CERPEN

Puncak Hari Angan-angan

6 September 2015 - 16.02 WIB > Dibaca 1707 kali | Komentar
 
Oleh Dantje S Moeis

Empat hari usai Idul Fitri. Inilah saat yang tepat mewujudkan angan-angan. Selagi mereka, sedara-mara masih berkumpul lengkap di sini. Sebelum balik ke tempat mukim masing-masing, baik jauh maupun dekat.

Berkali-kali Suban mengelus kening, mengingat-ingat, “Kira-kira apalagi yang kurang?” 

“Oh ya, lampu di halaman depan belum dipasang, empat buah lampu neon panjang ukuran 60 watt, aku rasa sudah cukup. Cukup untuk menerangi jalan menuju tangga naik ke rumah.”  Rumah tempat Suban berteduh, isteri dan anak-anaknya.

Bagi Suban, rumah bukanlah sekadar tempat tinggal, tempat berteduh. Rumah adalah segala-galanya baginya. Ia tak menginginkan, rumah hanya sekedar “ruang berpenghuni yang  kosong”, yang tak memberi arti apa-apa bagi pengkayaan batin para penghuni. Di rumah inilah ia merenung, menghayati arti anugerah kehidupan, hingga sampai pada muara pencaharian yang bernama wujud dan pikiran kreatif.

Untuk ukuran rumah masa kini, rumah mereka memang tertinggal di sisi mode dan material yang digunakan. Boleh dikata kini, hampir tak ada lagi rumah bertiang kayu, berdinding papan kayu Medang Susun Sirih, berlantai papan Resak-minyak di sini.
Kata tertinggal bagi Suban, apalagi sekedar urusan mode, hanyalah permasalahan yang dinilai dari sisi mana si penglihat memandang. Ia paham betul dengan apa yang disebut dengan mode dan modern, sehingga ia tidak mempermasalahkan betul tentang hal itu. Selain itu, baru dua tahun belakangan, Suban mampu memasang listrik sebagai penerang, sekaligus dapat dia gunakan buat penyala berbagai peralatan elektronik. Juga sebagai sumber daya bagi alat yang digunakan isterinya, buat tambahan penghasilan.
Berjalan ke belakang mencari Khalil anak jantannya, Suban terus berfikir. “Empat buah neon 60 watt, cukuplah untuk memudahkan abang atau kakak-kakakku memarkir mobil mereka.”

Suban dengan segala daya, berusaha untuk tidak mengecewakan para tamu yang nota-bene, adalah saudara-saudaranya sendiri dengan anak-anak mereka dan pasti mereka akan hadir nanti.

Hari ini adalah puncak hari, dari penantian panjang.  Hari dimana Suban ingin membuktikan bahwa ia juga punya keinginan yang sama dengan mereka, punya hati, punya rasa cinta dan pengabdian yang dalam dan kalau boleh jujur pada masa masa lalu keadaan serta kondisilah, yang membuat sebahagian orang menganggap ia adalah seorang anak yang tak punya hati, perasaan beku yang tak mudah untuk dicairkan. Tak lah salah. Karena memang segala sesuatunya hanya dapat dilihat dengan mata dan pada kenyataannya, memang hal itulah yang terjadi selama bertahun-tahun. Suban tak akan menyalahkan mereka. Karena ia tahu bahwa Tuhan menciptakan orang, atau manusia, kebanyakan hanya diberi kemampuan untuk dapat melihat dengan mata dan sedikit sekali berkemampuan, melihat dan membaca keadaan, menelisik permasalahan orang lain dengan hati, dan perasaan.

“Lil…” kepada Khalil anak jantannya, “Cepat kau pergi beli, empat buah lampu neon panjang, ukuran 60 watt ke pasar simpang, lengkap dengan kabel dan lain-lainnya. Kau ajak adikmu Nuar memasangnya dihalaman depan, tak usah mandi dulu, tak terkejar nanti, hari sudah berebut senja.”

Empat tahun sudah, wajib dan mentradisi seusai idul fitri, dalam keluarga besar almarhum mandor Tayib semenjak kematiannya, tiap sekali-setahun bergiliran anak-anak almarhum secara bergantian mengadakan kenduri-arwah, bersedekah doa bagi ayah ibu mereka almarhum.

