Boy Riza Utama

Kopi

30 Agustus 2015 - 10.34 WIB > Dibaca 833 kali | Komentar
 
kupulangkan hatimu, sebelum cangkir ketiga itu pecah
serupa derak tersembunyidi dadaku

ketika kau lukai pergelangan tanganmu,kusadari
jika beratus kali sudahkusadap kopi
dari sirah biji matamu,yang tak lagi berseri

di dinding, jarum jam gamang merambatketika
kubersihkan
sisa belingyang berserakdi tepi bibirmu
lantas aku mengertijika pertemuan inihanyalah bahaya
yang lain lagi,sebelum kita mati

menemukan mataku yang pucat,kau pun percaya,
terlalu lebam malamdi sini, hingga terlepas putih pagi

tapi kita masih bersikeras menantisiapakah yang
lebih dulu
menjatuhkan bulandi beranda itu, sebagai pertanda
hari jadi

seakan tak pernah mendugajika keadaan ini telah
membuat
setiap dustamelukai lidah kita,bagai kopi yang
dimajalkan gula

ketika di cangkir ketiga itumalam kian terluka,merenggut
setiap rindu yang kita pujadari pahitnya ludah dan
kata-kata

(2015)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Tak Ganggu Target Pembangunan

Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo

Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi

Follow Us