Ruh Budaya

30 Agustus 2015 - 15.59 WIB > Dibaca 934 kali | Komentar
 
Oleh Zuarman Ahmad

RUH (orang Melayu menyebutnya dengan nyawa),  terdapat dalam batang tubuh manusia (raga); orang suluk (sufi) menyebutnya dengan Ruh meliputi sekalian tubuh, yakni: lathifah Rabba niyah, cahaya Ketuhanan yang amat halus. Kajian tentang ruh akan lebih lengkap pada kalangan sufi atau para khalifah di tempat rumah suluk, apalagi jika sudah mencapai taraf tuan guru, bahkan taraf para wali Allah. Ketika masih muda, sempat juga menimba ilmu seperti ini dengan beberapa guru di luar rumah suluk secara liar, atau mungkin disebut murid preman. Orang Melayu menyebut kaji ini sebagai kaji diri, yakni apabila hendak mengenal Allah kenalilah diri, apabila mengenal diri binasa diri; alam bosa dipokocik, alam kocik dihabisi, tingga alam dalam diri, mano alam dalam diri, alam besar (makro kosmos) diperkecil, alam kecil (mikro kosmos) dihilangkan, tinggal alam dalam diri, manakah alam dalam diri? Tubuh manusia (insan), dalam pandangan orang Melayu terdiri dari: diri, diri terdiri - diri terperi, dan sebenar-benarnya diri, dan kajin ini pada akhirnya akan sampai ke taraf fana fi Allah. Kajian seperti kaji diri diri ini bukanlah kajian ilmu fiqih, tetapi lebih kepada yang disebut dengan rasa, sebagaimana seseorang yang tak pernah mengecap rasa buah tampu (buah yang tumbuh liar di hutan), tak akan tahu seperti apa rasa buah yang sudah langka itu. Pengetahuan-pengetahuan seperti ini diperlukan rasa yang disebut dengan zawq. Karena itu, pengetahuan tentang zawq (rasa) ini berkait-kelindan dengan kebudayaan dan kesenian yang juga memerlukan zawq atau rasa.

Bagaimana dengan ruh budaya dan kesenian? Apakah ruh budaya dan kesenian itu? Tinjau dan tilik kembali makna sebenarnya tentang ruh pada diri manusia itu. Apakah fungsi sebenarnya ruh manusia itu? Ruh menghidupkan raga (batang tubuh manusia), jika tidak ada ruh maka raga tidak akan dapat bergerak, tidak akan dapat berbicara, tidak akan dapat mendengar, dan segala perbuatan manusia lainnya, termasuk beribadah misalnya sembahyang. Analogi ini dapat dilihat pada kebudayaan dan kesenian. Dalam pembicaraan tentang budaya dan seni, selain kata ruh ada kata lain yang selalu dipakai yaitu kantong kesenian, tetapi saya lebih menyukai kata ruh kesenian. Ruh budaya (seni) ini dalam istilah kekinian disebut dengan software, yakni perangkat luak. Ruh kesenian sebagai perangkat lunak (software), sedangkan seniman sebagai perangkat keras (hardware). Kebudayaan dan kesenian tidak akan hidup tanpa mempunyai ruh (software). Budaya dan seni itu merupakan ruh atau software, sedangkan budayawan dan seniman merupakan raga atau hardware.

Akhir-akhir ini saya seperti merasakan kehilangan ruh kesenian dan kebudayaan kita (Melayu Riau). Bahwa, bermunculan seniman musik, seniman tari, seniman teater, seniman sastra, seniman lukis atau rupa. Duapuluh atau tigapuluh tahun yang lalu, sebelum tulisan ini ditulis, pemusik Melayu Riau masih dapat dihitung dengan sepuluh jari. Tidaklah banyak pemain biola (violin) pemain akordion (accordion), pemain gambus selodang, pemain gendang bebano, pemain gendang marwas, dan alat-musik Melayu lainnya; tetapi setelah berlalu duapuluh atau tigapuluh tahun sesudahnya, bermunculan pemain biola, pemain akordion, pemain gendang bebano, dan pemain gambus selodang, dan tak dapat dihitung lagi dengan sepuluh jari. Sudah tidak terhitung lagi pemain biola, pemain akordion, dan penabuh gendang bebano Melayu Riau yang dapat memainkan lagu Makan Sirih, tetapi saya sepertinya merasa kehilangan ruh dari lagu dan permainan musik lagu Makan Sirih itu, begitu juga lagu-lagu Melayu asli lainnya.