Sadar, sesadar-sadarnya mereka, anak-anak almarhum mandor Tayib. Kini, inilah satu-satunya bakti yang dapat mereka lakukan buat ayah ibu mereka. Bakti yang pasti dapat memuluskan jalan bagi arwah almarhum untuk dapat mendekat dan berada di sisi Allah Subanahuwataalla. Sesuai dengan ajaran mulia agama Islam, “Hanya doa dari anak-anak dan keturunan yang soleh lah yang pasti dan diterima langsung oleh Tuhan. Doa untuk orang tua mereka almarhum.”

***
Empat tahun menanti, baru kali inilah dia mampu menjadi penaja acara kenduri arwah.
Seri wajah tampak merona di muka Suban, isteri dan anak-anaknya. Bagi isteri dan anak-anaknya, Suban adalah ayah yang baik, suami yang bertanggung jawab lahir batin kepada keluarganya. Tak ada cacat-cela Suban di mata mereka. Mungkin hanya nasib yang ber-ujar lain. Nasib yang membawa mereka ke kondisi empat tahun tak mampu menjadi penaja kenduri arwah,  ayah, mertua atau datuk mereka. Nasib yang membawa Khalil dan Nuar untuk sadar, tidak menuntut ayahnya membuat helat besar saat mereka Sunat Rasul upacara Buang-kulup dulu. sebagai upacara penanda meninggalkan masa kanak ke masa remaja.

***
Dalam bentuk materi, tidak banyak yang bisa diharapkan dari seorang pelukis otodidak berprediket piawai. Suban layak disebut piawai dalam menyalin bentuk yang kasat mata dan membubuhkan kemampuan imajinatif menjadi sebuah bentuk karya lukis yang layak diacungi jempol. Entah alasan apa, masyarakat pada zaman ini menilai ada yang paling mendasar, yang tidak dimiliki Suban. Menurut mereka yang mendasar itu adalah gelar akademik, sehingga kredibilitas sebagai seniman profesional sulit diraih Suban.
Namun Suban seperti kebanyakan seniman otodidak lainnya, tak perdulikan itu. Mereka terus berkarya, seperti air sungai yang terus dan terus mengalir menuju lautan kreatifitas tak bertepi. Mengalir tak terhadang rambu-rambu teori, yang salah hemat dapat membuat tersangkak-sangkaknya perjalanan seorang praktisi  seperti dia.

***
 Di luar, matahari yang tinggal segaris seakan berkata, “selamat tinggal siang,” sambil terus bergerak menenggelamkan diri, menyelesaikan tugas penerang bumi belahan ini, selanjutnya muncul di belahan bumi lain. Terkadang nikmat dan kuasa Allah seakan terlupakan oleh manusia.

Menjelepok duduk dilantai, Suban mengunyah kudapan “Bolu Berendam” dengan gigi-gigi separuh bayanya yang kuning kehitaman tercemar kerak nikotin. Khalil dan Nuar tampak di halaman masih mengutak atik sebuah lampu neon yang sedari tadi tak juga menyala.

Dari pintu beranda Zaitun berteriak. “Bang Khalil, mungkin starternya bang yang sudah tak baik. Coba ganti dengan yang ini.” Sambil mengacungkan benda bulat kecil ke arah Khalil.

Pemandangan biasa dalam keluarga Suban. Tidak ada spesialisasi bidang pekerjaan dalam keluarganya. Perbedaan laki-laki dengan perempuan, tidak membedakan peruntukan jenis pekerjaan bagi mereka

***
Suban tak hanya tertarik dan piawai dalam dunia lukis-melukis. Dari pembicaraannya, banyak yang kagum pada kecerdasan Suban. Keluarganya, banyak berharap dari kelebihannya ini. Banyak hal-hal tak tersangka, yang diketahui dan dipahami Suban remaja. Bagaimana saat itu ia menjelaskan kepada sahabat besarnya Tan Lie Che seorang pelukis asal Singapura, tentang negeri ini, tentang kebijakan awal pemerintahan setelah Bung Karno diturunkan sebagai pimpinan negara. Atau kekaguman rakyat yang sontak padam di bawah tekanan, pada Founding-father, Proklamator, Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi ABRI, Mandataris MPRS, Penyambung Lidah Rakyat, Ir Soekarno. Ketakutan orang-orang pada kata “terlibat, merah, kiri, revolusioner, proletar” dan lain sebagainya pada bahasa lisan atau teks. Jargon-jargon seperti, “Ganyang, The new emerging forces, rawe-rawe rantas malang-malang putung, Nyerempet-nyerempat bahaya, Jasmerah, Usdek, Nasakom” hilang begitu saja seperti ditelan bumi.

