Boy Riza Utama

Kopi

30 Agustus 2015 - 10.34 WIB > Dibaca 877 kali | Komentar
 
kupulangkan hatimu, sebelum cangkir ketiga itu pecah
serupa derak tersembunyidi dadaku

ketika kau lukai pergelangan tanganmu,kusadari
jika beratus kali sudahkusadap kopi
dari sirah biji matamu,yang tak lagi berseri

di dinding, jarum jam gamang merambatketika
kubersihkan
sisa belingyang berserakdi tepi bibirmu
lantas aku mengertijika pertemuan inihanyalah bahaya
yang lain lagi,sebelum kita mati

menemukan mataku yang pucat,kau pun percaya,
terlalu lebam malamdi sini, hingga terlepas putih pagi

tapi kita masih bersikeras menantisiapakah yang
lebih dulu
menjatuhkan bulandi beranda itu, sebagai pertanda
hari jadi

seakan tak pernah mendugajika keadaan ini telah
membuat
setiap dustamelukai lidah kita,bagai kopi yang
dimajalkan gula

ketika di cangkir ketiga itumalam kian terluka,merenggut
setiap rindu yang kita pujadari pahitnya ludah dan
kata-kata

(2015)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 22 Januari 2019 - 12:30 wib

Pengedar 2 Kg Ganja Dibekuk Polisi

Selasa, 22 Januari 2019 - 12:09 wib

PT RAPP Salurkan Bantuan Korban Banjir di Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu

Selasa, 22 Januari 2019 - 12:00 wib

Bank Sumsel Babel Lolos Final Four, Langkah Aneka Gas Terhenti

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:45 wib

Taekwondo Ditargetkan Emas SEA Games dan PON

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:35 wib

Tuntut Lahan, Warga Ancam Temui Presiden

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:25 wib

Tunggakan BPJS Dianggarkan Rp25 Miliar

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:20 wib

Syamsuar Sentil Besarnya Anggaran Perjalanan Dinas di APBD Riau 2019

Selasa, 22 Januari 2019 - 11:15 wib

PT ISB Serahkan Bibit Ikan untuk Warga Rambah

Follow Us