Oleh: Hang Kafrawi

Buzar Pemberontak

23 Agustus 2015 - 12.50 WIB > Dibaca 1327 kali | Komentar
 
Buzar tidak mampu lagi menyembunyikan kekesalannya ke dalam lubuk hati. Padahal selama ini Buzar dikenal oleh orang kampung sebagai orang yang paling sabar berhadapan dengan berbagai permasalahan. Bayangkan saja, ketika kebun getah pusaka milik Buzar yang ia dapat dari warisan ebahnya dilantak oleh perusahaan minyak tanpa ganti rugi, Buzar masih tetap tersenyum.

Bagi Buzar, kepentingan orang banyak lebih penting dibandingkan kepentingan pribadi. Buzar meyakini bahwa perusahaan minyak yang melantak kebunnya akan membagi hasil mereka kepada negara ini, tentu saja negara akan membagikan kepada rakyatnya. Selain itu Buzar juga menyadari bahwa kekayaan di dunia ini adalah titipan dari Allah dan hanya bersifat sementara. Buzar selalu bersyukur, apabila miliknya digunakan untuk kepentingan orang banyak. Tidak ada satu pun kesenangan bagi Buzar, selain miliknya dapat dimanfaatkan oleh orang banyak.

Kabahagian juga bersemai di hati Buzar, ketika di atas sebidang tanah miliknya dibangun tower untuk televisi milik negera ini. Hati Buzar berbunga-bunga, sebab selama ini cuma siaran televisi Malaysia saja yang bisa dinikmati oleh penduduk kampung, sehingga perkembangan negera tetangga lebih diketahui dibandingkan negara sendiri. Dengan hadirnya tower tersebut, Buzar dan warga kampung dapat mengetahui perkembangan negara sendiri dan tentu saja kecintaan terhadap tanah air semakin mendalam. Buzar berprinsip bahwa cinta tanah air melebihi cinta kepada diri sendiri. Untuk itulah Buzar memberikan tanahnya tanpa dibayar sepeser pun.  

Buzar selalu menceritakan kepada orang-orang kampung bagaimana kehebatan negara ini, baik dalam pembangunan maupun dalam menyejahterakan rakyatnya. Negara ini, kata Buzar, tidak sama dengan negera lain. Buzar membandingkan dengan negara-negara lain yang selalu saja dilanda peperangan antara saudara, kelaparan, penyakit polio, demam berdarah, bahkan sampai-sampai perebutan kekuasaan selalu dengan pertumpahan darah. Buzar meyakinkan orang-orang kampung bahwa negera kita terbebas dari semuannya itu. Kata Buzar lagi, negera kita ini adalah negara yang paling sejahtera, paling makmur dan paling aman.

Kini Buzar tidak dapat membendung amarahnya. Pengorbanan dan kebanggaannyta sebagai warga negera ini lesap begitu saja. Ia menyesali dirinya sendiri terlahir di negara ini. Ia tidak menyangka bahwa ia telah tertipu. Ketulusan dan pengorbanan untuk negera ini tidak berguna sama sekali.

Buzar tidak pernah berharap, pengorbanan dan kecintaan kepada negara dibalas dengan penghormatan dan penghargaan terhadap dirinya. Buzar tidak pernah berkecil hati, ketika ia tidak diperkenalkan dengan rombongan Menteri beserta Gubernur, Bupati dan juga Anggota DPRD saat mereka berkunjung dan melihat perusahaan minyak yang beroperasi di kampungnya. Bagi Buzar kebangaan menjadi rakyat adalah menyumbang yang terbaik untuk negara ini. Dan Buzar masih berpegang teguh kata-kata ebahnya: jangan berharap balasan dari perbuatan yang telah dilakukan. Biarlah perbuatan itu bersemi dalam diri sendiri saja.

Kecintaan terhadap negara ini menjadi api yang terus menyulat dalam diri Buzar. Ia tidak terima dengan kenyataan yang baru saja menikam jantung, perasaan, hati dan juga pikirannya. Sebagai warga negera ini, Buzar meyakini bahwa ia juga berhak menciptakan senyuman dan kebahagiaan orang lain, terutama dirinya. Untuk apa pengorbanan, kalau pengorbanan itu hanya menjadi embun di siang hari? Lebih menyakitkan lagi; pengorbanan itu hanya dinikmati oleh orang atau kelompok yang memiliki kekuasaan, sementara rakyat menderita.

Buzar tidak habis pikir, kenapa negara ini menjadi makelar bagi rakyatnya? Kejadian itu baru diketahui Buzar ketika ia melihat tayangan televisi milik negara ini. Pada tayangan itu, Buzar meyaksikan ratusan rakyat mati kelaparan dan anak-anak diserang busung lapar, demam berdarah, folio dan juga penyakit mematikan yang belum ditemukan cara pengobatannya. Mata Buzar seperti anak panah meluncur ke layar televisi. Buzar juga tidak menyangka bahwa orang-orang yang mendiami negara ini tidak memiliki hati nurani. Dalam keadaan kesengsaraan, kepedihan dan kepiluan menusuk rakyat, para pemilik kekuasaan sibuk menghitung kekayaan yang akan mereka dapatkan dari pekerjaan mereka membela rakyat yang tidak berdaya. Selain itu, pemilik kekuasaan juga pusing mencari cara untuk tetap berkunjung ke negara lain untuk sebuah alasan memandingkan negara ini dengan negara lain.

