CERPEN

Ayah

13 September 2015 - 08.09 WIB > Dibaca 2122 kali | Komentar
 
Ayah
Ilustrasi: Ridho/Iwe/Riau Pos
Oleh Fajri Andika

Masih melekat dalam ingatanku pada saat ayah ditangkap oleh polisi. Peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu, pada saat aku pulang kampung dalam rangka liburan Idul Fitri. Aku, Ibu, Ayah, dan kedua adikku yang pada saat itu baru selesai buka puasa, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan aparat kepolisian dan beberapa orang yang berpakaian preman dengan membawa surat penangkapan terhadap ayah. Sontak, suasana di rumah kami yang sebelumnya penuh dengan canda tawa berubah menjadi ketegangan.

Apa salah suami saya? tanya ibu.

Tanpa menanggapi pertanyaan ibu, salah satu polisi yang di kedua bahunya tersemat tanda tiga bintang kebesaran memerintahkan anak buahnya untuk memborgol ayah.

Jangan tangkap suami saya, teriak Ibu. Suaranya semakin keras. Kulihat air jernih mengalir dari sepasang matanya.

Sementara aparat itu sibuk memborgol ayah, aku berusaha menenangkan ibu yang tangisannya semakin histeris.

Jangan sampai lupa, bawa semua bukti yang tersimpan di laptop-nya, perintah polisi yang lain.

Para aparat itu langsung beranjak menuju tempat kerja ayah yang berada di lantai atas. Dan aparat yang lain beranjak menuju bagasi mobil. Jangan lupa juga bawa semua kendaraan yang ada di dalam bagasi itu, perintah atasannya dengan suara sedikit lantang.

Mau dibawa ke mana barang-barang kami? tanya Ibu.

Semua barang-barang mewah ini kami sita, jawab salah satu polisi, kecut.

 Ada apa ini sebenarnya? Jangan-jangan......, tiba-tiba pikiran negatif muncul di kepalaku. Aku hanya takut, ayah mengikuti jejak para pejabat negara yang terpaksa menjalani sisa hidupnya di balik jeruji besi gara-gara tersangkut kasus korupsi.

Tidak, tidak, tidak mungkin. Ayah kan dikenal sebagai abdi negara yang baik dan bersih. Dan setahuku, selama ini beliau tidak pernah bermasalah, hatiku benar-benar berkecamuk.

Setelah ayah dibawa oleh para aparat itu, air mata ibu semakin mengalir deras di bahuku.

Gusti, apa salah kami? Kenapa semua jadi seperti ini? Malam lebaran yang seharusnya dilalui dengan kebahagiaan, malah jadi seperti ini. Ah, aku jadi iri pada teman kosku yang katanya akan menghabiskan malam lebaran dengan berjalan-jalan sambil mengikuti takbir keliling di kampungnya. Ada juga teman kampusku yang bilang katanya mau melewati malam takbiran kali ini dengan berkunjung ke rumah kakeknya yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumahnya. Sepertinya aku di rumah saja bareng ayah, ibu, dan kedua adikku, begitulah aku menjawab pada saat teman-temanku bertanya perihal malam lebaran. Tapi jika melihat dengan yang terjadi malam ini, semuanya berjalan tidak sesuai rencana.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Suara takbir kemenangan masih terdengar jelas di telingaku. Sementara itu aku masih menemani ibu yang mulai tadi tak henti-hentinya menangis. Kedua adikku yang masing-masing umurnya belum genap sembilan tahun sudah terlelap.

Sudahlah, bu, nggak usah menangis terus, kataku pada Ibu. Serahkan semuanya pada Allah. Lebih baik ibu istirahat. Malam sudah larut, bujukku, mencoba menenangkan.

Kuselimuti tubuh ibu biar tidak kedinginan. Mata beliau tampak membengkak. Kumatikan lampu tidur. Setelah itu aku keluar dari kamar beliau.

Karena belum mengantuk, aku menyalakan televisi. Betapa terkejutnya aku setelah alat elektronik itu menyala. Hampir semua stasiun televisi menyiarkan berita tentang kasus yang menimpa ayah. Aku baru sadar, ternyata kejadian yang tadi itu diliput oleh media.

Satu lagi, seorang wakil rakyat yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang baik dan bersih tersandung kasus korupsi, begitulah kira-kira berita yang dibacakan oleh si pembaca berita.

Mau disembunyikan di mana mukaku ini? Betapa malunya aku jika teman-temanku tahu kalau wakil rakyat yang pada malam ini menjadi topik pembicaraan karena tersandung korupsi yang diberitakan seluruh media adalah ayahku. Aku jadi tidak semangat untuk kembali ke Yogya. Tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk berhenti kuliah.