Saya tak menafikan bahwa permainan biola, akordion, dan gendang bebano dari sejumlah pemain musik yang bermunculan itu mempunyai teknik yang bagus, karena setelah berdirinya Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang membantu para pemain musik itu belajar secara teknikal; tetapi musik tidak hanya sekedar cukup dengan teknikal. Begitu juga dengan menyanyi lagu Melayu asli, sepertinya juga kehilangan ruh dari lagu itu. Ruh dari permainan biola dan akordion lagu Melayu asli itu adalah grenek dan cengkok, yang dalam istilah musik disebut dengan ornamento atau nada hias; juga grenek dan cengkok menyanyikan lagu Melayu asli yang dalam istilah musik disebut melismatik (melismatic). Jika perlakuan memainkan ornamento pada grenek dan cengkok biola dan akordion lagu Melayu, dan perlakuan menyanyikan melismatik cengkok dan grenek lagu Melayu asli tidak pada seharusnya, maka hal inilah yang disebut kehilangan ruh lagu Melayu asli itu. Soalan ini juga terdapat pada tari dan iringan musik tari Melayu Riau yang berkembang pada waktu ini. Dalam perbincangan ketika sama-sama menjadi juri musik kreatif Melayu Riau tingkat sekolah menengah pertama se-Riau, setelah sekian lama tak berjumpa, kawan saya Rusman (seniman pegawai negeri Taman Budaya Riau) merasa risau dengan keadaan itu. Persoalannya bukan tari dan iringan musik yang tidak bagus, tetapi jati diri, identitas diri, yang dalam tulisan ini menyebutnya kehilangan ruh tari dan musik Melayu Riau itu.

Pada sisi yang lain, bagaimana mau mencapai Riau menjadi pusat kebudayaan Melayu di Asia Tenggara dalam visi dan misi-nya yang ranggi tetapi akhirnya lapuk dan berbau busuk, jika ruh kebudayaan dan ruh kesenian Melayu Riau itu tidak pernah dipupuk dibela-pelihara; Cis!, tak usahlah nak belagak nak menjadi pusat budaya dan seni Melayu, apalagi untuk membuat present meaning Melayu kini. Bahwa, seniman dan budayawan kita (Melayu Riau) yang berada pada ceruk yang memiliki ruh budaya dan seni itu tidak pernah mendapat perhatian dan dimunculkan ke permukaan, sehingga budayawan dan seniman Melayu Riau yang bermunculan seperti cendawan tumbuh di musim hujan itu akan mendapat pencerahan, sehingga ruh kebudayaan dan kesenian Melayu Riau akan senantiasa hidup menjadi identitas dan jadi-diri. 

Karena itu jugalah hardware yang dibangun melalui Gedung (Anjung) Seni Idrus Tintin di kawasan Bandar Serai yang sudah seperti nugori dialah goudo (negeri dikalahkan garuda) itu tidak mengikutsertakan pembangunan software budaya dan kesenian Melayu Riau itu sehingga tidak tahu lagi apa yang mau dikerjakan. Pada sudut yang lain Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) membangun software kesenian pada generasi manusia Melayu Riau selanjutnya, dan lihatlah kelahiran para pemain biola, pemain akordion, pemain gendang bebano, penyanyi Melayu asli, bahkan pemusik klasik yang sudah tidak dapat dihitung lagi dengan sepuluh jari ketika masa A Soelaiman Syafiie, Abu Bakar, M Sani Burhan, Ali Anar, Yusuf Dang, Jakfar Bule, Syamsuddin Tambusai, Hudromi H Amin, Yusman, dan sejumlah nama lainnya yang semuanya sudah meninggal-dunia. Para teaterawan dan satrawan bermunculan bak air bah, tetapi saya (kalau tidak mau disebut kita) merasa sudah kehilangan ruh teater dan ruh sastra itu semenjak meninggalnya Idrus Tintin, Haji Hasan Junus, B. M. Syamsuddin, Ediruslan Pe Amanriza, dan sejumlah nama lainnya yang tidak mungkin kembali ke Riau ini. Sementara gedung untuk akademi kesenian itu masih menumpang, padahal kawasan Bandar Serai itu dicanangkan oleh pemerintah daerah Riau bersama para seniman dan budayawan Riau termasuk membuat dan mendirikan Institut Seni, dan ironisnya di kawasan Arts Centre (Pusat Kesenian dan Budaya Melayu Riau) itu dibangun dan difasilitasi pula gedung yang tidak ada kena-mengena dengan budaya dan seni sebagaimana yang dicanangkan itu, eeenggg ngalaaah.

 Ruh budaya dan ruh kesenian itu akhirnya akan terbang bersama kepergian pelaku budaya dan seniman Melayu Riau yang dirinya sendirilah jati-diri dan identitas budaya dan kesenian itu; jika kita tidak membangun dan memelihara software budaya dan seni yang masih tinggal tidak seberapa lagi pada orang-orang seperti: Pak Taslim (tukang koba dan ensiklopedia Melayu), Mak Itam, Wan Khatijah (tukang nyanyi-panjang), dan beberapa orang tersisa yang akhirnya akan terbang juga membawa ruh budaya dan ruh kesenian ke alam asal-muasalnya, dan dimana ruh kesenian itu akan dicari? Di Taman Budaya Riau, di Anjung Seni Idrus Tintin? Entahlah Nyot, Ntan.***


Zuarman Ahmad, komposer, pemusik, pengajar musik Akademi Kesenian melayu Riau (AKMR), penulis cerita-pendek, Wapimred Majalah Budaya Sagang, Penerima Anugerah Sagang 2009.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Follow Us