CERPEN

Aminula

16 Agustus 2015 - 11.46 WIB > Dibaca 1572 kali | Komentar
 
Oleh Griven H Putra

Pada bulan Syawal ini,  kampung kami  dikejutkan dengan ke    munculan kembali Aminula yang menghilang tanpa berita sejak sepuluh tahun lalu.

Bukan persoalan datang setelah menghilang yang dibicarakan orang, tapi kedatangannya ini membawa tingkah di luar kebiasaan banyak orang. Mulai minta maaf karena dulu pernah mencuri jambu, pisang, rambutan, mencuri anak ayam, hingga mencuri ikan di jaring, di lukah atau dalam sangkar penduduk. Ia juga minta maaf karena pernah mencuri sarung, sandal atau celana sempak penduduk.

Pokoknya ia datang mengakui dosa-dosa yang ia lakukan di masa lalu kepada orang yang dianggapnya pernah membuatnya berdosa. Kalau memang barang yang dicurinya minta diganti, ia pun menggantinya. Kalau mereka memaafkan, ia pun senang, dan tersenyum sepanjang jalan.

Kabarnya Aminula datang ke rumah penduduk pada saat senja sesudah berbuka atau lebih tepatnya seusai salat Magrib. Kalau merasa sudah dimaafkan atau selesai utang piutang, Aminula pun mohon diri yang diantar dengan senyum cemooh sebagian orang yang didatanginya tersebut. Senyum yang diiringi kata, Dasar bongak.

Tentang Aminula, kini umurnya diperkirakan sudah hampir 40 tahun karena kurasa umur kami tak jauh terpaut. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ia dipelihara adik emaknya karena ayahnya beristri lagi. Sesudah adik emaknya atau Makngahnya meninggal, Aminula pun tinggal di rumah keluarganya yang lain secara berganti-ganti hingga menghilang sepuluh tahun lalu.

Ada-ada saja ulah si Amin malam tadi, kata Mak Irah bercerita pada beberapa perempuan di bawah pohon mangga di depan rumah kami.

Apa ulah si Amin yang mengada-ada itu, Rah? tanya Mak Sariba pada Mak Irah.

Malam tadi, magrib-magrib ia datang ke rumah, minta ampun dosa karena dulu pernah mencuri telur ayam kami.

Ibu-ibu yang seperti arisan itu langsung tertawa ngakak mendengar penuturan Mak Irah tersebut.

Dasar bongak-alang, mengambil telur saja minta dimaafkan, kata Mak Irah dengan bibir mencibir.

Ibu-ibu yang lain kembali tertawa berderai, berdekah-dekah.

Wui ada yang lebih hebat, kata Tek Dao menghentikan tawa ibu-ibu itu.

Hmm. Apa itu, Da?

Tek Dao memperbaiki sanggulnya yang hampir terkucil. Kabarnya kemarin ia datang ke rumah Mawar, suara Tek Dao mengecil. Berhenti sejenak. Wajahnya celingak-celinguk, memandang kir dan kanan.  Ibu-ibu yang lain antusias menunggu kelanjutan cerita Tek Dao.

Cepatlah, Dao, macam Pak Wali mau minta sumbangan saja Awak ni, kata seorang ibu tak sabar. Ibu-ibu yang lain kembali tertawa.

Ya. Cepatlah Dao! kata yang lain pula mendesak.

Ia minta maaf pada Yatni dan suaminya.

Karena apa? tanya Mak Sariba tak sabar.

Karena dulu pernah mengintip Yatni tidur.

Tawa ibu-ibu kembali terbakah-bakah. Mereka ketawa seperti hampir terkencing-kencing. Air mata mereka keluar.

Lalu apa kata Zali? tanya Mak Sariba lagi sambil mengusap matanya yang berair usai tertawa.

Sebagai suami, tentulah Zali marah besar. Sampai kini kabarnya Zali masih merajuk.

Kenapa pula sampai merajuk karena itu?

Tawa ibu-ibu semakin kuat. Mereka lupa kalau sekarang masih bulan puasa.

Entahlah.

Lalu Aminula?

Melihat Zali mau mengambil parang panjang, Aminula langsung angkat kaki dari rumah itu. Terjun tak bertangga, kata Tek Dao yang disambut tawa ibu-ibu yang semakin berdekah-dekah, terpingkal-pingkal.

Ibu-ibu yang berkumpul di bawah pohon mempelam di depan rumah kami tak kering ketawa. Siang ini mereka seolah kenyang oleh tawa. Aku nikmat sekali menguping gosip ibu-ibu kampung melalui dinding papan rumah emak yang bocor.

