BERABAD-ABAD MENJAGA TEMAN

Berkelamin Ganda

30 Agustus 2015 - 10.30 WIB > Dibaca 1103 kali | Komentar
 
“Laki-laki itu menyebut dirinya adam!
berabad-abad menjaga taman...”
(Dorothea Rosa Herliany)

Apakah bahasa (Indonesia) itu berkelamin? Tentu, secara sekilas, pun dalam strukur (semantik) bahasa, tidak. Karena, dalam realitas sehari-hari kita, bahasa dapat dipakai oleh siapapun, lelaki maupun perempuan. Meskipun, kadang muncul, diskriminasi gender misalnya pada diksi pahlawan, bangsawan, budayawan, bahkan sastrawan. Dan, dalam dunia puisi, terutama dalam struktur semiotik, diskriminasi itu dipersoalkan secara lebih luas dan spesifik. Bahasa puisi penyair (berkelamin) perempuan, selama ini, seolah memiliki “karakter” feminimitas tersendiri—yang kerap diperhadap-hadapkan dengan maskulinitas puisi penyair (berkelamin) laki-laki.

Tentu, yang paling keras “menyuarakan” itu, adalah kaum perempuan penyair, melalui puisi-puisinya—baik eksplorasi bahasa sebagai bentuk, maupun bahasa sebagai kendaraan ideologis. Dan, bukan berarti pula, tidak ada laki-laki penyair yang “menyuarakan” feminisme dalam karyanya. Meskipun, selalu, nuansa perlawanan gender lebih tampak dikobarkan oleh perempuan penyair, sebab seolah telah jadi stigma tersendiri—mengutip Dorothea—dalam karya sastra Indonesia, perempuan begitu dekat dengan idiom-idiom seperti keterkungkungan, ketertindasan.

Maka, boleh dikata, dalam puisi Indonesia, bahasa berkelamin. Dalilnya, bukankah puisi itu (memang) subyektif? Bahasa yang dikonstruksi dalam puisi, dibangun oleh kekuatan kritis subyektivitas penyairnya. Akan tetapi, saya tidak terlalu yakin, bahwa pembaca akan dengan gampang menelisik apakah sebuah puisi itu, berkelamin laki-laki atau perempuan, atau jangan-jangan berkelamin ganda. Apalagi, misalnya, ketika puisi-puisi itu “dipisahkan” dari penyairnya—sebab (seturut Barthes) pengarang mati setelah puisi jadi. Andai puisi-puisi itu masih seperti puis-puisi karya Dorothea yang jelas pilihan jalur feminismenya—seperti yang saya kutip di atas—agaknya kita masih bisa sedikit gampang mendeteksinya.

Lebih jauh, coba juga kita tengok puisi-puisi yang ditulis oleh para penyair laki-laki tentang perempuan. Betapa, sesungguhnya, perempuan di mata laki-laki adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering. Bertimbun puisi, tentang/untuk perempuan, baik sebagai kekasih maupun sebagai sosok ibu, baik ketika jatuh cinta, maupun ketika patah hati. Tentu, dalam timbunan puisi itu, ada yang menempatkan perempuan masih dalam ruang-ruang domestik, dengan memperteguh superioritas laki-laki, seperti misalnya tampak dalam Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG—meski itu harus dilihat dalam konteks budaya Jawa Kraton yang feodalistik.

Atau, bagaimana kita menempatkan misalnya kutipan puisi Sitok Srengenge berjudul “Perempuan Satu” berikut ini, “Di mulutmu, kucium dendam rawa-rawa, menyembunyikan seribu buaya, di balik lidahmu yang rumpun talas. Dan aku terpelanting licin gincu di bibirmu.” Jelas, ini puisi yang ditulis oleh seoang laki-laki penyair, sekalipun kita hapus nama Sitok.

Tapi, apakah puisi ini memperlihatkan superioritas laki-laki sebagaimana dalam “Pengakuan Pariyem”? Barangkali tidak. Tapi, “keterpelantingan” si aku lirik, dan diksi “seribu buaya” adalah sebuah pengakuan (laki-laki) ihwal wacana “perlawanan” perempuan itu.

Demikianlah. Sebagaimana bahasa yang lahir dari rahim realitas budaya yang kompleks, yang mencerminkan pri-kehidupan masyarakat pemakainya, maka puisi—sebagai  salah satu produk kreativitas berbahasa—pun menyimpan pertelingkahan gender, meski kadang lebih sering berkelamin ganda.***

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us