PUISI BUDAYA

Puisi-puisi Taufik Ikram Jamil

16 Agustus 2015 - 12.04 WIB > Dibaca 906 kali | Komentar
 
17 agustus

semestinya kita tahu
tak ada yang berulang tahun hari ini
waktu melisut dibelit sia-sia
bahkan detik-detik kepada menit
di antara jam menjelang hari
diselangi minggu dalam bulan
tahun ketika terhitung abad
berpapasan dengan sebarisan alaf
telah begitu terbiasa
untuk saling melupakan
terpandang di mata sebagai kabut
tertelan di tekak laksana sabut
pun saat diraba bagaikan busa
yang dekat tidak tersentuh
tapi jauh tiada berjarak
menjelma jadi bayang-bayang
tanpa sosok ketika terang
sedang gelap melindap
menyepuh setiap harap
dengan malam tak pula berdekap


menulismu lagi

menulismu lagi
tak akan kukekalkan luka-laramu
tapi eranganmu dari kandis sampai sahilan
kekar berakar di sriwijaya muara takus
yang melesat antara melaka dan johor
berdekap keluh di inderagiri dan riau-lingga
pun pada siak setengah jarak
dipagut ribuan tahun tanpa tidur
begitu saja menyerahkan diri pada cursor
menjelmakan diri menjadi titik-titik perih
terbentang di layar macbook air sebagai wajah
pucat  laksana kapas
yang kadang-kadang bergetar
seperti menahan setiap sentak
direnggut waktu tanpa mengelak
ketika tepis dan tangkis
adalah kesia-siaan yang nyaris
berdampingan dengan sedih
dalam acuh saling bertindih

menulismu lagi
aku abaikan koba dan sebarang kayat
mantera dan pantun biarlah lepas
pada pallawa dan pegon atau arab-melayu
aku lipat dalam lupa
tapi rintihmu dalam sulalatus salatin
tertatih-tatih susah dalam hikayat hang tuah
disusun berbaris-baris dalam tuhfat al-nafis
juga pada hikayat pelayaran abdullah
dalam de nederlanders in djohor en siak bertempur
penuh hujjah dalam babulquwaid
begitu saja membuka halaman word doc
yang kehilangan seri sepanjang hari
seperti penat di semerata huruf
dipermainkan bunyi menjelang suara
karena sedu yang tertahan oleh malu
ketika tabiat dan perilaku
tak lagi setia pada kepalsuan
dengan kepura-puraan hendak beradu

terhadap kata-kata dan rangkaian kalimat
telah kausemburkan desis kecewamu
hingga saat hendak menulismu
aku hanya menjadi bermegabyte memori
menyimpan semua gundah-gelanamu
tanpa khawatir akan tumpat penuh-ruah
yang jadi sifat dari setiap benda berongga
setelah sejumlah hardisk bertempik
mematut diri untuk bersama
sisihkan kisah lain
di deretan masa dari kota ke kota
juga kampung menjelang batas
begitu saja berkongsi hendak

ingin benar aku menulis
saat ke yunani membagi debar
melepas depunta hyang dalam sabar
mendengar muhammad setia berujar
bertukar surat dengan umar abdul azis
mengisi ruang dengan setiap puji
berjanji untuk setiap diri
dengan penuh uji tidak berperi
tersebab tak mungkin
memiliki pilihan kecuali berjaya
sentosa dalam berbagai rupa
hingga dalam catatan mpu tantular
dalam negara kertagama empunya judul
menjadi tembang kehidupan
abadi sebagai imajinasi
tak sekedar pemanis honocoroko
doso sawalo mondo botongo
diangkat tak mati-mati
hidup berkalang sayang menyayang

pun menulis puteri gunung ledang
mengurai rambut panjang ikal mayang
senyum berkulum santun terpajang
bukan karena syahwat berpaling
tapi akibat ikhlas yang mengembang
seperti juga saat mengusir portugis di melaka
dari bukitbatu dan bengkalis aduhai riuh
disambut narasinga di inderagiri bergemuruh
seketika raja haji bertempah pasrah
di tangan tuanku tambusai asa diasah
bersosah gairah bersama datuk tabano

sungguh ingin benar aku menulis
saat bersama syarif kasim ke yogyakarta
tak sekedar mahkota dan singgasana emas
ladang minyak dan rimba raya jadi taruhan
di depan soekarno menjadi dunia
juga sekeping jiwa menjadi rakyat
biarpun kemudian terlonta-lonta
dari medan - aceh sampai belakangpadang
hanya karena apa yang disebut revolusi sosial
tercipta karena khianat dan dengki
disambut dengan paham tiada mengerti
disanggah alam yang lebih berhati

tak akan aku tulis
tak akan aku tulis lagi kesedihanmu


minyak bumi bagian akhir

jangan sebut air mata kamilah yang disedot
dari perut bumi selama janji
sebab kami tak bisa lagi menangis
telah tidak bersua antara pipa dengan rig
barrel hanya menghitung kenangan
dideret crown block ke samping angan
sementara kerek bor terlentang pasrah
abaikan substructure
dipadati keluh blow out prever
mengejek dog house dalam bahasa beku
sebelum mud gas separator terbujur
dalam shale shaker mengingkari degasser