Aku merasa penasaran mendengar cerita tentang Aminula tersebut. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada si Amin. Aku tak menyangka ia begitu.

Usai shalat Magrib aku langsung turun mencari di rumah siapa malam ini Aminula singgah. Aku coba berjalan menuju ke hilir. Di depan setiap rumah yang terbuka pintunya aku berhenti, mengintip dari jauh, memastikan apakah mereka kedatangan Aminula.

Walaupun sudah hampir separuh kampung kulalui, Aminula belum juga kutemukan. Timbul juga rasa ragu untuk melanjutkan perjalanan karena renyai mulai turun setitik-setitik, tapi akhirnya kukuatkan juga tekad untuk menemukannya. Batinku gelisah kalau Jumat malam ini tak bisa menemukan si Amin, sebab kalau tak ada aral, esok, Sabtu pagi akan kembali ke kota, ke tempat aku bekerja.

Seperti dituntun, aku berjalan menuju rumah Aminula yang telah lama ditinggalkan. Seperti galibnya rumah tinggal, malam ini tentulah gelap meruap di mana-mana.
Kunaiki tangga rumah hati-hati. Kucoba menguak daun pintu. Derit pintu di tengah gerimis yang mulai membesar membuat suasana menjadi lain malam ini. Dengan perasaan takut dan penasaran, kulongokkan kepala ke dalam pelan-pelan. Bau bangkai menyeruak. Kupetik kontak lampu senter. Cahaya senter kuarahkan ke sekeliling, ke depan, ke samping, ke bawah dan ke atas. Kosong.

Gelap. Hati-hati, kuraba ke dalam, ke ruang kosong, jaring laba-laba memuntal tangan kananku. Hidungku semakin dicucuk bau bangkai, mungkin tikus yang baru mati karena diracun orang rumah sebelah.

Lampu senterku tiba-tiba padam. Kumainkan kontaknya ke depan dan ke belakang. Tetap tak mau nyala. Kupukul-pukulkan kepala senter ke telapak tangan kiri mana tahu bola senter kurang pas. Masih belum menyala.

Bermacam bagai rasa tiba-tiba memenuhi batinku. Aku memutar badan, menuruni tangga, tapi tiba-tiba seperti ada tangan besar menarik dan mencengkram bahuku dari belakang. Mulutku terkunci. Jantungku berdebar semakin tak teratur. Kucoba memutar badan sekuat bisa. Tapi tetap tak bisa. Akhirnya aku menurut, berjalan mundur mengikuti tangan besar itu ke dalam rumah. Aku mulai merasa takut yang amat kuat.

Tiba- tiba dalam gelap-mengakap, di depanku timbul cahaya berwarna-warni yang tak bisa kunamai. Warna yang muncul tidak saja kuning, putih, hijau, biru, ungu dan warna-warna biasa yang berkilauan tapi ada warna baru yang belum pernah aku lihat seumur hidup.

Di samping kilauan cahaya warna-warni yang memancar saling berganti, kini hidungku tidak lagi ditusuk bau bangkai tikus tapi disapa wangi yang belum pernah aku hidu seumur hidup. Aku terpana, rasa takut dan berbagai rasa yang tak enak tiba-tiba hilang.

Entah sudah berapa lama berjalan mundur, telingaku mendengar berbagai kicau burung lalu berubah menjadi musik yang amat aneh. Aku juga belum pernah mendengarkan denting dari dawai gitar, biola, akordion, seruling atau harfa siapapun yang menghasilkan bunyi seperti ini. Semakin lama semakin menyayat. Tubuhku kini seolah dibawa ke atas, menembus langit lorong. Semakin lama semakin tinggi. Kini aku seolah mengendarai cahaya yang diiringi bunyi-bunyian aneh dan aroma harum yang entah berasal dari mana.

Setelah sekian lama seperti itu, aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan besar dan kuat di bahuku. Kucoba membaca seluruh mantra dan ayat-ayat suci untuk mengusir kalau barangkali tangan besar yang mencengkeram ini merupakan jelmaan jin atau jembalang setan. Namun semakin banyak mantra doa dan ayat suci kubaca semakin besar saja rasanya tangan di bahuku, dan cengkeramannya semakin lekat dan kuat.