* * *

Beginikah rasanya jadi orang miskin? Sudah hampir empat hari perutku tidak dimasuki makanan. Hutangku pun pada teman-teman sudah menggunung. Dan tragisnya, hampir tiga pekan dompetku kosong. Aku benar-benar menderita. Terkapar sendiri di dalam kamar.

Kehidupanku berubah seratus delapan puluh derajat celcius setelah ayah mendekam di dalam penjara. Aku yang dulu hidup sejahtera, sekarang benar-benar menderita. Sekarang aku tidak bisa mengandalkan kiriman orangtua. Bagaimana ibu mau ngirim aku, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dan menyekolahkan kedua adikku saja beliau pinjam pada tetangga.

Kehidupan kami benar-benar hancur. Kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Kami harus segera beradaptasi dengan kehidupan baru kami. Ibu yang dulu kerjanya hanya pergi ke salon dan menghambur-hamburkan uang ayah untuk shoping, sekarang harus rela dan ikhlas menerima kenyataan dengan aktivitas barunya, menjajakan kue di pasar. Dan aku sendiri, yang sejak kecil dimanja dan hidup serba berkecukupan, apalagi pada saat aku kuliah yang kiriman setiap bulan tidak kurang dari tiga juta, sekarang harus ikhlas menjual koran di perempatan jalan, menjadi operator warnet dan sabar menunggu honor tulisan.

Banyak hikmah yang aku petik dari semua ini. Aku yang dulu hanya berfoya-foya dan menghambur-hamburkan kiriman orangtua, yang kerjanya hanya mabuk-mabukan dan setiap malam selalu dugem, kini aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk membaca buku dan menulis.

Aku tahu pada kondisimu sekarang. Kehidupanmu tidak seperti kemarin-kemarin yang serba berkecukupan. Menulislah di media, ujar salah satu temanku yang tulisan-tulisannya sudah sering nampang di media. Kalau kamu menulis, selain kamu berkarya, kamu juga akan dapat honor dari hasil tulisanmu yang dimuat itu, tambahnya seraya memperlihatkan salah satu tulisannya yang dimuat di salah satu koran nasional.

Apa aku bisa seperti temanku ini? Bukankah aku tidak pernah punya pengalaman dalam dunia tulis-menulis! kataku dalam hati. Itu sangat mustahil. Tapi tiba-tiba sebersit kepercayaan tumbuh di benakku. Jika aku benar-benar serius dan semangat belajar menulis dan juga tidak pernah bosan berdoa, aku yakin pasti bisa seperti temanku itu.

* * *

Lebaran sudah tinggal beberapa hari lagi. Rencananya malam ini aku mudik. Seperti tahun-tahun sebelumnya, nanti setelah selesai shalat id, aku, ibu dan kedua adikku akan mengunjungi ayah di penjara. Tiba-tiba aku sangat merindukan ayah. Ah, aku jadi tidak sabar untuk mudik.

Dengan uang hasil dari honor tulisanku yang dimuat di salah satu koran lokal serta beberapa hasil dari menjual koran, akhirnya aku mudik dengan menaiki bus kelas ekonomi. Jika tidak ada aral melintang, besok pukul sembilan pagi aku akan sampai di kampungku.

Baru satu jam lebih bus yang aku tumpangi meninggalkan Yogya. Kira-kira butuh sebelas jam lagi untuk sampai di rumah. Karena mengantuk, aku pun memejamkan mataku.

Koran, koran. Ada berita hangat hari ini, suara beberapa penjual koran yang mondar-mandir di dalam bus membangunkanku. Tanpa terasa, hari sudah pagi.

Korannya satu, mas, kupanggil penjual koran yang memakai topi berwarna putih itu. Mungkin saja cerpenku dimuat. Hari ini kan hari Minggu, kataku dalam hati.

Betapa terkejutnya diriku setelah nama ayah menjadi headline di koran yang aku pegang.

Seorang mantan wakil rakyat yang dua tahun lalu ditetapkan sebagai terdakwa kasus korupsi menghembuskan nafas terakhirnya di balik jeruji besi dengan cara gantung diri, begitulah tulisan yang terpampang di koran lengkap dengan foto ayah.

Aku benar-benar terpukul. Air bening pun terus-menerus, tanpa terbendung mengalir deras dari sepasang mataku. Kuambil ponselku yang kutaruh di dalam tas bermaksud menghubungi ibu. Dan ternyata setelah ponsel kunyalakan, inbox di ponselku penuh dengan sms ibu. Cepat pulang, ayah sudah tiada, begitulah salah satu sms ibu.

Perasaanku semakin tak karuan. Masih tinggal berpuluh-puluh mil lagi untuk sampai di rumah, namun aku seperti sudah berada di samping jenazah ayah. Aku bisa membayangkan bagaimana jenazah ayah dikelilingi keluarga dan tetangga-tetanggaku sambil membacakan ayat suci Alquran.
Madura-Yogya, 2013

Fajri Andika
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us