telah kami lupakan segela reservoir
saat lumpur tak lagi berhajat pada hidrokarbon
hidrogen dan oksigen serta sulfur maupun nitrogen
adalah sesuatu yang makin asing
apalagi perkara old deep yang dihisap waktu
tiga puluh juta tahun tidak tertunggu
menyerupai endapan kesepian
tak terbaca oleh kisah seribu satu malam
bahkan dalam khayal pun tak bersepadan
kempunan dan tekilan-kilan digali kenyataan
mengeringi dugaan yang basah oleh harap
menjadi kerikil berupa pasir
saat humus tak lagi mengenal hijau
sebab sebarang warna adalah dusta
kecuali merah gersang sejauh mata memandang
juga segunung bayang yang disebut malang

begitu pula di lepas pantai anjungan ditegakkan
dengan mata bor bercerancam tajam
arus dan gelombang mengendap ke dasar laut
tiba di palung mejadi hantu jembalang
bersama kraken menghadang siang
sedang malam adalah pelumat setiap arti
hingga air tak lagi berkongsi dengan bening
sampai vam dam dengan the flying duchman
terkurung di samudera kedelapan
tak tahu lagi jalan kembali

apa susahnya pula kami acuhkan steam flood
dengan beribu derjat celcius air menghugut
mendidihkan kasih menjadi sisih
yang begitu cepat beralih dalih
sebab di atas mahapanas tak ada lagi hangat
sehingga sebutan terpanggang jauh terlewat
melebihi hangus dari hangus
tinggal angguk-angguk yang begitu khusyuk
menandai bagaimana kehidupan segala makhluk
dipuruk kemaruk tamak tanpa suruk

kepada hydrocracker usahlah sebut
sebab tuju sudah luput dengan maksud
tapi telah bertemu pisah dengan taut
atom dan molekul-molekul terurai tanpa diri
hingga bensin dan solar bagai anak haram
adik kandungnya adalah greencock
dengan sifat pembakar sebagai takaran
menyulut setiap perasaan sejauh pesan
mencecerkan perih di setiap jejak
lewat kesumat udara berupa asap
awan yang terlungkup dengan mata terkatup

ada pun minas sampai houston taxas
kami layani dalam mimpi
betapa petro dollar adalah bagian tersendiri
yang tak mengenal rumus pembagi
daulat pun telah hampir menjadi dongeng
menghitung dirinya dalam bohong yang ulung
hingga negara bisa saja membelakangi rakyat
untuk kepentingan-kepentingan sesaat
menempatkan pikat di mana sempat
melarat telah menjadi kata sifat
digenangi laku si empunya tabiat

lalu adakah kami masih disebut kecundang
di negeri sendiri nasib terbuang
minyak ditampung tak sebat di tangan
terasa-rasa ada tertampak tidak
bagai gas yang tak dapat diraba
tak tersentuh kulit tak tercapai tangan
segera hilang di alam terbuka


catatan kaki

subuh
sia-sia bersembunyi dalam gelap
sebab tanpa terang
kita bukan siapa-siapa

pagi
kita harus bergegas mengejar matahari
betapapun ditunggunya kita pada waktu yang sama
dengan hangat serupa seperti sedia kala
menebarkan kesetiaan purba tanpa pilih
dalam keramahan cahaya
menyayangi umat tanpa kata-kata
hingga kita memahami
bagaimana kasih sayang
adalah tindakan mengabdi

duha
tangan maupun kakimu
bebaskanlah dari lenggang dan ayun
agar kau dapatkan gerak
dari jiwa yang diam
hingga capai dan langkah
tak lain dari kesungguhan menghala
berdepan dengan ingin
dari segenap penjuru angin
yang tak mengenalmu sebagai tanda
tetapi sebagai diri mereka sendiri
penuh tanda tanya
berlapis duka

siang
kita belum sampai ke mana-mana
sebab jalan ini sejauh hati
tapi rasa adalah kecurigaan pada istirahat
sebelum lelah menjadikannya tiada

petang
kita mungkin tak lebih dari sebutir debu
itu pun entah
maka mengapa harus mengeluh

malam
akankah kau pergi
padahal kita ternyata belum berangkat
bulan hanyalah bayang-bayag
ditinggal sinar yang belum selesai

dinihari
biarkan pintu itu diketuk
sampai engkau bertanya
tapi yang ditanya
menjawab sebagai yang bertanya

Taufik Ikram Jamil, bermastautin di Pekanbaru, menulis dalam semua genre sastra. Buku puisinya tersebab haku melayu (1995) dan tersebab aku melayu (2005). Segera diluncurkan buku puisinya terbaru tersebab daku melayu dan puisi dalam bahasa asing What Remains and Other Poems (2015).
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us