ESAI BUDAYA

Meremah Pesan Tersirat Syair "Nasib Melayu" Tennas Effendy

6 September 2015 - 15.37 WIB > Dibaca 2844 kali | Komentar
 
Oleh Nafiah Al-Marab

Jasad boleh hilang dimamah bumi, tapi adat yang diwariskan senantiasa berbekas ke anak cucu. Demikian   kiranya  pada karya-karya sang guru petuah, Tennas Effendy. Salah satu karya almarhum Tennas Effendy yang menjadi pijakan berbudaya masyarakat Melayu bisa kita lihat dalam karya syair beliau, Syair Nasib Melayu. Pesan tekstual yang menjadi sarana pengantar tamaddun Melayu bagi generasi mendatang. Sementara essensi dari tamaddun itu telah sama-sama kita pahami.

Dalam pengertian ini Tamadun Melayu yang dimaksudkan merupakan sebuah tamadun yang dibentuk oleh sekelompok manusia yang digolongkan secara luas sebagai kumpulan orang-orang Melayu dan bertempat di suatu wilayah di Asia Tenggara. Wilayah ini dikenali dengan pelbagai nama seperti Gugusan Kepulauan Melayu, gugusan Kepulauan Melayu-Indonesia, Nusantara, Alam Melayu dan Tanah Jawi. (TITAS, 2004: 163) Sebelum Perang Dunia II, kawasan ini dirujuk sebagai Asia of the Monsoons, East Indies dan juga Further India atau Hindia Jauh. (Azam Hamzah, 1997: 1)

Melayu kemarin, hari ini dan esok menjadi tanggung jawab setiap generasi. Pendidikan karakter melalui nilai-nilai budaya Melayu yang beradab menjadi sebuah keharusan guna mencapai tamaddun Melayu tersebut. Tennas mengatakan, kesatuan Melayu begitu mantap di kalangan masyarakat Melayu karena nilai kemelayuan yang dimiliki. Nilai kemelayuan penuh dengan falsafah yang memberi pengertian kehidupan bangsa Melayu dalam membina jati diri bangsa. Itu pula lah yang ia ungkapkan dalam syairnya:

Kepada Allah kita bermohon
Semoga Berjaya Melayu
serumpun
Mana yang putus sama
ditampun
Mana yang rusak sama
dibangun

Ke generasi muda kita berharap
Kuatkan semangat
betulkan sikap
Kokohkan iman tinggikan adab
Supaya Melayu berdiri tegak

Ke generasi muda kita berpesan
Hapuslah sifat malas dan segan
Isilah diri dengan pengetahuan
Supaya Melayu tidak ketinggalan



Setiap syair menjadi pesan nilai-nilai pekerti. Setiap lirik menjadi pengertian akal yang bisa dipahami. Secara kontemporer, kita bisa memahami beberapa pesan tersirat dalam kumpulan syair Nasib Melayu yang bisa diadopsi secara lebih implementatif pada kehidupan kekinian masyarakat Melayu di Riau, di antaranya adalah sebagai berikut:

Melayu dan Kesedihan


Perbincangan Melayu identik dengan kesedihan, inilah terkadang yang sering menjadi nafas suara karya-karya dan tulisan anak Melayu. Ada luka atas tindak tanduk setiap yang menginjak dan menjajah tanah Melayu. Luka yang diperam dan lama kelamaan memunculkan trauma akan mereka yang menguasai segala kekayaan bumi Melayu.

Bila dijenguk ke kampung-
kampung
Nampak Melayu yang masih
bingung
Hutan tanahnya terpotong-
potong
Diambil orang tak ada berhitung
Di kampung-kampung
orang merintih
Musibah datang bertumpah
tindih
Ada tanahnya diambil alih
Ada berladang kehabisan benih

Begitulah nasib Melayu
Bagaikan pohon semakin layu
Jayanya tinggal di masa lalu
Masa hadapan belum lah tau


Kembali ke Melayu, Kembali ke Islam

Abd Aziz bin Harjin, Pensyarah  Universitas Teknologi MARA Perlis menuliskan dalam karya tulisnya, pemahaman terhadap Tamadun Melayu sebagai satu tamadun bangsa di rantau Alam Melayu amat bersandar kepada pemahaman terhadap Tamadun Islam. Ini karena kemunculan Tamadun Melayu bertitik tolak dari penerimaan Islam oleh masyarakat rantau Alam Melayu secara keseluruhan. Pengajaran akidah Islam oleh para mubaligh Islam di seluruh rantau Alam Melayu secara bertahap-tahap telah membina asas Tamadun Melayu tersebut.

