Sajak-sajak Mugya Syahreza Santosa

6 September 2015 - 17.06 WIB > Dibaca 1201 kali | Komentar
 
Seperempat Abad

seperempat abad telah mengakar dalam hidupku.
telah mengasihaniku dengan beribu kelopak mimpi,
tumbuh-gugur ke tanah.
asap dari usiaku membubung
lalu melengkungkan busur doaku.

kabut memecahkan cangkang tidur setiap pagiku.
langit menudungkan kain putih-biru kecemasanku.
setiap siang adalah layar kata yang kuning, setiap panas
membuih di lautan pikiran.
mengulaikan daun usiaku,
melengangkan ruang-ruang yang tak lagi disinggahi.

setiap pahatan deritaku
akan menjadi tugu bagi kecintaan yang telah berlalu.
setiap mengulang hari-hari, minggu dan bulan
angkasa melambaikan tangan dan aku semakin terburai-padam.

(2014)




Mendambakan


apa yang pertama didambakan pagi saat kelopak mataku merekah.
jendela sunyiku terlalu lama terbuka, hingga lupa bagaimana cara menutupnya.
keremajaan puisi hanya ada pada janin kata, selebihnya telah membuas
di tangan kita.

apa yang pertama didambakan kata saat memulai puisi dari dalam diri ini.
mencuci berkali-kali kebahagian, menjenguknya dalam deretan tali-temali bimbang.

mendambakan yang pernah hilang, yang mereda bersamaan hujan, yang meredam saat embun menimbun ketiadaan, yang merendam di kedalaman jantung malam, yang merenda hidup dengan penuh kefanaan.

mendambakan kata yang pertama diucapkan sekaligus terakhir diperdengarkan.

(2014)




Ujung

ujung ketakutanku telah aku temukan. kalau aku menciumnya penuh kegugupan, kalau aku merangkulnya penuh gulana, aku akan kembali ke pangkal ajal.

ujung puisiku telah aku putuskan. kalau aku menyambungkannya dengan nestapa, kalau aku merekatnya dengan penuh keputus-asaan, aku akan merendahkan masa silam.

ujung kenanganku telah aku lepaskan. kalau aku melambaikan tangan kata-kata, kalau aku mengulur tali kegamangan, aku akan merengkuh satu kekosongan ke kosongan lainnya.

(2014)


Terkenang

kadang-kadang kalau aku meraut kata-kata dan lupa harus berhenti di mana, sampai wajahmu akhir dari rupanya ternyata.

kadang-kadang kalau aku merakit sunyiku jadi perahu kecil dan melayarkannya ke kali-kali, setiap itulah aku harus menunggu hujan mengantarkan bayangmu.

kadang-kadang kalau aku mesti tahu berapa banyak pohon yang tumbuh dan mati tahun ini, aku mulai membenci puisiku.

kadang-kadang kalau aku mesti diam dalam keramaian, lalu keriuhan saling bersapaan, aku meminggirkan suaraku, lantas mengedepanku hatiku.

kadang-kadang terkenang. kadang-kadang terkekang. apa bedanya?

(2014)



Kepulan

kepulan kepala orang yang sedang duduk menulis puisi, ke atas langit melambung, membentuk awan yang kurang lebih menyerupai domba-domba.
domba-domba yang dibentuk oleh awan, diarak angin ke kandang-kandang di luar lapisan langit akan menuju padang semesta.
padang semesta yang dihuni bintang-bintang sebagai rumput cahaya, berbuah apel-apel hijau surga, kadang jatuh dan menuju bumi.

kepulan kepala orang yang sedang duduk membaca puisi, ke atas langit menjauh, mencari busur serasa anak panah.
anak panah yang mencari busur, kurang lebih mirip anak kecil yang menangis kehilangan ibu. tapi kecemasannya seperti juga tangisan orang-orang pasar yang melihat asap. asap yang tak dikenal.

kepulan itu bergulung. bergelombang. berbarengan dengan kehilangan.

(2014)



Mugya Syahreza Santosa,
lahir 3 Mei 1987. Menjabat sebagai Sekertaris Komite Sastra di Dewan Kesenian Cianjur. Menulis puisi sejak duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA). Buku puisinya yang pertama Hikayat Pemanen Kentang (2011) mendapat penghargaan CSH Poetry Award. Puisinya tersebar surat kabar daerah maupun nasional juga majalah. Merampungkan kuliahnya di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI-Bandung). Pernah mengikuti UBUD Writers & Readers Festival di Bali, Majelis Sastera Asian Tenggara (MASTERA) untuk bidang puisi di Anyer Banten pada tahun 2012. Terakhir mengikuti Festival Bienal Sastra Salihara, di Jakarta 2013.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us