Sajak-sajak Rapina Semesta

6 September 2015 - 17.07 WIB > Dibaca 1188 kali | Komentar
 
Wanita Berbaju Api

Aku adalah wanita itu
Wanita yang katamu berbau hangus
Ya. Mereka juga bilang begitu
Hari ini aku menjadi peri
dan esok menjadi iblis
Aku terlahir dari rahim suci
tapi sering aku melahirkan kesucian
yang dibenci
Kadang malam memagutku dengan egois

Tuhan...
hadirkanlah malaikat maut
Agar tidak ada kuntum-kuntum hitam

Tuhan...
Terbangkan nyawa-nyawa gelap
Agar tiada wanita berbaju hitam
Yang melulu menebar surga penuh dosa

Agustus 2015


Gunung

Kadang gunung adalah rumah terindah
Berlapis bunga-bunga nan indah
Ada Edelweiss beracun yang menerjunkan
Kadang kegilaan tampak samar di antara semak belukar
Para pelari memanjat asa
Yang sebenarnya hanya siasat
Sesaat menjelang semaput
Ketika kaki-kaki mulai dirantai akar
Lalu ada yang mengibarkan merah putih
Sedangkan merah kabur dan putih luntur
Ketinggian tinggal gelar
Laut tinggal asin yang sedikit hambar
Negara ini bukan lagi gunung yang
Menjulang gagah
Hanya tinggal tempurung yang mengapung
Terombang arus dan virus

Kebun Tinggi, Juli 2015


Angka di Nafasmu

Jutaan tahun kau menjelma menjadi Phytagoras
         Yang mebelah hatiku menjadi segitiga
Bentukmu lingkaran yang terus mendiameter di bulat mataku
Kauturun dari tumurun yang tidak berintergal sama sekali
Lalu kautunjuk satu Tangen yang selalu membagi antara
                                 Sin dengan Cosinus
Mereka kaupisah laiknya satu dan dua
Lalu kau bentuk shaf yang di pusatnya kaugantung dengan nol
Yang tanpanya tidak akan ada nilai tambah atau kurang
Setelahnya beberapa tahun terakhir
kau kembali hadir jadi sesuatu yang lebih akurat
yaitu kau bangun dengan bangun berbentuk kristal Prisma
yang kausilangkan menjadi satu hasil yang lebih tepat.

Unri,  2015


Kita dan Kata

Kita adalah kata yang terangkai dari
kuta bertahta surga
Aku tiga abjad yang tidak bermakna
tanpa k (kamu)
Hari ini kita meliuk ke pantai randai
Gendang menari antara penyu ungu
yang bercumbu rayu
Kita berdiri menyingkap tabir kehidupan
Kita pasang mata bola
Tatkala ombak menyerbu kaki kita
Kita bersorak dengan serak sambil
Perahu kayu kita rebah ke tengah laut
Kita kayuh dengan seikat bunga layu
Kita terapung mati bersama teripang
Kita tersangkut pada maut
Kita terpisah pada semaput
Kau ditelan badai
Sedang aku berdiri dengan satu kaki
Tertawa lirih menatap setumpuk
Tanah merah berlumpur di depanku.

Juli, 2015


Ihwal Dosa

Tersesat adalah kita yang seumur jagung
Kau berdiri basah dosa
aku tertunduk kaku belenggu
Jalan ini mata rantai
   nan terus mematai-matai pelipis kita
Kauuntai andai yang terus terurai
Aku katup degup yang selalu gugup terkantuk
Di matamu lintah darat melekat ketat
Membius setiap ubun-ubun rabunmu
Aku raja yang haus kejantananku
Banyak yang berduka berkuda berekor nafsu
Serupa gila kobaran api biru
Dengan amis memuntahkan koor kotor
 
Juni,  2015


Perempuan Ujung Kerudung

Perempuan adalah seikat rumput yang tumbuh di keningmu
Lembut penuh serabut bahkan kadang semaput kusut
Dia telan kerudung biung yang sedang mengandung
berjuta lumbung gembung
Kakinya terseret jerat hingga tersesat
di sanggul yang diikat di tunggul, o masygul...

Pekanbaru, 2015


Mawar Hitam

Katamu kaulah mawar hitam yang berjalan
Dengan sepatu high heelmu jalani beribu gedung bertingkat
Kau migrasi dari satu kamar ke kamar lainnya
Kau hadir mengisi kantungmu dengan kertas-kertas biru merah
Datang dari tangan-tangan yang perutnya buncit
Dengan kepala botak mengkilat
Tapi ketika kau kembali ke gubukmu
yang ada di bawah kolong runtuh nan kumuh
kau merintih mengharap Tuhan memelukmu

Puswil, 2015


Pembaca Puisi
: Asrina Putri Kazain

ketika hari itu
Kazain hadir tegap dengan kaki emasnya
suaranya mulai menebar haru dan sekalian tawa
tiba-tiba juri terdiam dengan mata kosong
pikirnya Kazain telah mampu mengembalikan
masa kecilnya yang kelabu dingin dan biru
 seperti lorong waktu
yang kadang hilang timbul seperti bisul
bahlul!
seorang berteriak dengan lantang
ternyata puisi mampu membuat seorang lupa dirinya sendiri

Teras, 2015



Rapina Semesta, lahir di Kebun Tinggi, 5 mei 1993. Mahasiswi Pendidikan Matematika Universita Islam Negeri Suska Pekanbaru ini, selain menulis puisi juga hobi traveling dan mencoba hal-hal Baru. Pernah mendapat Juara 1 lomba menulis cerpen Tingkat SMA. Karyanya pernah dimuat di Xpresi Riau Pos dan Detakpekanbaru.com. Bergiat di COMPETER, Session ke 3.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 09:51 wib

Pemasok Sabu ke Oknum Satpol PP Ditangkap

Jumat, 21 September 2018 - 09:28 wib

Banyak WP Menunggak Pajak

Jumat, 21 September 2018 - 09:26 wib

Unri Teliti Laju Sedimentasi Kolam Patin

Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Follow Us