Siti Nurbaya dalam Gerak, Ucap dan Bunyi

6 September 2015 - 11.01 WIB > Dibaca 1697 kali | Komentar
 
Siti Nurbaya dalam Gerak, Ucap dan Bunyi
Drama tari:Salah satu adegan dalam drama tari Siti Nurbaya pentas di Anjung Seni Idrus Tintin oleh sanggar Indo Jati Padang, Sabtu (29/8/2015).
RIAUPOS.CO Komunitas Indo Jati dari Sumatera Barat mementaskan sebuah drama tari berjudul Siti Nurbaya di Anjung Seni Idrus Tintin, pada Sabtu (29/8) lalu. drama tari yang dimaksud adalah gabungan dari gerak, ucap dan bunyi. Artinya yang dapat disaksikan di atas panggung, beberapa pelakunya melakukan tari-tarian, berdialog dan juga bernyanyi.

Kisah yang hendak disampaikan di dalam drama tari yang berdusari lebih kurang satu jam itu adalah merenungkan kembali isi dari cerita tentang tokoh Siti Nurbaya dalam novel karya Marah Rusli.

Menurut skenografinya, Muhammad Ibrahim Ilyas mengatakan ada hal yang kemudian perlu diluruskan terutama tentang bagiaman orang menganggap cerita Siti Nurbaya yang identik dengan kawin paksa padahal sebenarnya tidak demikian. Terpaksa kawin iya. Siti Nurbaya sendiri yang memutuskan untuk menikah dengan Datuk Maringgih agar orangtuanya terhindar dari lilitan hutang dan penjara. Jadi jelas, bukan kawin paksa karena kawin paksa itukan dinikahkan atas dasar kehendak orangtua, ujar Bram sapaan akrab penyair asal Padang itu.

Atas dasar pemikiran itulah kemudian, drama tari berjudul Siti Nurbaya itu dikemas dalam proses persiapan memakan waktu dua bulan. Tampak memang di atas panggung, para pelaku tidak hanya menari tetapi juga sesekali bernyanyi dan juga berdialog layaknya pementasan teater. Namun dalam kemasan teaternya, adegan yang diangkat dan lebih ditekankan adalah tatkala Siti Nurbaya tidak rela melihat orangtuanya terlilit hutang dan segera menyetujui permintaan Datuk Maringgih serta mengorbankan cintanya kepada Syamsul Bahri.

Selebihnya adalah adegan tari dan nyanyian sebagai penguat adegan demi adegan yang terdapat dalam drama tari yang sudah dipentaskan di TMMI Jakarta dan Padang tersebut.

Bram juga menjelaskan, dari konsep yang telah dipilihnya bukanlah merupakan konsep baru bagi pelaku seni di kawasan Asia. Katanya, pada awalnya teater rakyat Indonesia maupun Asia, kalau dilihat dan ditelisik lagi memang tidak bisa dipisahkan antara tari, musik dan drama. Hanya saja, etika ilmu seni dari Barat masuk, barulah memisahkan ketiga unsur tersebut. Dicontohkan Bram dengan Randai yang di dalamnya terdapat unsur musik, tari, dan drama.

Ini juga kan jelas, pada dasarnya kita tidak bisa memisahkan hal itu, dia menjadi satu kesatuan layaknya Randai yang hari ini bisa kita sebut musik, tari maupun drama. Tapi belakngan, mari kita lihat, para pelaku seni mulai gerah sendiri, tidak puas dengan medianya, orang musik mulai berkata-kata, orang tari pun demikian, orang teater sibuk bergerak dan lain sebagainya. Terbukti bahwa sebenarnya ke tiga unsur tersebut sebenarnya tidak bisa dipisahkan, jelas Bram.

Hanya saja, Bram selaku seniman juga sebenarnya sangat menyayangkan keberadaan Siti Nurbaya di daerahnya lebih muncul ketimbang penulisnya. Ini yang disebutkan miris karena di Padang ada jembatan Siti Nurbaya, ada festival budaya Siti Nurbaya bahkan ada pula sebuah makam yang dipercayai sebagai makam Siti Nurbaya. Inikan sebenarnya fiksi yang difaktakan. Sedangkan penulisnya sendiri tidak disebut-sebut, tidak ada nama jalan Marah Rusli, misalnya, ucap Bram.
 
Oleh karena itu, diadegan pembuka dan penutup, dimunculkan dan disebut nama Marah Rusli berkali-kali untuk mengajak dan menyemai kesadaran bahwa si pengkarya dari novel yang cukup terkenal itu juga layak disebut jasanya dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia. (jef)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us