ESAI BUDAYA

Urban dan Rural dalam Cerpen Kita

30 Agustus 2015 - 16.26 WIB > Dibaca 1262 kali | Komentar
 

Oleh Budi Hatees

Ketika Iwan Simatupang  menghasilkan cerpen-cerpennyayang kemudian dikumpulkan Dami N. Toda dalam buku Tegak Lurus dengan Langit setelah si pengarang meninggal - pembaca  menemukan potret orang-orang urban pada sosok tokoh-tokoh ciptaannya. Misalnya, tokoh cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu,  adalah seorang suami  yang menyuruh istrinya menunggu di pojok jalan karena ia hendak membeli rokok di warung. Namun,  si suami ternyata baru kembali 10 tahun kemudian. Pada saat itu si istri telah menjadi pelacur. Ketika si suami hendak bercinta, istrinya malah meminta bayaran.

Logika rasional pembaca tidak bisa menerima bagaimana mungkin si suami pergi selama 10 tahun dan tidak pernah kembali ke istrinya yang selama 10 tahun itu menunggu di pojok jalan itu. Logika rasional itulah yang dikritik Boen S. Oemarjati tentang cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu, dan ia menolak cerpen Iwan Simatupang itu. Tapi dalam esai jawabannya, T untuk Tanggung Jawab, Iwan Simatupang secara meyakinkan mengatakan tanggung jawab seorang pengarang bukan menerangjelaskan makna dari teks sastranya, melainkan memikirkan karya apa lagi yang harus dihasilkannya.

Perdebatan Boen S. Oemarjati dengan Iwan Simatupang akan berulang hari ini seandainya ada pengarang lain yang  menulis dengan logika berkarya seperti yang dimiliki Iwan Simatupang. Di dunia sastra kita masih banyak yang berpendapat bahwa sastra sebagai cerminan hidup dan kehidupan manusia, dank arena pendapat itu mereka menyepakati bahwa sastra harusnya tindakan mimesis alam semesta belaka. 

Tapi sastra bukan soal logika rasional belaka. Iwan Simatupang dalam cerpennya tidak mempersoalkan logika rasional, melainkan hakikat hidup manusia perkotaan. Menghilang selama 10 tahun di dalam belantara kota metropolitan, baik si suami maupun si istri, mengalami banyak perubahan yang berdasar dan subtansial. Si suami menjadi abai terhadap istrinya, sebaliknya istri menjadi pelacur yang abai pada suaminya. Perubahan baru itu ternyata lebih melekat, menjadi tradisi baru bagi keduanya.

Si istri, lantaran terlanjur hidup sebagai pelacur, dia terbiasa meminta bayaran sehabis bercinta dengan pelanggan. Dia meminta bayaran terhadap suaminya.

Mungkin sosok Iwan Simatupang sebagai pengarang telah menginspirasi Seno Gumira Ajidarma ketika menulis cerpen Manusia Kamar. Baik Iwan Simatupang maupun tokoh dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma sama-sama menghabiskan waktu hidup di dalam kamar, sama-sama menulis cerita. Tapi nasib keduanya berbeda, dan mungkin Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen Manusia Kamar bukan lantaran ingin memotret kisah tentang Iwan Simatupang, melainkan menampilkan sosok manusia yang terobsesi dengan dunia kepengarangan hingga memutuskan lepas dari dunia sosialnya.
Iwan Simatupang yang banyak tinggal di kamar hotel adalah manusia yang nyaris asocial, mengurung diri di dalam kamar dan lepas dari lingkungan di luar kamar, meskipun ia banyak menghasilkan cerpen yang bicara tentang eksistensialisme manusia. Iwan Simatupang tidak bersentuhan dengan lingkungan sosial secara langsung, dan ia bekerja dengan merenungkan filsafat kehidupan.  Ia berhasil. Mungkin, hingga kini belum ada pengarang lain di negeri ini yang mampu mencapai sukses Iwan Simatupang sebagai pengarang.

