CERPEN

Suara 4

30 Agustus 2015 - 16.55 WIB > Dibaca 1152 kali | Komentar
 
Oleh Taufik Ikram Jamil

SAYA telah berpesan agar Dino, Sulis, dan Arta dapat menyortir setiap orang  yang datang. Tidak semua pengunjung dengan berbagai keperluan, harus saya tangani sendiri. Mereka juga bisa dan  karena itu pulalah mereka bekerja untuk saya, duduk di meja terdepan. Arta telah saya percayakan menjadi kasir, sedangkan Dino dan Sulis melayani pembeli. Sesekali, kalau calon pembeli terlihat banyak, Arta dapat membantu kedua orang karyawan tersebut.

Kalau begini terus, bisa mampus saya, kata saya kepada mereka bertiga yang saya kumpulkan petang itu, setelah hampir kehilangan akal melayani seorang tamu. Orang itu kemudian memang pergi setelah saya marahi habis-habisan, meskipun dalam gumamnya yang tak jelas, sambil berlalu ia mengatakan akan datang lagi dengan maksud serupa.

Saya kemudian berkata, Coba saja kalian bayangkan. Dalam sehari ini saja, sudah tiga orang yang mengaku sebagai sales yang kalian sodorkan kepada saya. Mereka menawarkan suara, menawarkan suara. Tak tanggung-tanggung, mereka jamin bahwa benda atau apa pun namanya itu akan laku keras kalau dijual di toko ini. Pembelinya banyak dan siap nego harga tanpa bandrol. Gila tak itu

Saya sudah berusaha untuk menolak mereka dengan lemah lembut. Malahan saya hidangkan mereka teh panas yang saya aduk sendiri. Goreng pisang dan kue kabin pun saya sodorkan. Tapi lebih dari sales yang saya jumpai dalam belasan tahun ini, ada-ada saja bahan mereka untuk tetap menawarkan barang dagangan mereka. Saya sendiri yang bertahun-tahun menjadi sales sebelumnya, sebelum akhirnya dapat membuka empat toko di berbagai kota, rasanya tidak ngotot sengotot-ngototnya seperti mereka ketika menawarkan produk.

Terus-terang, semula saya terkejut juga mendengar tawaran mereka, apalagi diawali dengan kata-kata yang jitu. Sales bernama Ronald misalnya, begitu bersalaman, ia langsung berucap, Bapak sungguh manusia yang beruntung. Keberuntungan yang sangat langka di dunia. Bapak peniaga pilihan yang hanya dapat diraih oleh sedikit orang. Tentu, saya sangat bangga bisa bertemu Bapak hari ini, sebagai suatu catatan istimewa dalam hidup saya.

Wah, wah Biasa saja kali. Berlebih-lebihan saya kira, balas saya sambil mempersilakan ia duduk.

Ia tetap memuji-muji saya walaupun saya telah menolak sikap semacam itu. Tak perlu tunggu waktu lama, perut saya mulai mual mendengar ocehannya. Saya ingat pesan guru mengaji dulu bahwa kalau seseorang memuji lebih dari tiga kali, setan akan memperoleh ruang untuk bertindak keji. Apalagi pujiannya tak lepas dari barang dagangan yang hendak ditawarkannya kepada saya. Sebab konon benda tersebut hanya dapat dijual oleh orang hebat. Ya

Suara bagaimana? tanya saya.

Ya, suara Pak. Suara, tegasnya, sambil menerangkan bahwa suara itu merupakan bagian asli dari manusia tanpa bentuk, tetapi hanya memerlukan komitmen dan niat dengan sungguh-sungguh melaksanakan melalui suatu kalimat pendek. Jadi, saya berkomitmen membeli suara padanya untuk saya jual lagi kepada yang memerlukan. Bukankah dengan demikian, katanya, jual-beli suara tak bisa dilakukan orang sembarangan melainkan orang hebat?

Kontan saja saya tidak setuju, sebab setidak-tidaknya dalam hukum jual beli akan melibatkan benda kasat mata. Ronald malahan menyambut ketidaksetujuan saya tersebut dengan coba membuka kopernya yang saya tampik sambil mengatakan bahwa hal tersebut tidak perlu. Oleh karena ia tetap ingin membuka kopernya, saya sampai mengatakan bahwa saya belum terlalu gila untuk hal semuanya itu. Saya suruh ia pergi dengan alasan bahwa saya akan keluar. Tetapi karena ia menahan saya juga, tak pelak lagi bentakan saya keluar tanpa kendali.

***
DINO, Sulis, dan Arta mengetahui semuanya itu. Merekalah malahan yang melerai komunikasi saya dan Ronald yang hampir menjadi perkelahian. Sulis memanggil Satpam komplek pertokoan yang segera datang dengan sigap. Dua orang mereka menyeret Ronald dari toko saya ini. Apakah kalian ingin peristiwa semacam itu terulang terus-menerus? tanya saya kepada mereka bertiga. Apa kalian mau? ulang saya menegaskan.

Dalam keadaan tertunduk ketiga karyawan tersebut menggeleng. Lalu, mengapa orang-orang semacam Ronald masih kalian hadapkan dengan saya? Kalian kan bisa bertanya dulu apa keperluan mereka, menyelidikinya, dan menilai patut atau tidaknya mereka saya hadapi? Kalian tidak bisu kan? Kalian masih bisa bicara kan?
Mereka tetap mengangguk.

