KOLOM ALINEA

Peribahasa: Kekuatan Berbahasa

30 Agustus 2015 - 16.44 WIB > Dibaca 1863 kali | Komentar
 
Oleh Sarmianti

Orang Melayu dikenal dengan tuturan yang halus dan santun. Bentuk tuturan seperti ini muncul dari sifat orang Melayu yang tidak suka berterus terang dan cenderung takut menyakiti hati orang lain. Oleh karena itu, muncullah bentuk-bentuk ungkapan yang dapat memperhalus atau menyembunyikan maksud seorang pembicara, seperti pantun, peribahasa, pepatah, perumpamaan, dan bahasa berirama.

Peribahasa memiliki kekhasan bila dibandingkan dengan ungkapan tradisional yang lain. Tidak seperti pantun dan syair, permainan bunyi dalam peribahasa Melayu tidak terlalu ketat. Akan tetapi, kata-kata dalam peribahasa dipilih dan disusun sedemikian rupa sehingga tetap indah didengar. Peribahasa lebih mementingkan makna kias atau pesannya. Peribahasa menekankan muatan pesan yang terkandung di dalam bentukan kalimatnya karena tujuannya adalah sebagai nasihat atau pengajaran.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), peribahasa diartikan sebagai; Pertama, kelompok kata atau kalimat yang tetap susunannya, biasanya mengiaskan maksud tertentu (dalam peribahasa juga termasuk bidal, ungkapan, perumpamaan). Kedua, ungkapan atau kalimat ringkas padat, berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku. Sementara, James Danandjaja dalam bukunya Folklor Indonesia: Ilmu gossip, dongeng, dan lain-lain (1986) mengungkapkan bahwa peribahasa itu sulit didefinisikan. Akan tetapi, menurutnya, ada tiga sifat hakiki yang harus dimiliki: (1) harus berupa satu kalimat ungkapan, tidak cukup hanya satu kata; (2) ada dalam yang sudah standar (bentuknya tetap); (3) harus mempunyai vitalitas (daya hidup) tradisi lisan. Jadi, semua ungkapan tradisional yang memiliki tiga sifat ini dapat dikatakan sebagai peribahasa.

Sejak zaman dahulu, peribahasa selalu digunakan orang Melayu dalam komunikasi sehari-hari, mulai dari rakyat biasa hingga para petinggi adat. Penggunaan ungkapan ini memberi kekhasan dalam tuturan pada masyarakat Melayu. Cara bertutur seperti ini juga memberi kekuatan dalam berkomunikasi. Selain itu, maksud pembicaraan seseorang dapat lebih merasuk dan menggugah penalaran teman bicara sehingga akan selalu diingat. Oleh karena itu, dalam memberi nasihat atau kritikan penggunaan ungkapan tradisional ini akan lebih efektif.

Contohnya, “sehari sehelai benang, lama-lama jadi sehelai kain”. Pribahasa ini memiliki arti hal perbuatan orang yang sabar dan tidak putus asa, dari sedikit lama–lama berhasil juga. Peribahasa ini dapat juga dijadikan nasihat supaya seseorang tekun dalam bekerja atau menabung. Tidak ada kesan menggurui bila kita menyampaikan peribahasa ini untuk memberi semangat pada seseorang. Orang yang diberi nasihat juga akan mengingat pesan ini di sepanjang hidupnya.

Pribahasa nasihat lainnya, “alang-alang menyeluk pekasam, biar sampai ke pangkal lengan”. Makna sebenarnya adalah jika mengaduk pekasam (makanan fermentasi) sebaiknya dilakukan dengan adukan yang baik walau harus mengotorkan seluruh tangan. Bila mengaduk hanya dengan jari-jari, pekasam tidak akan menjadi sementara tangan tetap akan berbau. Jadi, peribahasa ini dapat disampaikan pada orang yang membantu atau berkorban untuk orang lain agar melakukannya tidak setengah-setengah karena hasilnya tidak akan maksimal.

Peribahasa dapat juga  digunakan untuk mengkritik perbuatan orang lain. Kritik atau sindiran yang menggunakan peribahasa akan terasa lebih santun. Orang yang disindir tidak akan tersinggung tetapi akan segera menyadari kekeliruannya untuk kemudian mengubah prilakunya. Sebagai contoh, ungkapan, “bagai memakai baju pinjaman”, dapat disampaikan pada orang yang “bersandiwara” dalam hidupnya. Keadaan dirinya dibuat-buat, tidak asli, penuh kepalsuan, sehingga kelihatan canggung dan kaku. Sementara untuk menyindir orang yang bodoh, menurut atau mengikut saja dengan perkataan orang lain, masyarakat menggunakan ungkapan seperti, “kerbau dicocok hidung”. Kerbau yang dicocok hidungnya dengan tali akan menurut pada orang yang menuntunnya tanpa ada pertimbangan baik buruk untuk dirinya. Keaadaan kerbau seperti ini kemudian dibandingkan pada sikap manusia.

Ungkapan “jangan dipegang seperti bara, terasa hangat dilepaskan”,  misalnya, dapat disampaikan pada orang yang sedang menyampaikan alasan untuk melepaskan tanggung jawabnya terhadap suatu tugas. Karena tugas yang telah dilaksanakan terasa berat, orang tersebut menyampaikan bermacam alasan untuk meninggalkan tanggung jawab yang telah dipercayakan padanya. Untuk itu, disampaikanlah ungkapan ini agar dia tidak memberikan alasan-alasan lain lagi. Biasanya, bila suatu peribahasa diberikan sebagai pematah pembicaraan, tidak ada alasan lagi bagi orang tersebut untuk melanjutkan pembicaraan dengan topik yang sama.

Orang Melayu selain tidak ingin orang merasa sakit hati atas perkaataannya juga tidak mahu orang menjadi pongah atau besar kepala atas pujian yang diberikan. Oleh karena itu, dalam memberikan pujian, orang Melayu juga suka menggunakan peribahasa. Pujian yang menggunakan peribahasa akan membahagiakan atau menyenangkan hati orang yang dipuji tetapi tidak membuatnya menjadi sombong. Contohnya, untuk memuji orang yang pandai berpidato di depan orang banyak digunakan peribahasa, “bagai ayam tangkas di gelanggang”. Untuk dua orang yang sejodoh benar, dapat digunakan ungkapan, “seidas ‘sepilin’ bagai benang, sebentuk bagai cincin”.

Tidak hanya itu, orang Melayu juga memiliki peribahasa bijak yang memuat ajaran moral sebagai pedoman hidup. Contohnya, “berjalan sampai batas, berlayarlah sampai ke pula”. Artinya, segala usaha hendaknya sampai pada tujuannya. “Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir. Artinya supaya orang sayang, hendaklah kita selalu bertingkah laku baik, sopan santun, dan berbudi bahasa luhur.

Jelas, bahwa peribahasa mampu memeberi kekuatan dalam berbahasa. Walaupun, tidak semua orang memiliki kemampuan bertutur menggunakan peribahasa dengan baik, terutama pada zaman sekarang. Namun, setidaknya kita mengetahui makna ungkapan tradisional tersebut dan dapat menggunakannya meskipun sedikit. Semoga.***

Sarmianti, Pegawai di Balai Bahasa Provinsi Riau

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us