Yolla Silvia

Konsumsi Mi Instan Jangan Berlebihan

29 Januari 2014 - 07.57 WIB > Dibaca 702 kali | Komentar
 

Mie instan sudah menjadi makanan kebiasaan bagi sebagian orang terutama anak kos. Malah sebagian orangtua juga memberikan mie pada anaknya yang baru berusia tiga tahun.

Boleh saja, namun jangan sampai konsumsi mie secara berlebihan.

Harus diingat mie instan juga memiliki efek negatif untuk kesehatan tubuh jika mengonsumsinya secara berlebihan. Dampaknya bisa mengalami risiko usus buntu dan sakit lainnya.

Lagi pula kandungan gizi, vitamin, dan protein makanan tersebut tidak bisa menggantikan nasi dan lauk pauk lengkap.

Setidaknya ada tiga bahaya mie instan bila dikonsumsi berlebihan. Pertama, mie instan mengandung zat lilin yang membuat mie tidak lengket satu sama lain.

Sementara tubuh kita kesulitan mencerna zat lilin tersebut. Waktu yang diperlukan untuk mencerna zat lilin tersebut sekitar dua hari. Kedua, mie instan mengandung natrium yang sangat berbahaya untuk penderita maag.

Kandungan natrium yang tinggi bersifat menetralkan lambung sehingga lambung mensekresikan banyak asam untuk mencerna makanan. Akibatnya, asam lambung akan naik dan akan terjadi pengikisan pada dinding lambung.

Sedangkan untuk penderita hipertensi, kandungan natrium ini cukup berbahaya karena dapat meningkatkan tekanan darah. Ketiga, mie instan mengandung zat-zat berbahaya lain seperti pada bumbu dan pelengkap, serta bahan penambah rasa.

Mie instan tidak boleh dimasak bersamaan dengan bumbunya. karena MSG yang terkandung di dalamnya bila dimasak di atas suhu 120 derajat celsius akan berpotensi menjadi karsinogen pembawa kanker.

Perhatikan prosedur penyajian pada bungkus mie instan, semua menganjurkan agar masak mie dulu baru ditaburi bumbu atau bumbunya dikeletakkan ke dalam wadah.

Kebanyakan dari masyarakat sekarang, sebenarnya sudah tahu dampak buruk dari mie tersebut apabila dikonsumsi secara berlebihan, apalagi mahasiswa kesehatan. Tapi yang namanya manusia kebanyakan tidak bisa mengendalikan ego yang muncul.

Tetap saja ingin mengkonsumsinya, tanpa mementingkan dampaknya. Boleh saja tetap dikonsumsi, namun pastikan cara penyajiannya sudah benar serta tidak terlalu dikonsumsi secara berlebihan.

Mari sama-sama kita biasakan hidup sehat. Sesuai pepatah di balik tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Seandainya tubuh kita tidak sehat, bagaimana jiwa kita bisa kuat.***

Yolla Silvia, mahasiswi Jurusan, S1 Keperawatan STIKes Payung Negeri.
KOMENTAR
Terbaru
Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah
Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 WIB

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh
BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 WIB

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 WIB

Follow Us