ALINEA

Sebutan

16 Agustus 2015 - 11.53 WIB > Dibaca 1344 kali | Komentar
 
Oleh Zainal Abidin

Siang itu, mentari menyengat meskipun laut teduh menghantarkan perjalanan kami ke Tanjung Samak menuju Desa Sokop di Pulau Ransang, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Dengan bimbingan Pak Sutisno, seorang guru SD di daerah tersebut, kami menumpang kapal pengangkut barang. Di tepi Sungai Sodor, sepanjang perjalanan kami melihat beberapa nelayan tengah memasang belat (alat penangkap ikan) di sela-sela pohon bakau. Setelah satu jam, kami pun tiba di pelabuhan Desa (Kampung) Sokop. Masih harus melanjutkan perjalanan naik sepeda motor selama lima belas menit, kami akhirnya sampai di rumah Pak Sutisno, tempat kami diberi tumpangan (menginap). Setelah dua hari menginap di rumah Sutisno, kami melanjutkan perjalanan jauh ke salah satu dusun (masih di Kampung Sokop). Dengan sepeda motor, kami menempuh “jalan” menuju rumah-rumah pemberian pemerintah bertemu “kampung” setelah dua jam menembus semak di antara hutan sagu.

Demikianlah perjalanan kami (Zainal Abidin, Arpina, Irfariati, dan Irwanto dari Balai Bahasa Provinsi Riau) tahun 2014 menuju Desa Sokop, salah satu komunitas suku Asli (Akit) yang ada di Riau seperti halnya Talang Mamak, Sakai, Bonai, dan Duano. “Jauh” (dari ibu kota provinsi) adalah kesan yang kami dapatkan. Mungkin tersebab demikian, pemerintah menyematkan label KAT (Komunitas Adat Terpencil) untuk suku ini. Sebutan ini untuk menamai program pemerintah yang bertujuan menyeimbangkan perhatian dan usaha-usaha pembinaan, perlindungan, pemberdayaan, dan percepatan peningkatan di semua bidang, baik sosial budaya, pendidikan, ekonomi, maupun keagamaan pada suku-suku terdalam di wilayah Indonesia. 

Memang, kelompok penduduk di dusun ini masih berbentuk komunitas kecil, agak tertutup, dan homogen. Semakin jauh ke dalam pulau, ketertutupannya semakin jelas. Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan, mulai dari kakek sampai dengan cucu masih dalam satu tempat tinggal. Dapat dilihat akses jalan belum terbuka, tempat tinggal mereka terpencil secara geografis dan relatif sulit dijangkau. Mereka juga masih hidup dengan sistem ekonomi subsistem, peralatan dan teknologinya sederhana.
Ketergantungan mereka pada lingkungan hidup dan sumber daya alam setempat relatif tinggi sehingga hanya mengenal “cari ikan” (nelayan) sebagai penyambung hidup. Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi, dan politik membuat semakin lengkap hidup “apa adanya”. Wajar saja kalau komunitas ini mendapat sebutan yang berbeda dengan komunitas lain di Riau.

Mungkin, bagi sebagian orang menganggap penyebutan bukan masalah. Tapi, masih ingatkah sebutan “Boyan” kepada orang Bawean yang menjadi masalah besar di Singapura dan Malaysia? Suku Anak Dalam juga tidak mau disebut “Kubu” di wilayah Dhamasraya, Sumatera Barat, dan Jambi. Di Riau, persoalan serupa juga dialami oleh suku Akit dengan sebutan “suku Utan” dan “suku Hatas”. Entah dari mana asal sebutan tersebut hingga tak bisa dilepaskan. Padahal, sebutan ini berhubungan erat dengan Sultan Siak sekitar abad ke-13 yang memanggil sejumlah orang untuk membantu persiapan acara perhelatan di Kerajaan Siak. Sebagian orang diminta untuk mencari kayu ke hutan, sebagian lagi meretas sungai (meluruskan tepi sungai agar lebih rapi dan lebar), dan sebagian lagi membuat rakit. Ketika semua pekerjaan sudah selesai, ketiga kelompok orang yang bekerja tersebut dipanggil lagi oleh Sultan Siak. Tiga kelompok orang tersebut kemudian diberi nama. Suku yang menebang kayu di hutan disebut suku Utan, yang meretas sungai disebut suku Hatas, dan yang membuat rakit disebut suku Akit.

Setakat ini, sebutan KAT oleh pemerintah untuk komunitas tadi ditafsirkan berbeda oleh masyarakat. Kesimpangsiuran ini diduga menyebabkan antipati suku-suku tersebut terhadap pelaksanaan program yang dicanangkan oleh pemerintah. Mungkin, bagi saya, huruf terakhir dalam akronim ini yang menjadi masalah. Mana yang benar, terasing atau terpencil?

Kalau kita buka  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terasing berarti ‘terpisah dari yang lain’. Kata terasing sejajar dengan kata diasingkan dan mengasingkan. Kalau ada “yang diasingkan”  dan “yang mengasingkan” maka akan muncul pula “Siapa yang diasingkan?” dan “Siapa yang mengasingkan?” Sebagai contoh, dalam sejarah, kita pernah membaca tentang Ir. Sukarno  yang “dibuang” (diasingkan) oleh pemerintah Belanda ke Parapat, Sumatera Utara, dan Mohammad Hatta ke Tanah Merah, Boven Digul, Papua, karena dianggap provokator kemerdekaan RI. Lantas, jika ini kita sematkan kepada  suku Asli. Pertanyaan yang menggelitik adalah “Siapa yang mengasingkan mereka?”

Selain berbau politik, terasing berasosiasi dengan “terbelakang” atau “tidak diperhatikan”. Makna inilah yang sering “tidak mengenakkan” di telinga. Jadi bisa dimaklumi, kalau ada pemuda dari suku Asli tersinggung “ulah” sebuah tulisan yang menyebut sukunya termasuk masyarakat terasing hingga ia menuliskan keluhan tersebut lewat surat pembaca di  harian ini. Bukankah sebutan ini sejak 1970 telah diubah secara resmi oleh Menteri Sosial, M. Tambunan, bersama Gubernur Riau, Arifin Ahmad, di desa Sokop? Terlebih-lebih setelah diterbitkannya Kepres No. 111 Tahun 1999 oleh Presiden B.J. Habibie pada tanggal 13 September 1999.

Lantas, bagaimana dengan terpencil? Terpencil, masih dalam kamus yang sama (KBBI), berarti ‘tersendiri; jauh dari yang lain’. Arti ini berkenaan dengan tempat tinggal yang sangat jauh sehingga sulit berinteraksi dengan masyarakat dari daerah lain karena kurangnya sarana dan prasarana transportasi menuju ke tempat tersebut. Berdasarkan pengalaman saya saat menuju kampung Sokop, definisi ini lebih berterima. Lagi pula, dalam  KBBI tidak ditemukan bentukan dipencilkan atau memencilkan sehingga tidak memungkinkan asosiasi lain karena lebih sesuai dengan maksud yang diinginkan.
Siapa yang mau hidup terpencil jauh di tengah hutan? Nasib dan keberuntungan saja yang menyebabkan itu. Janganlah tersebab sebuah sebutan yang menjadikan mereka “terasing” di mata tuan-tuan. Jangan lagi sebut mereka terasing. Biarlah angin dan rasa kemerdekaan (dari sebutan) juga bisa mereka rasakan. Dirgahayulah Indonesiaku. Salam merdeka!***

Zainal Abidin, Pegawai (fungsional peneliti) Balai Bahasa Provinsi Riau
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us