Marhalim Zaini

Puisi (dan) Nusantara

6 September 2015 - 10.46 WIB > Dibaca 1032 kali | Komentar
 
RIAUPOS.CO - Belakangan, kata “nusantara” bergaung lagi—setidaknya, orang-orang cukup sibuk dengan diskusi ihwal “Islam Nusantara.” Lalu, apa yang kemudian terbayang pula ketika kita menyebut kata “Nusantara” untuk puisi (sastra)? Keberagaman, ataukah keseragaman? Keluasan atau justru penyempitan? Penyatuan atau ketercerai-beraian? Penguatan mitos, atau semata fashion? Sebuah ideologi, atau sekedar ihwal geografis-historis? Sedang bicara tentang narasi besar, atau narasi kecil?

Tentu, tiap kita punya orientasi berbeda. Namun, hemat saya, kata “nusantara” dalam kepala kita, (masih) sebuah abstraksi yang goyah ketika disandingkan dengan “sastra,” (masih) sebuah spirit (lama) yang timbul-tenggelam dalam pasang-surut zaman. Lalu, bagi sastra (puisi khususnya), apakah kegoyahan (konsep kenusantaraan) itu memberi pengaruh teramat besar terhadap proses pertumbuhannya, hingga kini? Apakah puisi (modern) kita, hari ini, memang “peduli” dengan Nusantara? Apakah ada signifikansinya antara perkembangan proses kreatif penciptaan penyairnya (sastrawannya) dengan misalnya berbagai ivent pertemuan yang memakai kata “Nusantara.”

Iven-iven itu, agaknya, memang seolah tengah membangun semacam semangat untuk mengusung “Nusantara” dalam sebuah “narasi besar.” Sebuah gagasan “politik identitas kebudayaan” sebagai upaya resistensi, atau (boleh juga kita sebut) sebagai “strategi perlawanan” terhadap narasi-narasi besar yang lebih dominan. Tentu, wacana globalisasi, yang membawa berbagai dominasi narasi besar semacam imperialisme, juga kapitalisme, adalah salah satu sebab-musababnya. Sekilas, upaya ini positif, setelah melihat berbagai efek degradasi sosial-budaya yang ditimbulkannya.

Namun, senjatanya apa? Tentu saja, teks karya sastra, teks puisi. Tentu, kita tidak pernah kuatir bahwa karya-karya sastra klasik (Nusantara) kita adalah “senjata ampuh” kita, adalah kekayaan kita yang tak lekang oleh hujan-panas, adalah prasasti-prasasti yang telah tertancap dengan kokoh di tanah serumpun ini. Dengan begitu, karya-karya itu adalah juga representasi kenusantaraan kita, keserumpunan kita. Dan, karya-karya itulah yang terus-menerus membangun dirinya menjadi “narasi besar”. Lalu, ketika realitas kontemporer kita telah demikian menghendaki pluralisme, menghendaki situasi sosial yang jauh berbeda konfigurasinya, maka “narasi besar” harus terus dikukuhkan dengan—tak lain tak bukan—melalui “karya sastra baru.”

Nah, pertanyaannya, sudah sejauhmanakah perkembangan capaian karya sastra (Nusantara) kita mutakhir, utamanya puisi? Jalan di tempatkah, jalan terseret-seretkah, jalan merambatkah, lari-lari kecilkah, lari maratonkah, atau ngebut? Kalau dalam konteks serumpun, bagaimanakah perbandingannya perkembangan karya puisi satu negara dengan negara yang lain? Jangan-jangan, saya kuatir, hanya satu atau mungkin dua negara saja, yang dinamika perkembangan sastranya berlari, sementara yang lain jalan di tempat, atau bahkan stagnasi. Ketidakseimbangan semacam ini, saya kira, penting untuk ditelaah sebagai bahan untuk kemudian bertanya, mampukah “Sastra Nusantara” kita hari ini untuk menjadi “Narasi Besar”?
Atau, jangan-jangan juga, kita sedang membangun utopisme, sedang membangun status-quo semata? Kesibukan kita, yang memang gemar menggelar ivent-ivent perayaan, yang seolah tengah membangun “narasi besar” itu, lalu kerap abai terhadap “narasi-narasi kecil”—yakni soal bagaimana menulis puisi dengan “serius,” bersungguh-sungguh, dan tidak ala-kadarnya, tidak asal jadi. Maka, yang terjadi, kita seolah memang tampak sedang merayakan kesemarakan kehidupan kesusastraan kita, tapi sesungguhnya kita hanya sedang semata bernostalgia, sedang rekreasi di luaran, di pinggir-pinggir karya sastra itu sendiri, di luar tubuh puisi itu sendiri.***

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us