Jangan mengangguk saja. Bicara, bicara! saya hampir berteriak.

Dino! Engkau lelaki. Sepatutnya engkaulah yang dapat menangkap gelagat yang tak sedap terlebih dahulu. Engkau menjadi benteng setelah Sulis atau Arta sekalipun, tidak dapat menahan orang yang mau menemui saya untuk hal yang tidak-tidak, lanjut saya seraya menambahkan bahwa hal semacam itu sudah menjadi semacam prosedur tetap.
Sebagaimana biasa, setiap tawaran konyungasi, Arta-lah yang menanganinya setelah terlebih dahulu dibincangkan antara Sulis atau Dino dengan si sales. Keputusannya memang di tangan saya, tetapi setelah memperoleh data lengkap dari Arta. Apa benda yang ditawarkan, berapa harga, dan bagaimana sistem pembayarannya, sudah dibicarakan tuntas antara karyawan-karyawan itu dengan sales.

Itu pun mengikuti garis-garis yang telah saya buat sebelumnya seperti margin keuntungan, termasuk produk yang kira-kira dapat dijual di toko ini. Produk yang berkaitan dengan pemantul suara, pemevariasi suara, dan sejenisnya. Berbagai macam tipe dari berbagai merk tersedia di toko ini. Ya, berkaitan dengan suara memang, tetapi bukan suara yang dimaksudkan Ronald dan dua sales lainnya itu.

Saya pikir, semuanya sudah jelas. Ketiga karyawan ini pun bukan sekejap berkerja dengan saya. Sudah melumut pun istilah orang-orang tua untuk mengungkapkan bukan sekejapnya waktu yang telah mereka habiskan bersama saya sebagai pekerja. Arta telah 12 tahun dengan saya, Dino pun hampir sama. Hanya Sulis yang baru jalan empat tahun berkerja di sini.

Dino malahan, ikut saya merintis toko di Selatpanjang, Dumai, dan Tembilahan. Hanya karena alasan orang tua yang menyebabkan ia tidak selalu dapat mengikuti saya kalau pergi ke luar kota ini, melihat keberadaan toko-toko saya di tempat lain. Pasalnya, orang tua Dino selalu sakit-sakitan, sementara orang lain di rumahnya tidak ada. Tidak ada orang dekat kalau orang tuanya memerlukan bantuan cepat.

***
DINO, Sulis, dan Arta, saya tinggalkan dalam suasana marah yang seperti memenuhi toko. Saya tak peduli dan sempat berpikir, lebih baik saya keluar dulu agar marah saya menguap, kemudian hilang dalam udara yang terbuka. Saya menuju caf Yuk-e dalam lingkungan pasar seni. Mendengar musik yang lembut, ditemani secangkir kopi dan kacang Turki, saya kira cukup meredam kemarahan saya sekarang.

Belum setengah jam di tempat itu, telepon genggam saya berdering. Adel, orang yang saya percayai menangani toko di Dumai, ingin bertemu saya yang dikatakannya dalam keperluan menggairahkan untuk keuntungan besar. Sempat juga dicandainya saya dengan menyebutkan bahwa Dumai telah merindukan saya. Selat Rupat telah mengharapkan saya untuk direnangi, bahkan Puteri Tujuh selalu menyebut-nyebut nama saya sebagai lelaki yang patut dikenang.

Lalu hydrocracker, telah lama hendak menghaguskan saya, kemudian menyemburkan saya sebagai H20, sebelum tertangkap awan yang menghempaskan saya ke bumi dalam hujan? sambut saya, teringat kilang minyak di kota tersebut, menghasilkan BBM yang amat diperlukan oleh warga di negara ini.

He he he, Adel mengekeh.

Bersamaan dengan kekehannya, terdengar ada nada pesan pendek (SMS) masuk ke pesawat telepon genggam saya. Begitu Adel memutuskan kontak dengan janji akan menemui saya di caf ini, layanan teks telepon genggam saya buka serta-merta. Dari Dino. Agak malas saya membacanya, mungkin sisa marah saya masih belum terusir secara sempurna.

Sebaliknya, tak dapat saya pungkiri bagaimana terkejutnya saya setelah membaca kalimat pertama SMS Dino, Kami telah ikut menjual suara yang dijanjikan sales-sales itu yang ternyata membawa keuntungan besar. Saya, Arta, dan Sulis, siap dipecat karena tindakan ini.

Kalimat-kalimat berikutnya, sudah malas saya baca. Saya terawangkan pandangan keluar caf, berusaha menenangkan pikiran. Astaga, dari balik kaca, saya justeru melihat Adel bersama sales-sales yang mendatangani saya tadi, terpingkal-pingkal dalam wajah penuh ceria. Saya mau lari, kabur lewat pintu belakang. Tetapi tubuh saya terasa terkunci di sofa, sedangkan kalimat Adel melalui telepon terngiang-ngiang di kepala saya, Untuk keuntungan besar.

Keuntungan besar?***


Taufik Ikram Jamil adalah sastrawan Indonesia asal Riau karya-karyanya sudah
dibukukan, baik sajak, cerpen, maupun roman. Bermastautin di Kota Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us