Bukan sekadar sebagai sastrawan, tetapi sebagai seseorang yang melihat realitas masyarakat urban apa adanya. Kita tahu, bagi manusia urban, yang paling utama adalah akal instrumental. Setidaknya Max Weber berpendapat seperti itu.  Bagi manusia ini, akal sebagai instrument, dipakai untuk memburu hal-hal artifisial, sehingga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjauh dari nilai-nilai kolektif .
Bagi manusia urban, tidak ada adat dan tradisi. Konon lagi nilai-nilai etis sosial yang sering dihargai sebagai modal sosial oleh para sosiolog.  Manusia urban pemuja keuntungan.  Prioritas hidup mereka hanya keuntungan pribadi (individual). Uang, juga kapitalisasi modal, menjadi Tuhan yang baru.  Kolektivitas dipandang merugikan. Setiap orang menganut individualitas sebagai ideologi.  Lanskap dunia masyarakat urban  menjadi sangat personal.

Para pengarang cerpen di negeri ini, sebagian besar adalah orang yang tinggal, hidup, dan menyelenggarakan kegiatan kepengarangan sebagai bagian dari masyarakat  urban. Tapi lingkungan urban itu justru jarang muncul sebagai tema dalam cerpen mereka.  Tema-tema cerpen mereka dominan mengangkat perihal kehidupan manusia di lingkungan rural (pedesaan).

Di lingkungan rural, masyarakat masih kuat mempertahankan adat, tradisi, bahkan, mitologi.  Tapi, para pengarang cerpen tidak melakukan mimesis belaka terhadap kehidupan rural itu. Mereka sering mendekonstruksinya untuk menghasilkan makna-makna baru sehingga cerpen yang dihasilkan mampu mengatakan sesuatu pada jiwa pembaca.

Kita reformasi bergulir, menyusul otonomi daerah menjadi gerakan politik yang seakan sebuah ideology baru. Setiap orang di negeri ini menafsirkan otonomi daerah sebagai fase baru bagi meluasnya peluang segala hal yang berbau kedaerahan (lokalitas) untuk menyatakan eksistensinya. Segala yang local merebak ke permukaan, menyatakan eksistensinya, dan menuntut agar dijadikan ikon penanda yang baru.

Dengan sendirinya, kelokalan itu memicu menguatnya nilai-nilai local, meskipun tidak sedikit yang gagap menafsirkannya sehingga terkesan memperalat hal-hal local itu.  Tidak jarang, para pengarang yang hidup di lingkungan urban, ngotot memaksakan diri berbicara tentang lingkungan rural. Mereka menjadi seperti pengamat yang memakai kaca mata kuda, yang berekspoerimen dengan proyek-proyek local itu, meskipun kemudian hanya berhasil memasukkan kosa kata-kosa kata lokal ke dalam tubuh cerpen yang ditulis dalam Bahasa Indonesia.

Ada juga yang sukses bicara tentang masyarakat rural meskipun ia tinggal di lingkungan urban. Keberhasilan mereka terutama karena mampu menghadirkan teks sastra yang menggunakan mitologi dan mendekonstruksi mitologi itu sendiri untuk memperoleh teks yang berbicara lebih. Triyanto Tiwikromo dalam Surga Sungsang,  harus diakui membongkar sejumlah mitos di lingkungan rural masyarakat Jawa, lalu mendekonstruksi mitos itu untuk mengkonstruksi makna lain dari mitos itu.
 
Usaha Triyanto bisa disebut sukses karena ia membalik apa yang pernah dilakukan pengarang sebelumnya. Jika sebelumnya para pengarang memakai nilai-nilai masa kini untuk membongkar sistem makna yang terdapat dalam mitos, maka Triyanto lewat Surga Sungsang melakukan hal sebaliknya. Sistem makna dari nilai-nilai masa kini justru dibongkar dan dihancurkan dengan cara mereproduksi mitos, sehingga pembaca dipaksa untuk menafsirkan teks-teks sastranya dengan cara masing-masing. Namun, mereka yang tidak memahami mitos-mitos yang direproduksi Triyantomisalnya masyarakat yang tinggal bukan di Pulau Jawa, yang secara kultural bukanlah orang Jawatidak akan sampai pada tafsir yang lebih kaya atas teks sastra dalam Surga Sungsang.***
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Follow Us