Oleh: Gema Setara

Tahura

27 Agustus 2015 - 11.36 WIB > Dibaca 2218 kali | Komentar
 
Tahura
Gema Setara
Hutan di Riau luasnya tak seberapa lagi. Pun sudah berubah menjadi berbagai macam fungsi. Yang paling utama saat ini kawasan hutan itu berubah fungsi menjadi perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit. Perkebunan yang dibuka dengan dalih untuk kemaslahatan masyarakat itu nyata-nyata telah membawa petaka bagi siapa saja yang tinggal di Riau.

Saat kemarau datang asap pun menggantang. Saat musim penghujan tiba, banjirpun membinasa harta benda. Sebagai khalifah kadang manusia terlalu rakus pada materi sesaat. Mereka tidak pernah memikirkan kelangsungan hidup anak cucu. Flora dan fauna khas Riau pun terancam dan bahkan punah sama sekali.

Karenanya, jangan disalahkan ketika ada harimau masuk kampung dan memangsa hewan peliharaan. Dan jangan disalahkan gajah ketika membinasakan tanaman-tanaman yang ada.  Mereka (hewan-hewan, red) terpaksa bertindak mencuri itu semua. Karena rumah mereka dibinasakan manusia. Makanan mereka yang dahulu selalu tersedia kini punah ranah dak ulah manusia.

Memang tidak ada salahnya membangun perkebunan. Tetapi hendaklah memperhatikan aturan-aturan yang ada. Jika kawasan itu memang masuk ke dalam kawasan konservasi janganlah di paksa membangun kebun dan sebagainya. Hewan dan tanaman makhluk juga sama seperti manusia, mereka perlu tempat tinggal, mereka perlu rumah berupa, beranak-pinak melahirkan generasi penerusnya.

Adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Syarif Hasyim letaknya berbatasan langsung dengan ibukota provinsi Riau, Pekanbaru. Data yang dirilis melalui website  Dinas Kehutanan Riau menyatakan, kawasan ini  ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 348/Kpts-II/1999 tanggal 26 Mei 1999 seluas 6.172 Ha. Kawasan Tahura SSH meliputi tiga kabupaten/kota yaitu Kabupaten Kampar seluas 3.041,81 Ha, Kabupaten Siak 2.323,33 Ha dan Kota Pekanbaru 806,86 Ha.

Nama Kawasan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim diambil dari nama ayahanda Sultan Syarif Qasim yang dikenal sebagai pahlawan nasional asal Riau. Penggunaan nama ini untuk mengabadikan jasa pahlawan yang diharapkan semangat dan nasionalisme kepahlawanannya menjadi teladan bagi generasi sesudahnya.

Tahura SSH sebagai kawasan hutan dengan fungsi kawasan konservasi. Sebagaimana halnya kawasan konservasi lainnya di Indonesia, juga tidak terlepas dari permasalahan kawasan khususnya dalam penanganan pengamanan areal/lahan kawasan dari pihak-pihak ataupun oknum-oknum yang mencari keuntungan pribadi di dalam kawasan Tahura SSH.

Saat ini sekitar 60 persen dari total luas kawasan Tahura SSH dikuasai oleh beberapa oknum yang menguasai lahan baik secara perorangan ataupun kelompok/perusahaan penguasaan lahan ini sebagai akibat dari tingkat pertambahan penduduk serta kebutuhan masyarakat akan lahan untuk dijadikan tempat tinggal ataupun ladang/kebun.

Tingginya nilai komoditas kelapa sawit di Riau juga menjadi salah satu penyebab terjadinya perambahan. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat di sekitar bahkan dari luar kawasan Tahura SSH melakukan perambahan areal di kawasan hutan terutama di Kawasan Tahura SSH untuk dijadikan ladang/kebun kelapa sawit.

Bayangkan, sudah 60 persen dari total luas lahan Tahura dikuasai oleh oknum-oknum yang tak bertanggungjawab. Mengapa ini bisa terjadi? Harusnya dengan letaknya yang dekat mudah diawasi oleh petugas yang diamanah untuk menjaganya.  Tapi kenyataannya yang terjadi di kawasan yang seharusnya tumbuh pepohonan lebat sudah berganti dengan hutan kelapa sawit.

Lalu bagaimana dengan kondisi kawasan hutan di Riau yang letaknya lebih jauh dari jangkauan dan ingatan penguasa dan petugas di tanah ini? Mungkin senasib dengan Tahura, dan itu masuk diakal, kawasan yang berdekatan dengan pemerintahan saja habis diluluh-lantakkan mereka yang tak bertanggung jawab itu. Apa lagi kawasan hutan yang jauh diujung-ujung dan ceruk kampung.


Tahura itu milik kami dan kita bukan milik kalian. Mari kita lestarikan dan selamatkan. Biarkan pepohonan, flora dan fauna tumbuh dan berkembangbiak di sana. Kami, kita dan kalian adalah khalifah di muka bumi ini, jangan rusak alam nan permai ini.****
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 12:00 wib

Harapan Menuju Empat Besar

Senin, 24 September 2018 - 11:54 wib

Transaksi Harian BEI Naik 12,95 Persen

Senin, 24 September 2018 - 11:43 wib

Segera Selesaikan Kisruh Impor Beras

Senin, 24 September 2018 - 11:32 wib

Lepas Caleg dengan Seremoni Berdiri

Senin, 24 September 2018 - 11:30 wib

Pemprov Sediakan 80 Komputer

Senin, 24 September 2018 - 11:27 wib

Tergoda Suami Orang

Senin, 24 September 2018 - 11:11 wib

5 Hari Perbaiki LDAK

Senin, 24 September 2018 - 10:50 wib

Pencairan TB Dilakukan Bertahap

Follow Us