Kamil Dayasawa

Petualang

30 Agustus 2015 - 10.38 WIB > Dibaca 1046 kali | Komentar
 
Dari seberang aku datang
Mencari bahasa sunyi para nabi
Bersampan daun lalang
Membelah gunung gelombang

Kutinggalkan pisau masalaluku jauh di hutan
Antara taring harimau dan gading gajah

Kurelakan bulu jantanku gugur
Ditimbun ribuan daun

Kutahu di sini ada banyak kata
Meski bukan bahasa doa
Setiap orang telah mencipta keasingan
Rumah kehilangan ruang lengang

Cinta, ibarat gelas pecah
Berkeping runcing haus darah

Kulintasi ambang petang
Kawanan anjing mendengus tulang
Gedung menjulang merentang tangan
Seolah menanti hujan datang

Namun taman-taman
Menolak mendung lewat sepasang mata perempuan
Yang duduk jauh di kegelapan

Di langit mana aku hendak bernaung?
Meletakkan tubuh telanjang
Bernyanyi riang lagu kemenangan

Bila setiap jarak selalu kusaksikan
Kawanan lebah terbang ke arah pasar malam

Samadi zikir pohon-pohon dilupakan waktu
Kau menjelma desau, aku batu

Warung-warung makan sepi gumam
Tempias kuning lampion remang
Seakan mata dari masa lalu
Penuh candi-candi bisu

Aku melangkah ke jalan simpang
Sejarah dan ilham datang bersilang
Kau dan aku bertemu
Bagai dua sumbu

Yogyakarta, Juni 2015


Kidung Sunyi

Bunyi air menetes di kamar mandi
Bagai musik dari lautan imaji
Menggiring sukmaku ke benua tak bernama
Tempat cinta lahir dari rahim domba

Padang pasir memetik senar harpa
Unta-unta mendaki gunung purba
Pohonan moksa ke dalam hira
Aku lari ke dalam gema

Sendiri kudekati kau yang sepi
Adakah di situ nyanyi bermakna puisi
Beri aku lirik dari sabda dan firman
Agar lagu tak sekadar igauan

Seperti kutahu
Ke arahmu angin menderu

Harum kembang hutan-hutan
Lampaui batas bumi dan bulan

Seperti kutahu
Kepadamu burung-burung berseru
Tentang malam semu:
waktu yang ditinggalkan cahaya lampu

Batang-Batang, 2015


Kolam tanpa Ikan

Di air tenang angin berkejaran
Bunga-bunga taman berjatuhan
Aku bercermin pada kedalaman
Kelam wajahku terperangkap rongga karang

Aku berdiri menjangkau bulan
Bayangan memberi jarak pada hitam
Angin dari timur sampaikan kabar gugur
Kutahu, akan semakin banyak jejak terkubur

Umpama kabut tipis di muka jendela
Ditinggal pagi ke ruang kerja

Sebuah kolam kecil tak punya gairah gelombang
Hanya air mancur memercik pelan
Meski ada riak diciptakan bulir
Tanpa ikan, letupan dan kecupan tak hadir

Sampan lalang kanak-kanakku
Terapung menunggu:
Tangan-tangan waktu menabur kembang tujuh rupa
Ruwat mantra dinyanyikan kawanan burung
Sampai moksa segala kata
dan jiwa yang lelah ditinggalkan gema

Yogyakarta, 2015


Pertemuan Kesekian

Di Nyabakan semerbak bau kandang
Menyeruak ke dalam langgar
Sapi mengaum dengan suara lantang
Rumput-rumput hijau terhidang

Kita berbincang masalah kemiskinan
Petani yang gagal memetik bintang
Sampan nelayan ditabrak kapal angkut tak dikenal
Juga seorang teman yang mati muda!

Semuanya, lewat begitu cepat
Kekal di angin, pupus di pusat keinginan

Bagai pengembara dan kesendiriannya
Kita saling bertanya tentang doa
Kepada siapa berpaling
Bila Tuhan dekat pada dinding
Tempat bersandar, melepas getar ketakutan

Sunyi hanya sebuah kepalsuan tak terbatas
Memberi kita perlindungan
Sekaligus ruang penguburan
Tanpa pintu dan jendela
Hingga kita lupa, dunia sedang berjalan ke ujung fana

Di Nyabakan, kita belajar pada batu
Sekian tahun terpendam
Terinjak kaki-kaki telanjang
Namun wujudnya tak pernah hilang
Putih dan hitam, muncul di sepanjang jalan

Seperti yang mati,
Mungkin dalam tanah segalanya abadi
Seperti yang lemah,
Mungkin dalam hatinya tumbuh  bunga-bunga basah

Batang-Batang, 2015


Sebuah Nyanyian

Kau tahu aku bukan anak sulung gelombang
Perahuku karam jauh di laut kenangan
Sauh dan jangkar terserak di dasar
Rindu debar jadi mawar

Setelah angin tenggara
Membangun menara pasir
Kau dan aku berdekapan
Saling menghirup bau tubuh masing-masing
Sebelum air yang asin menggarami
Jejak kita yang terakhir

Kita berpisah menuju ruang yang bukan kematian:
Sebuah gurun tak berpasir
Hutan tak berpohon
Gunung tanpa api

Tempat segala yang berarti tinggal ilusi:
Padang tanpa musim semi
Hujan dan kemarau tak dikenal lagi

Yogyakarta, 2015
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us