Pikiran jernih Soekarno pada butir-butir “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi,” yang dapat diambil dan dimanfaatkan, itupun menjadi tabu dan menakutkan untuk diketengahkan, walau hanya sekedar wacana. Padahal, banyak hal yang dapat dipetik buat dimanfaatkan dari seorang yang bernama Soekarno. Contohnya, sebagai seorang nasionalis tulen, dia bukanlah seseorang penganut rasa kebangsaan yang membabi buta. Pada usia enam belas tahun, saat di HBS Surabaya, ia mencerna pikiran A Baars,  seorang sosialis yang berfikiran; “Jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah pada rasa kemanusian sedunia.”  Pikiran itupun tidak ia telan mentah-mentah, ia olah dengan pikiran-pikiran Dr Sun Yat Sen  dalam tulisannya, “San Mi Chu I” atau “The Three People’s Principles” yang bertolak belakang dengan pikiran kosmopolitisme A Baars dan dibancuh lagi dengan pikiran-pikirannya sendiri, sehingga menghadirkan citarasa kebangsaan yang pas buat alam Indonesia. Citarasa yang berkesimpulan bahwa, nationale staat atau dasar kebangsaan yang tidak terkontrol, dapat berbahaya dan bahayanya ialah mungkin, orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme sehingga berfaham seperti yang dikobar-kobarkan orang Jerman masa lalu, “Deutschland uber Alles”. Tidak ada yang setinggi martabat orang Jerman, berambut jagung, bermata biru, “Bangsa Aria”.
Suatu hari dulu, Suban yang masih kecil, dengan keluguan bertanya pada apek Tiong Bee seorang tokoh masyarakat Cina di kampung kami.

“Pek, mengapa orang Cina ada di mana-mana? Ada di Rengat, di Pekan Heran, di Air Molek, di Talukkuantan, di Baserah, di Tembilahan, di Teluk Pinang.”

“Lu pintar. Pertanyaan yang bagus. Sebahagaian besar orang Cina berpendapat bahwa, kampung mereka adalah semua tanah dan air yang berada dibawah atap langit dan semua manusia, pada hakikatnya sama dan bersaudara.”

“Satu pendapat dari pikiran arif.”

“He..he...he, kepentingan politik, kelompok yang mendominasi pikiran, dapat berakibat fatal pada saat itu. Pemiskinan kosakata, pemasungan kreatifitas, sehingga puncaknya, dari banyak aspek kami menjadi sangat jauh tertinggal, bukan hanya di kawasan dunia, namun di kawasan Asia.” Suban nyerocos. Lawan diskusinya Tan Lie Che yang biasa dipanggil Liche, sangat hati-hati menimpali pembicaraan Suban. Ia lebih banyak menimpali dengan anggukan atau kalimat-kalimat pendek, “oh, ya? begitu ya? kok bisa begitu?” Agak memuakkan memang, sehingga wacana perbualan mereka seperti  one way traffic, berjalan satu arah. Tak ada perbantahan dan yang lebih parah lagi tak ada juga pembenaran yang pasti. Walau diakui, Subhan pada setiap perbualan dan perdebatan, selalu memiliki argumentasi-argumentasi yang sulit untuk dipatahkan.
Puncaknya terjadi dua puluh delapan tahun lalu, diskusi keluarga menjurus ke pertengkaran tentang pilihan masa depan dengan saudara-saudaranya.
“Tidak, tidak ada yang salah dalam pilihanku bang. Justru abang yang salah. Lembaga pendidikan, tidak seluruhnya bertujuan untuk menjadikan orang sebagai orang “kantoran”.

Tampaknya senjata kata, hampir-hampir tak berguna untuk mengurungkan niat Suban kuliah di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta.

