HELFIZON ASSYAFEI, Pemred Xpresi Magazine

Badai Pasti Berlalu

30 Agustus 2015 - 12.28 WIB > Dibaca 2063 kali | Komentar
 
Badai Pasti Berlalu
RIAUPOS.CO - SEJAK harga sawit terjun bebas, pandangan wanita paroh baya itu menerawang jauh. Semula suaminya memiliki kebun 130 hektar. Ekonomi mereka mulai goyah ketika harga TBS turun. Suaminya sedikit demi sedikit menjual lahannya.

Beberapa hektare sisa yang masih ada tak mampu juga mengatasi persoalan ekonomi mereka. Akhirnya terjual juga. Dari risau jadi galau. Dari galau yang tak kunjung reda berubah jadi depresi. Dan akhirnya, di suatu pagi, warga sebuah komplek perumahan di Pekanbaru menemukan wanita yang putus asa itu tergantung di seutas tali. Nauzubillah..ia mengakhiri hidup yang tak mampu ditanggungnya. Kejadian itu terjadi saat harga sawit anjlok sekitar 7 tahun lalu tepatnya di tahun 2008.
 
Putus asa, kata seorang mualaf Barat bernama Ahmad di You Tube, adalah untuk orang yang tak mengetahui makna kehidupan. Menurutnya apa yang kita lakukan di sini (di dunia) dan kemana kita akan pergi sama halnya seperti kita bangun di pagi hari dan kemudian datang di sebuah acara. Jangan tanyakan apa pun ikuti saja alurnya. Hasilkan uang yang banyak sebisa mu dan cobalah sebisamu untuk tidak bangkrut. Ikuti semua model di tv mulai dari mode rambut sampai dengan pakaian dan jangan berfikir terlalu banyak lakukanlah seperti yang orang-orang banyak lakukan.

Jika kamu mulai bingung dan berpaling ke alkohol dan masih tetap bingung, kemudian carilah pelarian lain. Nyalakan radio, televisi, internet. Masih galau juga?
Sejujurnya aku hanya ingin tahu apakah kita hadir di dunia hanya untuk tumbuh dan menjadi tua? Hidup dan mati hanya untuk meninggalkan rumah yang dicintai dan seluruh perabotan yang akan dimiliki orang lain. Aku hanya ingin tahu sebelum peti mati ditutup. Sebab aku tidak ingin berjudi dengan jiwaku atau siap mengambil resiko. Ini hanyalah pertanyaan hidup sederhana dan aku hanya mencari beberapa jawaban. Seperti apa yang kita lakukan di sini (di dunia) dan apa tujuan kita? Bagaimana kita dapat berada di sini dan siapa yang membuat kita begitu sempurna? dan apa yang terjadi ketika kita mati atau apakah dunia ini benar-benar berharga?

Selagi kita masih hidup menurut gaya, hasrat dan keyakinan kita dan mengatakan kehidupan ini adalah satu-satunya rumah yang akan pernah kita tempati, kita sesungguhnya dalam kekeliruan yang besar. Karena sebenarnya kita adalah produk yang Maha Cerdas. Ketika kita putus asa kita menjadi bodoh. Kita lupa bahwa yang Maha Cerdas sedang melihat kita. Kita pasti sedang diuji pada kekayaan kita, kesehatan kita, diri kita sendiri dan semua hal yang telah kita dapatkan. Tanyakan pada hatimu apakah tujuan hidup mu adalah semua ciptaan ini? (kekayaan, kekuasaan dan keterkenalan) atau sang pencipta itu semua?

Sekarang ditahun 2015 badai itu berulang lagi. Harga sawit anjlok luar biasa. Di Desa Pasir Kapas Rohil harga per kilo ditingkat petani hanya Rp200 per kilo dari sebelumnya 1.800 per kilo. Petani menjerit. Karena biaya produksi kebun sawit sangat tinggi,belum lagi beli pupuknya sawit serta tranportasi membawa Tandan Buah Sawit (TBS) ke Pabrik sawit. Tentunya kita tidak ingin dampak sosial yang kelam itu terulang kembali. Bahwa kita dilanda badai ekonomi, ya. Tetapi optimisme tentu tak boleh hilang. Bak kata pepatah, badai pasti berlalu. Kapan? Entahlah. Yang penting usaha dan sabar. Ujian akan ada akhirnya. Harapan harus tetap terjaga.***
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us