Kemarahan Buzar semakin bergelora, ketika stasiun televisi milik negara ini menayangkan kehidupan kota-kota basar yang sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang ia jalani di kampung ini. Tanpa disadari Buzar, air matanya mengalir deras dari matanya. Buzar terbayang Leman dengan susah payah bekerja menjual atap rumbia untuk menghidupi keluarganya.  Dari hasil penjualan atap itu, Leman hanya mendapat lima ribu rupiah per hari. Dengan uang itulah Leman memilah-milah biaya makan lima anggota keluarganya dan biaya berobat anak bungsunya.

Dari tayangan stasiun teleivisi itu juga, Buzar baru menyadari bahwa kampungnya tidak ada apa-apanya dan bahkan keberadaan kampungnya terlintas pun tidak di benak orang-orang kota. Padahal dari kampunglah kota-kota di bangun. Buzar betul-betul tidak menyangka bahwa pengorbanannya selama ini tidak berguna.         

Buzar mengigit bibir bawahnya keras-keras. Ia tidak merasakan sakit sedikit pun, karena tayangan di stasiun televisi itu lebih menyakitkan. Ketidakadilan yang baru saja ia ketahui menyelinap masuk ke tubuhnya dan mengalir bersama darahnya menciptakan gelombang memporakperandakan benteng keikhlasan. Buzar merasakan dirinya terasing di hamparan kematian dengan beribu burung gagak menyayat dagingnya. Buzar ingin berteriak, tapi mulutnya tak mampu mengalahkan derasnya air mata yang meluncur ke pipinya. Setelah air mata mengalir seperti air sungai menuju lautan, perlambangan apalagi untuk suatu kesedihan?

Air mata kadang kala membawa manusia mengenal dirinya lebih dekat lagi dan Buzar menemukan dirinya yang lain. Diri yang berkeinginan menebas segala ketidakadilan dengan perlawanan. Air mata yang menakung di mata Buzar seperti mutiara, bercahaya menerkam kegelapan di hadapannya.

Buzar berlari ke belakang rumahnya. Ia pun mengambil kapak yang terletak di bawah kompor minyak tanah. Mata Buzar terbelalak seketika, dadanya turun naik dengan cepatnya. Nafasnya tidak teratur. Ia tatap dalam-dalam kapak di tangannya, lalu ia pun berteriak.

Jahanam kalian semua!

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Buzar berlari ke luar rumah menunju tower di atas tanah miliknya. Di sepanjang jalan orang-orang terkejut melihat Buzar dengan kapak di tangannya. Orang-orang pun mengikuti Buzar dari belakang.


Sampai di tower tersebut, Buzar pun mengayunkan kapak dengan kedua belah tangannya. Bunyi besi beradu pun terdengar nyaring. Buzar tidak berpuas hati, dia pun melayangkan kembali kapak tersebut ke besi tower. Berulang-ulang kali ia lakukan hal itu dengan kemarahan yang paling marah.

Orang kampung semakin ramai menyaksikan kemarahan Buzar. Mereka tidak berani menegur, sebab mereka tahu betul, kalau Buzar suadh seperti itu, tidak satu pun yang dapat menghentikannya. Salah-salah, orang yang menegur akan mendapat binasa.

Bunyi besi beradu semakin nyaring terdengar. Buzar benar-benar tidak mampu dikendalikan lagi. Tiba-tiba bunyi letusan dari pistol meredakan semuanya. Kapak di tangan Buzar pun terlepas. Orang-orang serantak membuka mulut, terkejut. Beberapa saat jatuhnya kapak ke tanah, tubuh Buzar pun rubuh. Tangan kanan Buzar memegang dada. Darah segar mengalir dari celah-celah jari tangannya. Mata dan mulut Buzar terbuka lebar. Sesaat kemudian, tubuh Buzar pun tidak bergerak lagi. Orang-orang terdiam, tidak mampu berbuat apa-apa, selain menatap tubuh Buzar yang dipenuhi darah segar.***

Hang Kafrawi Ketua Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Unilak Selain sebagai dosen, ia juga menjadi Ketua Teater Matan Aktif di dunia teater dan sastra Pegawai Balai Bahasa  Provinsi Riau

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Jumat, 16 November 2018 - 17:00 wib

Lutut Istri Disenggol, Nelayan Bacok Tetangga

Jumat, 16 November 2018 - 16:15 wib

Miliki 30 Kg Ganja, Petani Ditangkap

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

BRK Ikut MoU e-Samsat Nasional

Jumat, 16 November 2018 - 16:00 wib

Formasi CPNS Sumbar Terancam Kosong

Jumat, 16 November 2018 - 15:45 wib

Desa Dituntut Gerakkan Ekonomi Masyarakat Lewat ADD

Jumat, 16 November 2018 - 15:30 wib

Pedagang Belum Tahu Kapan Direlokasi

Follow Us