“Apakah orang-orang terdekat sekelilingmu ini, kami, abang-abang dan kakak-kakakmu, memang sudah tak layak kau jadikan panutan, kau jadikan tempat berkaca? Kau memang lain sendiri kulihat. Aneh. Kelak mau jadi apa? Urungkan niatmu untuk menjadi seniman. Dalam kondisi negara kita yang morat-marit ini, jangan kau bayangkan, kau bisa sebesar dan seberhasil tokoh-tokoh panutanmu. Mereka, Pablo Picasso, Rembrant, Vincent Van Gogh, Salvador Dali, Degas, atau yang lain-lain.

Mereka yang membuat dan menciptakan genre baru dalam senirupa dunia. Terlalu jauh dari sebuah mimpi yang diharap jadi kenyataan pada dirimu. Untuk menjadi seperti kawanmu yang pelukis bernama Liche itu saja, kurasa sulit kau menggapainya. Negeri kita masih memandang sebelah mata pada keberadaan seniman pelukis seperti yang kau impi-impikan. Di kartu tanda pengenal penduduk bisa kau lihat. Hampir tak ada orang-orang yang berani, atau gagah secara terus terang mencantumkan data pekerjaannya sebagai seniman atau pelukis, walau sebenarnya itulah profesi yang mereka jalankan.”

“Sudahlah, kita tamatkan perbincangan tentang masa depanku. Aku rasa bukan saja aku yang letih mempermasalahkan hal ini. Aku yakin ayah, ibu, abang-abang dan kakak-kakak juga letih dari hari ke hari memikirkan tentang ini. Pikiran-pikiran yang betul tidak produktif, karena sudah pasti tidak akan ada titik temu, kalau salah satu diantara kita, tidak ada yang mau bertolak angsur atau mengalah.” Suban terdiam dan saudara-saudaranya pun diam, menunggu keputusan final Suban. Suban tertunduk, karakter Suban saat itu terlihat betul-betul berubah mendadak sontak.

“Aku sudah putuskan, ini adalah keputusan yang paling tepat, serta berimbang.  Aku cinta pada keyakinan yang kumiliki, aku cinta pula pada kebenaran, dalam keyakinan yang dimiliki orang yang mencintaiku.” Agak tersendat-sendat suara Suban. Ia berada dalam kondisi tertekan. Kalimat yang dia sampaikan sarat makna. Ia seakan membuat keputusan ini seperti sudah dipertimbangkan lama sekali, padahal puncak dari keinginan keluarga, secara terbuka baru saat inilah dikemukakan.

 “Baiklah, putusanku adalah, bahwa aku batal kuliah di ASRI, juga di perguruan tinggi manapun. Ini final. Baik buruknya keputusan ku ini, abang, kakak serta ayah ibu tak usah risau, karena itu adalah putusanku dan aku yang akan menanggung segala konsekwensinya.” Suban meninggalkan semua dalam diam dan tak dapat berkomentar apa-apa. Teringat pada kata-kata, saat temannya si Liche sedikit memaksa, menganjurkan agar ia mengikuti saran abang-abangnya, kakak-kakaknya serta ayah ibunya.

“Liche, jika kau paksakan pikiranmu di benakku, buanglah aku jauh dari hati dan pikiranmu.”

***
“Puncak hari angan-angan tiba, penungguan berakhir!” Menggelegar tak bernuansa marah atau kecewa, memecah kesunyian tengah-tengah malam, suara Suban membuat tersentak dari tidur-tidur ayam anak-anak dan isterinya.

“Jangan tanyakan mengapa mereka, saudara-saudaraku tak tiba pada puncak hari yang kuangankan ini dan jangan pula kalian mereka-reka penyebab ketidak hadiran mereka. Mari kita mulai saja hajat besar ini dengan berdoa. Kau Khalil, pimpin doa arwah untuk atuk dan nek kalian, atuk Tayib dan nek Nilam. Kami meng-amini.

Kenduri-arwah usai, tampak raut wajah puas dan lega pada tidur mereka, Suban, isteri dan anak-anaknya.***


SPN Dantje S Moeis, kelahiran Rengat, Inhu, Riau adalah perupa, penulis kreatif, redaktur senior majalah budaya Sagang, dosen Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) Pekanbaru



KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us