Kehadiran Islam di Alam Melayu telah membawa perubahan besar pada nilai dan budaya orang Melayu. Peralihan gaya berpikir, corak sosial, dan interaksi muamalah di kalangan orang Melayu dan masyarakat sekitar telah diwarnai oleh nilai tradisi Islam, sehingga unsur-unsur Hindu-Buddha hampir terhakis dalam gaya hidup dan corak pemikiran masyarakat Melayu. Meskipun demikian, masyarakat Melayu tidak menolak sepenuhnya amalan dan nilai tradisi Hindu dan mereka tetap mengekalkan unsur-unsur yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam (Abd Aziz bin Harjin).

Tennas Effendy dalam syair Nasib Melayu secara tersirat ingin memesankan kepada masyarakat yang ingin kembali pada kehidupan masyarakat Melayu yang bermarwah, mestilah kembali pula pada asas nilai-nilai keislaman yang seutuhnya. Sebab Islam telah menjadi nadi bagi falsafah Melayu, menjadi nafas dalam adab beradab yang dipahami dan dilaksanakan.

Ke generasi muda kita
beramanat
Jauhkan sifat jilat menjilat
Hindarkan diri daripada
maksiat
Supaya Melayu hidup selamat

Para pendatang hendaklah
paham
Bahwa Melayu kebanyakan
Islam
Jangan dibuat perangai haram
Supaya Melayu tidak
mendendam

Sesama Melayu kita ingatkan
Janganlah silau oleh kekayaan
Seimbangkan harta dengan
keimanan
Supaya selamat di hari
kemudian
Melayu Berbenah,
Melayu Bermarwah

Mengembalikan tamadun Melayu bukan setakat cita-cita tanpa realita. Tak bisa dipungkiri sebuah kehidupan yang berjaya diawali dari seberapa besar marwah bisa ditegakkan dalam hidup itu sendiri. Marwah akan didapati manakala setiap aspek kehidupan berada dalam nilai dan rambu-rambu budaya yang beradab. Mengembalikan marwah mesti lah dengan berbenah.

Melayu berbenah tak lain salah satunya dengan implementasi asas kemelayuan yang terangkum dalam Pakaian Duapuluh lima yang sering diungkapkan Tennas Effendy. Sifat dua puluh lima inilah yang kemudian menjadi jati diri asas kemelayuan, yang akan membuat orang Melayu benar-benar menjadi orang secara lahiriah dan batiniah. Beberapa sifat itu di antaranya Sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada Yang Satu, sifat tahu membalas budi, sifat hidup bertenggangan, mati berpegangan, sifat tahukan bodoh diri, sifat tahu diri, sifat hidup memegang amanah, sifat benang orang, sifat tahan menentang matahari, sifat tahu menyimak, pandai menyimpai, sifat menang dalam kalah, sifat tahan berkering, mau berbasah dan sebagainya.

Kebanyakan Melayu
memegang amanah
Menjunjung janji memelihara
 sumpah
Dari pada ingkar biarlah punah
Daripada khianat biarlah patah

Kebanyakan Melayu hidup
sederhana
Mencari harta berpada-pada
Asalkan cukup makan
minumnya
Tenanglah sudah rumah
tangganya

Kebanyakan Melayu
tahukan diri
Jilat menjilat ia jauhi
Mengambil muka pantang
sekali
Biarlah hidup menepi-nepi




Nafiah Al-Marab. Ketua Forum Lingkar Pena Riau)

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us