Oleh: Riki Utomi

Destinasi Terakhir Bapak: Sisi Lain dalam Puisi Kontemporer

13 September 2015 - 07.57 WIB > Dibaca 1321 kali | Komentar
 
Destinasi Terakhir Bapak: Sisi Lain dalam Puisi Kontemporer
Riki Utomi
Puisi bergerak bebas di tangan penulisnya, sekaligus mengikuti arus zaman di mana penulisnya berada. Di tangan kreatif penulisnya puisi lahir, tumbuh, dan berkembang, serta berbicara kepada khalayak tentang segala hal sebagai bentuk luapan batin. Luapan batin itu tentu bergantung pada tiap diri penyair dimana dia meresapi dengan sungguh-sungguh dan peka pada kehidupan ini. Seperti “kenangan” yang terbilang cukup luas sebagai tema-tema perpuisian kita adalah bentuk gambarannya. Selain itu, kekhasan puisi di tangan penyair juga memiliki andil besar dalam rangka membentuk bingkai kuatnya pengaruh puisi-puisi yang ditulisnya.

Tulisan sederhana ini setidaknya hendak memaparkan sedikit tentang hal-hal menarik dari sebuah kumpulan puisi karya Parlindungan bertajuk Destinasi Terakhir Bapak oleh penerbit Bina Karya 2013. Buku puisi yang langsung saya dapatkan dari penulisnya ini ditulis dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Barangkali ini cukup memberi perhatian lain—meskipun mungkin ini juga biasa, tapi agak dan sangat jarang yang melakukan—seperti kumpulan puisi ini. Seperti kata Fakhrunnas dalam komentarnya di buku ini “Tak banyak penyair menerbit buku puisi dengan dwi-bahasa (bilingual). Parlindungan membuat sesuatu yang monumental dalam mengangkat nilai dan makna kehidupan…”. Selain itu, gambaran puisi dalam Destinasi Terakhir Bapak ini membicarakan tema-tema yang kompleks, antara lain: kenangan, religiusitas, politik, sosial, kemanusiaan, budaya, cinta yang mana tema tersebut memiliki porsi pengembangannya yang kuat. Juga dalam hal bentuk puisi. Sebagian besar puisi dalam kumpulan ini memiliki corak khas. Parlindungan—di sebagian puisinya—menuliskan seperti bentuk teks naskah drama (barangkali ini dipengaruhi latar belakangnya yang tunak di dunia perfilman yang selalu berhadapan dengan penulisan skenario). Adanya baris-baris seperti dialog, setidaknya hal ini “lain” dari biasanya. Meski para pendahulu seperti katakanlah Sutardji dan Ibrahim Sattah (sekadar menyebutkan yang dari Riau) telah melakukannya dalam skala besar yang perombakan-perombakan bentuk puisi mereka mampu menjadi sebuah ciri khas tersendiri dan sekaligus mampu menghidupkan nama besar mereka, karena mampu mendobrak tradisi penulisan. Parlindungan—menurut hemat saya—dapat mengarah ke celah itu, seandainya, ia total dalam menggarap pencarian-pencarian bentuk puisinya tersebut. Selain ada pencarian-pencarian bentuk, ucapan, dan rima, atau yang lain yang selaras dengan apa yang menjadi pijakan bagi proses kreatifnya. Adapun puisi tersebut yang berjudul di bawah ini:

Air Mata Dasri

+    assalamualaikum Dasri …
tampaknya kau baru saja selesai salat magrib.
-    kenapa kau datang pada magrib ini?
+    aku hanya ingin menagih janjimu kepadaku.
-    aku tak pernah membuat janji fana bersamamu.
-    kau pasti lupa, Dasri …
+    tidak!

Air Mata Idrus
+     assalamualaikum Idrus …
tampaknya kau baru saja selesai salat isya.
-    kenapa kau datang pada gulita ini?
+    aku hanya ingin menagih janjimu kepadaku.
-    aku tidak pernah membuat janji fana bersamamu.
+    kau pasti lupa, Idrus!
-    tidak!

Dua puisi di atas merupakan contoh yang saya anggap memiliki karakter kontemporer yang digubah Parlindungan. Kedua puisi tersebut mengetengahkan perihal “kenangan” pada dua orang tokoh seniman papan atas Riau Dasri al Mubary dan Idrus Tintin. Dengan gaya ungkap lugas seperti dialog, kesan yang hadir dalam kedua puisi itu tetap utuh.

