Oleh: Alvi Puspita

Matinya Amadeo (Si "Uomo Enesto")

23 Agustus 2015 - 12.35 WIB > Dibaca 881 kali | Komentar
 
Matinya Amadeo (Si
Ilustrasi: Burhan/Iwan Setiawan/Riau Pos
Pada cerpennya yang dimuat di Riau Pos edisi Ahad tanggal 5 April 2015, Dantje S. Moeis berkisah tentang Amadeo.

Amadeo laki-laki Italia     yang bertempat tinggal di Venice. Ia menjadi tenaga volunteer pemberi pelajaran tentang Islam bagi penganutnya yang bermukim di sana. 15 Maret 2007 memutuskan menetap di Indonesia setelah beberapa lama menjalin hubungan Long Distance Relationship (LDR) dengan seorang gadis pribumi. Si gadis itu, karena sifat sempurna yang dimiliki Amadeo, maka memberi julukan padanya, Si Uemo Enesto (si orang jujur) dan memanggil dengan panggilan kesayangan, Momo.

Diceritakan oleh si gadis, alangkah jujurnya si Amadeo itu yang menurutnya sangat berbeda dengan kebanyakan orang di negeri ini. Amadeo tak mau ikut-ikutan mencuri, tak mau merampok, membegal dan mencari uang dengan cara tipu lehat. Ia tetap menjalankan usaha dagangnya berpedoman pada apa yang dilakukan Rasulullah. Tak ada faktur atau kwitansi kosong yang ia keluarkan, yang dapat memberi kesempatan penyalahgunaan bagi yang berkepentingan.  Setiap hari ia memberikan pencerahan kepada siapa saja penduduk negeri ini. Kelaziman pola mencari nafkah yang selama ini terjadi, adalah sesuatu yang salah dan tidak diridhoi Tuhan, demikian katanya selalu.

Namun, akhirul kisah, laki-laki jujur itu, Si Uosmo Enesto ditemukan mati membusuk di sebelah gudang dekat dapur rumah si gadis. Dikisahkan bahwa setelah tinggal di Indonesia dan bersikukuh memegang prinsip kejujurannya, Amadeo jatuh bangkrut. Kemudian ia juga jatuh sakit. Menurut paparan si gadis, tidak ada satu rumah sakit pun yang mau menerimannya karena setiap rumah sakit meminta uang panjar terlebih dahulu untuk biaya pengobatan dan perawatan pasien. Sementara, tawaran baik dari si gadis untuk memberikan bantuan uang dan obat tidak pernah diterima Amadeo.

Sampai akhir hayat, Amadeo berhasil memegang prinsip hidupnya. Tapi, tanpa sepengetahuan Amadeo (karena ia sudah jadi mayat), ternyata si gadis (yang rupanya putri pejabat kaya namun korup) menyogok pegawai kantor kota agar jenazah Amadeo boleh dikuburkan di tempat pemakaman yang layak. Si gadis juga membayar orang-orang agar mau mengusung jenazah Amadeo yang sudah membusuk ke kuburan.

Cerpen ini menarik bagi saya dan membuat saya berkelana dan terganggu. Saya diganggu oleh situasi sosial dalam cerpen yang sebagian besar memanglah gambaran nyata di negeri ini. Saya diganggu oleh sosok yang ciptakan Dantje. Saya diganggu oleh ending ceritanya. Untuk menyelesaikan ketergangguan itu maka saya mencari-cari jawab sendiri atas beragam kemungkinan yang diserahkan teks cerpen ini kepada saya dan kepada pembaca yang lain.

Mengapa Amadeo Mati? Mengapa Dantje membunuh Amadeo? Hal apa yang ingin disampaikan Dantje lewat cerpen ini? Jika Amadeo adalah perwakilan dari nilai kejujuran dan kebenaran, bukankah matinya Amadeo berarti matinya nilai-nilai tersebut? Jika nilai-nilai itu mati lalu apakah yang tersisa?

Dan di kepala saya tiba-tiba datang banyak hal. Teringat oleh saya sosok Ashoka muda dalam serial India, Ashoka di Antv. Ashoka adalah sosok yang jujur dan teguh memegang nilai kebenaran yang diajarkan oleh ibunya. Ashoka tidak suka berbohong. Ashoka akan tertib dalam pertandingan tanpa melakukan kecurangan apapun seperti kecurangan yang dilakukan oleh Pangeran Sushima. Ashoka akan membantu siapapun yang kesusahan walaupun orang tersebut pernah mencelakainya. Tapi apa yang diterima oleh Ashoka? Seorang tokoh bertubuh cebol nan licik sambil menghantur sembah menyampaikan pandangannya kepada Acarya Chanakya. Di hutan, pohon yang tumbuh lurus akan ditebang orang. Tapi tidak pohon yang bengkok. Maka saya memilih menjadi pohon yang bengkok. Ashoka adalah pohon yang lurus. Oleh karenanya ia selalu menjadi korban di dalam cerita. Ia  menjadi musuh bagi pohon-pohon bengkok yang sangat banyak jumlahnya. Ia menghadapi banyak rintangan dan penderitaan. Tapi, berbeda dengan akhir kisah Amadeo, Ashoka tumbuh menjadi kesatria penguasa Kekaisaran Gupta dari 273 SM sampai 232 SM.  Orang-orang memanggilnya Chakravartin Ashoka Shamrat atau Ashoka yang Agung.

Salah satu kutipan pernyataan si tokoh aku dalam cerpen Hang Kafrawi, Ketika Waktu Mati juga melintas tiba-tiba di kepala saya. Untuk menjadi manusia sukses, aku memang berlatih melakukan tindakan-tindakan manipulasi keadaan. Aku tidak mau seperti ayahku. Ayahku adalah seorang guru SD yang gajinya kecil dan terlalu jujur, sehingga ia mati dalam kejujurannya.

Lalu saya kembali bertanya, apa maksud Dantje? Mengapa Amadeo dibunuhnya? Sebagaimana juga ternyata Kafrawi juga membunuh sosok serupa dalam salah satu cerpennya. Sebegitu beratkah tinggal di Indonesia, sehingga kita harus membunuh Amadeo agar kita tak pula ikut jadi bungkang?!

Dan saya mencoba pula menjawab. Barangkali lewat cerpen Amadeo ini Dantje ingin berkata, alangkah berat tantangannya menjadi orang jujur dan lurus, apatah lagi di tengah negeri ini dengan segala penyakit buruk yang terpelihara baik. Alangkah berat menjadi orang baik, seberat apa yang dialami Amadeo yang akhirnya mati membusuk. Tapi, apakah ini kepesimisan Dantje? Apakah Dantje betul-betul ingin membunuh Amadeo. Aku kira tidak. Malah kupikir Dantje malah  selalu optimis dan memilih menjadi penjaga dan penyuara nilai-nilai kejujuran, kebaikan dan kebenaran itu lewat karya-karyanya, sebagaimana tergambar jelas pula pada cerpen terbarunya  Khabar Terakhir Anneke Dijkstra.

 Akhirnya, jika Amadeo mati dalam cerpen. Semoga Amadeo tidak mati dalam diri kita.***

Alvi Puspita adalah salah satu sastrawan muda Riau yang aktif menulis diberbagai media massa.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us