Ketakutanku semakin bertambah. Akhirnya aku pun memasrahkan diri. Aku berzikir dalam hati. Aku biarkan diriku tak berdaya. Lagi-lagi hal aneh terjadi lagi. Semakin pasrah, makin ringan dan kecil pula rasanya tangan besar di bahuku. Merasa begitu, kucoba menenangkan diri, dan membiarkan diriku dalam hampa dan tak punya kuasa.
Ternyata strategiku berhasil. Kini aku bebas. Tangan besar yang menggangguku terlepas. Aku langsung membalik ke belakang. Melihat siapa sesungguhnya yang tadi memegang pundakku.

Aminula? Aku terkejut. Aku lihat tangannya, biasa saja. Kupandang wajahnya sekali lagi. Betapa sangat terkejutnya aku karena rupanya kini Aminula tiba-tiba sudah memakai sorban dan jubah putih dengan janggut keperakan. Kulihat ke bawah, ke tangannya, kini sudah tergayut pula sehelai tasbih berwarna keemasan. Di sekelilingnya pun perlahan diliputi sorot cahaya yang warnanya bergonta-ganti menyilaukan pandangan.

Aminula tersenyum. Jantungku berdebar melihat senyum Aminula. Sebaris giginya bercahaya. Aku tertunduk. Mataku tak sanggup melihat cahaya-cahaya yang berpancaran dari gigi Aminula yang tak teratur.

Aku berupaya menaikkan wajah tapi terasa berat. Seolah ada sinar terang mencawang panas di hadapanku. Aku betul-betul tak sanggup menatap ke arah Aminula. Semakin lama tubuhnya terasa semakin panas bercahaya. Mataku serasa mau terbakar.

Setelah hawa panas hilang, kubuka mata, rupanya Aminula tak ada lagi. Tak lama kemudian aku melihat ke bawah, segerombolan ibu-ibu tercungap-cungap di permukaan laut seperti akan tenggelam. Mereka melambai, melolong-lolong minta pertolongan pada Aminula padahal Aminula sudah tidak ada lagi. 

Aku berusaha ke tempat mereka tapi tak kuat. Tangan dan kakiku serasa kejang. Kudengar terus pekik-pingkau mereka memanggil-manggil minta tolong. Suara mereka seperti suara Mak Irah, Mak Sariba dan ibu-ibu yang ngerumpi tentang Aminula di depan rumah kami kemarin.

***

Her. Sadar, Nak. Sadar.

Kubuka mata, rupanya ada emak dan banyak sekali orang di sekelilingku. Betapa malu rasanya dikelilingi orang-orang, apalagi dalam posisi tertelentang begini.

Aku duduk.

Ada apa dengan saya, Wak?

Kamu ditemukan di rumah Aminula dalam keadaan pingsan. Mengapa...

Mak Sariba dan Mak Irah di mana? Aku potong pertanyaan Wak Basil.

Orang-orang di sekelilingku saling pandang. Mereka seperti terkejut mendengar pertanyaanku.

Mereka tadi pagi dibawa ke rumah sakit karena mencret dan muntah-muntah, jelas Wak Basil beberapa saat kemudian sambil melihatku dengan pandangan ganjil.

Kabarnya mereka terus menceracau, menyebut-nyebut nama Aminula, sambung Wak Basil lagi.

Aminula? Aku termenung, mencoba mengingat kejadian semalam. Apakah Mak Sariba dan kawan-kawannya kena tulah karena menggunjingkan Aminula kemarin? Dan betulkah Aminula bongak-alang seperti yang diceritakan orang-orang kampung kami? Tapi mengapa kini ia berprilaku dan datang dalam pingsanku seperti orang keramat yang selalu diceritakan orang tua-tua kepada kami semasa kanak-kanak dahulu? Apakah di bulan puasa tahun ini Aminula mendapat lailatul qadar?***

Griven H Putra,  adalah sastrawan Riau yang rajin menulis cerpen, esai, cerita rakyat. Bermastautin di Kota Bertuah Pekanbaru.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Pekanbaru Yakin Jadi Tuan Rumah Porprov 2021

Rabu, 21 November 2018 - 10:00 wib

Polisi Telusuri Jaringan Pengedar Empat Kilogram Sabu-Sabu

Rabu, 21 November 2018 - 09:53 wib

Solar Langka di Batam

Rabu, 21 November 2018 - 09:50 wib

dembele kecanduan game

Rabu, 21 November 2018 - 09:46 wib

Beban Belanja Pegawai Makin Berat

Rabu, 21 November 2018 - 09:45 wib

Jembatan Kayu Sei Mondiang Kota Lama Butuh Perhatian

Rabu, 21 November 2018 - 09:41 wib

MoU APBD Terkendala Utang

Rabu, 21 November 2018 - 09:40 wib

Ekspedisi Terios 7 Wonders Tempuh 1.574 Km

Follow Us