bagi siapa saja terutama para birokrat dan pebisnis yang sangat berpeluang khilaf dalam menjalankan amanat rakyat.

Siklus kehalusan budi itu tentu bisa mengalir seanjang waktu apabila ada kolaborasi yang manis di antara pihak-pihak penentu di negeri ini. Para birokrat yang menyukai puisi tentu dharapkan bakal memiliki kehalusan budi dan perilaku terpuji dan lembut. Bagi ppara pebisnis yang mencintai puisi dapat berperan jadi maesenas -orang kaya yang memberikan kepedulian secara materi bagi kehidupan seni termasuk puisi.

Sedangkan para penyair yang sepanjang waktu mencipta dan melahirkan puisi, dapat bertahan dan eksis karena karya-karya yang dilahirkan amat dibutuhkan oleh banyak orang. Semua itu tentu saja memerlukan lompatan-lomatan apresiatif yang terus berproses. Tak mudah memang menjadikan puisi sebagai kebutuhan atau jadi bagian kehidupan yang tak terpisahkan dari rutinitas yang tak pernah berhenti.

HPI memang harus selalu digaungkan agar tetap mengalir dalam nadi-nadi spiritual rakyat dan semua golongan di negeri ini. Para penyair memang hanya mampu mengukir kata yang indah dan penuh kearifan. Tentu masyarakatlah yang dapat memaknainya. Atau memberi arti yang sepadan dengan keluhuran para penyair dalam melahirkan karya-karya puisi itu. ***

Fakhrunnas MA Jabbar, adalah sastrawan, Dosen Universitas Islam Riau.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us