ESAI BUDAYA

Susi dan Pelengkap Ambiguitas Kehidupan

6 September 2015 - 15.21 WIB > Dibaca 1153 kali | Komentar
 
Susi dan Pelengkap Ambiguitas Kehidupan
Novelis Hary B Koriun dengan buku "Susi" karta Gus tf. (TWITTER GUS TF)
Oleh Alpha Hambally

MISALNYA kita ditanya,  apa yang terlintas di pikiran saat mendengar kata Susi. Barangkali yang paling lekat di kepala kita adalah bahan banyolannya Tukul, pelawak yang seringkali menjadikan Susi (istrinya) sebagai bahan lawakan. Atau Susi Susanti, peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992. Tapi bukan itu yang saya maksud. Susi yang ini adalah Susi yang lain, Susi yang —mengutip Albert Einstein— imajinasi, yang bisa membawa kita ke manapun. Susi yang dirangkum dalam buku puisi Gus Tf, Susi 2008-2013.

Saya teringat buku Gus Tf sebelumnya, Daging Akar. Pada catatan penulis, menceritakan tentang peluncuran buku Sangkar Daging, ada seorang peserta yang bertanya apa maksud kata daging dalam puisinya. Gus Tf tidak menjawab pertanyaan itu, sehingga membuat peserta tersebut tampak kecewa. Setuju atau tidak dengan sikap penulis, sebenarnya sisi ambiguitas yang hendak ditekankan itu adalah sisi yang tidak perlu dipertanyakan. Penulis bersikap bijak dengan membebaskan pikiran pembaca, tentang daging. Juga tentang Susi, apa itu, lebih baik cari tahu sendiri.

Kembali ke Susi. Gus Tf menghadirkan kekuatan keambiguitasan yang dinarasikan oleh Susi. Susi ada di dalam tema, mengutip Sudjiman (1988:50) bahwa karya sastra yang mengandung tema merupakan ekspresi penafsiran atau pemikiran tentang kehidupan manusia. Kehidupan manusia juga mencakup seluruh elemen di sekitarnya. Susi berada di dalam sana. Terombang-ambing, Merasakan dan dirasakan. Memahami dan dipahami. Susi yang bukan laki-laki, perempuan ataupun benda. Susi yang—mengambil salah satu puisinya—menangis, merintih tapi tak sedih. Meraung, memukul dada, namun tertawa.

Beberapa puisi di dalam buku tersebut sebenarnya sudah pernah saya baca di koran Tempo dan Kompas. Tapi ada kesan lain ketika semua puisi Susi dirangkum di dalam satu buku, membacanya menjadi terstruktur. Saya seperti membuka tiap lapisan kehidupan dari ukuran terkecil sampai ukuran terbesar. Atom dan tata surya. Sesuatu yang berada di dekat kita dan yang jauh di atas kita, yang keduanya tidak bisa kita jangkau. Atau jika boleh saya katakan puisi-puisi ini seperti lorong yang bisa disetel menjadi mikroskop sekaligus teleskop.

Buku puisi Susi dibagi menjadi lima bagian. Puisi-puisi pada bagian pertama diberi judul “Setelah Tahun-tahun” barangkali adalah peristiwa lahirnya si Susi. Dari getar jadi Susi, Susi jadi kami “menari”. Di bagian kedua Susi menjadi bagian dari mitologi, di bagian itu bisa ditemukan sosok Heracles, Phaeton, Apollonius, dll, dan berbagai tempat dalam cerita dongeng kuno. Kemudian Susi berada wilayah kebudayaan Minangkabau, pada bagian ke empat “Susi dari Rumah Gadang”. Kita bisa menemukan istilah seperti gumarang, binuang, kepercayaan lama Minangkabau, hingga petatah petitih budaya Minangkabau.

Gus Tf sukses merangkum dunia di sekitarnya. Setuju dengan Goenawan Mohamad bahwa seorang penyair akan mengenal keniscayaan kata: hanya melalui bahasa kita bisa menangkap dunia. Bahkan penulis menangkap dunia yang tak terduga. Dari atom hingga galaksi di atas sana. Kemudian di setiap lapisan itu, penulis memasukkan istilah-istilah dalam disiplin ilmu pengetahuan. Misalnya fisika, besaran gelombang yang terdiri dari epsilon, teta, deta, alpha. Ilmu kimia ada kata amoniak dan methan, Ilmu biologi ada kata spora, amuba dan DNA. Juga saya kira bagian ini “Kaubangga pada bilanganmu yang lima belas digit saat bilangan tertinggi mereka hanya sepuluh ribu. Maka apa yang kini bisa kaukata tentang bilangan tak terhingga? adalah matematika.