Surana (2001:102) mengatakan puisi kontemporer bukanlah arti yang hendak disampaikan penyair, melainkan kesan yang ditimbulkan puisi itu. Puisi kontemporer ingin menciptakan komunikasi estetik bukan komunikasi pemahaman. Maka, kedua judul puisi di atas setidaknya memiliki gambaran ke arah itu. Di mana estetika yang dihadirkan memberi corak-ragam bentuk “pencarian” sekaligus berpeluang menemui ruang tafsir tersendiri bagi pembaca, juga tidak berlebihan dari kata-kata yang dijalin. Cuma atau barangkali, tidak adanya pungtuasi (tanda-tanda baca) yang konsisten untuk memberi gambaran dialog di akhir kalimat sehingga mungkin saja dapat mengaburkan maksud puisi yang sebelumnya telah memiliki gambaran pas dan tujuan tertentu, meski dalam kontemporer tidak sepenuhnya ke arah demikian.

Selain gambaran tentang hal itu, hampir sebagian besar kumpulan puisi ini menyuguhkan tentang keragaman tema. Adapun tema politik pada puisi berjudul “Kritikan Sang Kulit Hitam” yang dilatarbelakangi dari peristiwa bentrokan mahasiswa Universitas Cedrawasih (Uncen) Jayapura dengan aparat kepolisian, kamis 16 maret 2006 yang menyebabkan 3 orang polisi dan 1 orang TNI AU tewas. Atau yang bertema religius berjudul “Catatan Kalau Aku Mati Kelak” atau pula yang lebih mengarah ke tema budaya berjudul “Sedu Bahasa Akhir Kata Melayu” dan beragam tema lainnya yang menjadikan kumpulan puisi ini agak berbeda.

Bahasa yang dimainkan Parlindungan terkesan sederhana, meski agak tampak untuk berbelok ke nuansa kosa kata lokal (Melayu) tetapi tidak banyak namun tetap terkesan apa adanya dan lebih ke bentuk naratif, juga seperti berusaha untuk bercerita tanpa banyak metafor dan persamaan bunyi. Sepertinya Parlindungan lebih leluasa dengan membebaskan semua itu ke dalam puisinya. Jadinya tanpa ada membentuk suatu ciri khas yang agak dominan dalam bangunan puisinya karena format bahasa—sepertinya—tak menjadi bangunan penting bagi sang penyair. Dalam puisi berjudul:

Bumi dan Langit Ada di Kaki Bukit
bumi …
langii.. t …
menjerit …
        bumi …
        langii.. t …
        menggigit …
bumi …
langii.. t …
terjepit …
        bumi …
        langii.. t …
        sembelit …         (dst.)

Puisi ini terdiri atas 10 bait dengan postur zig-zag yang memberi tafsiran pembaca untuk menjaga dan melindungi alam ciptaan Tuhan yaitu bumi dan langit. Kebebasan sang penyair dalam merangkai kata dan menyusun tipologi memberi arti tersendiri, dari permainan huruf /i/ dan menjarakkan huruf /t/ yang dilangkaui oleh tanda titik-titik mencerminkan kebebasan sang penyair dalam merekonstruksi tubuh puisinya, karena hal itu cerminan dari karakter kontemporer.

Maka, Destinasi Terakhir Bapak setidaknya mampu memberi celah kreatif ke arah kontemporer yang lebih luas, kalau saja hal itu digarap sang penyair dengan penuh totalitas dari sisi bentuknya. Mengingat sisi-sisi kontemporer memerlukan “tangan-tangan lasak” (meminjam istilah UU Hamidy) dalam menggarapnya untuk menjadi pioner yang baru, juga menurut hemat saya, puisi-puisi dalam kumpulan ini mungkin akan lebih “hidup” ketika dideklamasikan di atas panggung karena seperti ada nuansa aura “kenangan yang meresap batin” di dalamnya. Tapi semua tergantung dari apresiasi kita. ***

Selatpanjang, 30 Juni 2015

Riki Utomi,
penikmat sastra, budaya, sejarah, dan linguistik. Buku fiksinya yaitu Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Kini tengah menyiapkan kumpulan esai Menuju Ke Arus. Tinggal di Selatpanjang.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 14:15 wib

Mempura Bakal Disiapkan Rumah Tahfiz

Rabu, 21 November 2018 - 14:00 wib

Diprioritaskan untuk Koridor Rumbai dan Tenayan Raya

Rabu, 21 November 2018 - 13:45 wib

Bupati Motivasi Anak Siak Terus Berprestasi

Rabu, 21 November 2018 - 13:36 wib

Oknum Polisi Pesta Narkoba

Rabu, 21 November 2018 - 13:30 wib

Pencegahan Kejahatan, Buat Pelaku Tidak Nyaman

Rabu, 21 November 2018 - 13:15 wib

Syamsuar Hadiri Haul Marhum Pekan

Rabu, 21 November 2018 - 13:07 wib

2019, Satu Suara Dihargai Rp1.000

Rabu, 21 November 2018 - 13:00 wib

Pelajar Jadi Korban Tabrak Lari

Follow Us