Boy Riza Utama

Kopi

30 Agustus 2015 - 10.34 WIB > Dibaca 847 kali | Komentar
 
kupulangkan hatimu, sebelum cangkir ketiga itu pecah
serupa derak tersembunyidi dadaku

ketika kau lukai pergelangan tanganmu,kusadari
jika beratus kali sudahkusadap kopi
dari sirah biji matamu,yang tak lagi berseri

di dinding, jarum jam gamang merambatketika
kubersihkan
sisa belingyang berserakdi tepi bibirmu
lantas aku mengertijika pertemuan inihanyalah bahaya
yang lain lagi,sebelum kita mati

menemukan mataku yang pucat,kau pun percaya,
terlalu lebam malamdi sini, hingga terlepas putih pagi

tapi kita masih bersikeras menantisiapakah yang
lebih dulu
menjatuhkan bulandi beranda itu, sebagai pertanda
hari jadi

seakan tak pernah mendugajika keadaan ini telah
membuat
setiap dustamelukai lidah kita,bagai kopi yang
dimajalkan gula

ketika di cangkir ketiga itumalam kian terluka,merenggut
setiap rindu yang kita pujadari pahitnya ludah dan
kata-kata

(2015)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us