Penulis berhasil memasukan istilah tersebut dengan kerangka yang tersusun, untuk memberi nyawa pada Susi, dan membuat saya tersenyum sendiri karena saya lulusan fisika. Barangkali tidak semudah dibayangkan untuk memasukkan berbagai istilah tersebut ke dalam puisi. Jika seandainya meleset sedikit saja, akan ada makna yang luput, ambiguitasnya tidak dapat dan pada akhirnya puisi menjadi kosong. Namun Gus Tf selalu berhasil dengan hal-hal demikian. Berhasil membentuk Susi itu dari pelbagai istilah dan sudut pandang yang digunakannya.

Penulis memang menekankan betul sisi ambiguitas itu. Pada puisi di bagian terakhir “Atau Apa Pun Itu” rasanya menepis segala persepsi saya tentang Susi. Saya kira itu bagian terbaik ketika membaca keseluruhan puisinya. Misalnya puisi berjudul “Susi, Bila Tidak” yang berbunyi “Sesuatu di luar sana, sesuatu yang suka menampakkan diri ketika redup. Sesuatu di kejauhan, sesuatu yang ingin memperlihatkan diri ketika pandangan mengabur atau yang berjudul “Susi, Saat Kautahu” yang kalimat terakhirnya Saat itulah kautahu, sebenarnya, mereka tidak pernah tahu tentang Susi.

Setelah selesai membaca Susi, saya teringat sebuah film yang berjudul The Man From The Earth. Film yang menceritakan sebuah pesta perpisahan dadakan untuk Profesor John Oldman yang dibintangi oleh David Lee Smith. Acara yang berubah menjadi sebuah interogasi panjang setelah Prof John membeberkan rahasia hidupnya bahwa dia tidak pernah mati dan telah berada di muka bumi selama 14.000 tahun.

Lalu terjadilah di film itu adu argumentasi berdasarkan kaidah dalam disiplin ilmu pengetahuan. Prof John tidak bisa menetap lama di satu tempat karena bisa membuat orang di sekitarnya curiga karena usianya yang tidak bisa bertambah tua. Prof John menceritakan bahwa dia pernah menetap di goa pada zaman batu, bertahan di zaman es, menumpang kapal Kristoforus Kolumbus dan Marco Polo. Berada di zaman Renaissance, juga di masa-masa penyebaran agama Kristiani hingga Budha, hingga sampai hari itu Prof John menjadi seorang dosen. Teman-teman Prof John yang juga rekan sesama dosen, kalah dalam semua perdebatan, dan akhirnya mereka percaya bahwa Prof John hidup selama itu. Saya juga sebagai penonton film itu, mau tidak mau harus percaya karena itu juga hanyalah sebuah film.

Bagi saya film—yang berdurasi hingga dua setengah jam tapi hanya berada di satu tempat—itu bukan hanya tentang perpisahan Prof John. Melainkan juga aspek kehidupan di sekitarnya dan di belakangnya. Bagaimana dia melewati kehidupan, karena perlakuan kehidupan dari masa ke masa pastilah berbeda. Dari tidak ada agama menjadi ada. Dari tidak ada pengetahuan menjadi ada. Prof John seolah bukan manusia, dia melebihi itu, dia mengikuti proses dari masa ke masa, Prof John telah menjadi aspek kehidupan itu sendiri. Seperti Susi, ada di dalam aspek di setiap masa. Hidup tapi seolah tidak hidup. Barangkali fluida yang mengalir, atau barangkali elektron yang meloncat ke lintasan yang lebih tinggi sambil memancarkan energi. Susi melengkapi kehidupan serta dilengkapi oleh kehidupan itu sendiri.

Tapi apalah arti sebuah nama, seperti kata pujangga termahsyur William Shakespeare, yang kita sebut mawar akan tetap harum biarpun bernama beda. Barangkali Susi akan tetap seperti itu, seandainya kita memberikan maupun tidak memberikan sebuah pengertian. Karena penulis menurut saya sudah sangat bijaksana dengan tidak menambahkan catatan penulis maupun catatan pembaca, itu lebih baik, agar Susi tidak terkurung di dalam pikiran masing-masing. Agar Susi bebas di luar sana menjadi apa yang dia suka.***

Alpha Hambally, lahir di Medan tanggal 26 Desember 1990. Menamatkan pendidikannya di ITS Surabaya. Pembaca dan penulis puisi tinggal di Pekanbaru. Puisinya pernah dimuat di Riau Pos dan termaktub dalam kumpulan puisi Bendera Putih Untuk Tuhan (Riau Pos 2014).

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us