KUNNI MASROHANTI

Sampai ke Lubang Semut

6 September 2015 - 11.35 WIB > Dibaca 1384 kali | Komentar
 
Sampai ke Lubang Semut
Mau jadi apa negeri ini. Mau kemana lagi kita sembunyi. Haruskah kita meninggalkan tanah kelahiran ini? Ke lubang semutpun kita tak bisa bernafas lega. Nak sampai ke mana kita berlari.

Itu blcackbarry massanger (BBM) Rusdi, salah seorang teman kepada saya beberapa hari lalu. Terasa ia sangat marah. Kesal. Berkali-kali ia BBM seperti itu. Kadang juga SMS, bahkan nelpon. Ia sebut pemerintah pusat tidak peduli dengan nasib 6 juta warga Riau, masyarakat tak tahu diri, jurnalis juga tidak perduli. Kemarahan bertubi-tubi yang tak bisa dibendung ketika anaknya harus sakit lagi karena serangan Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).

Tidak hanya Rusdi yang marah. Sudah pasti gemuruh kesal juga membuncah di hati warga Riau lainnya. Apalagi anak-anak harus libur sekolah. Penerbangan harus dihentikan selama beberapa hari. Tak bisa pergi jauh. Tak bisa juga orang datang ke Pekanbaru dengan cepat. Bahkan banyak yang terjebak di luar kota karena tak bisa mendarat di bandara Pekanbaru. Tiketpun dibatalkan. Marah. Kalau pun sampai ke Pekanbaru harus menutup hidung dengan harapan tetap sehat. Sesak. Pekanbaru benar-benar panas.

Kondisi emosiaonal warga yang tidak stabil membuat mereka  mengambil sikap: keluar dari Pekanbaru sementara waktu. Tak bisa lewat udara, mereka menggunakan jalur darat. Sumbar menjadi salah satu destinasi melepas rajuk yang tak berkesudahan itu. Tak heran jika  Sabtu (5/9) kemarin, jalan dari Pekanbaru ke arah Sumatera Barat (Sumbar), macet. Padahal, pada Hari Sabtu yang lain, kemacetan terjadi dari Sumbar ke Pekanbaru, tepatnya di Padang Luar. Bukan karena hari besar.  Bukan pula hari libur di akhir pekan. Tapi, karena libur sekolah di musim asap. Banyak kendaraan yang di dalamnya terdapat orangtua bersama anak-anak mereka. Sebagian mereka menuju Bukittinggi, tapi sebagian yang lain menuju Padang.

Seperti sebelumnya, musim asap kali ini juga mengusik ketenangan warga. Dua hari terakhir, matahari tak terlihat di langit Pekanbaru. Tak heran jika warga Pekanbaru mencari matahari di langit lain sambil mengajak anak anak berlibur selama musim sekolah. Ya, libur yang semula diumumkan hanya sampai Jumat kemarin, tapi diperpanjang hingga besok. Musibah membawa nikmat!

Lewat perbatasan Pekanbaru-Sumbar, asap masih tebal. Tapi bukan berarti asap tidak menyebar di  Kota Bukittinggi atau pun Padang. Benar-benar menyebar.  Matahari di ranah Minang pagi kemarin sempat cerah lalu memerah saat menjelang siiang. Tapi,i tidak hilang seperti di Pekanbaru. Paling tidak, sedikit lega dibandingkan saat di Pekanbaru.

Asap Riau selalu menjadi perbincangan. Di sepanjang perjalanan saya menuju Padang bersama penyair-penyair Riau yang akan menghadiri malam puncak Hari Puisi Indonesia (HPI), asap juga menjadi topik pembicaraan. Juga menjadi bait-bait sajak yang dibacakan penyair-penyair tersebut tadi malam di Taman Budaya Sumbar. Serba sindirian, kepedihan, keputusasaan kemarahan, tapi juga harapan-harapan.

Sudah pasti  udara beracun yang telah dihirup warga Riau selama 18 tahun itu mengundang perhatian banyak pihak. Aktifis lingkungan berkumpul Rabu lalu. Dada mereka bergemuruh. Apa yang bisa dilakukan? Besok pagi, Senin (7/5) mereka berencana turun ke jalan. Menyuarakan kerisauan risau yang panjang itu. Mencari perhatian siapa saja yang hendak menolong Riau agar bisa keluar dari kurungan racun udara itu.

Kalau asap Riau masuk ke mana saja, ke ceruk-ceruk kota, ke dalam ruang gedung-gedung yang tertutup rapat, kami juga akan mencari pertolongan ke mana saja. Bahkan sampai ke lubang semut!. Itu teriak mereka.***
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us