Sajak-sajak Kurnia Hidayati

13 September 2015 - 08.36 WIB > Dibaca 1438 kali | Komentar
 
Sajak-sajak Kurnia Hidayati
Kurnia Hidayati

Arah Kesedihan

Dan kesedihan itu menajam ke arahmu
padahal jantungmu, telah koyak berulang
basah lukanya menolak kering
sebelum air mata tumpah
dalam doa-doa.

Mungkin janabijana
terlampau jauh dari mata.
Namun, jiwa
seperti jendela
Kedua sayapnya acapkali menutup
dan membuka
silih berganti
melansir kabar-kabar usia.

Namun, kesedihan itu
selalu mengarah padamu
Setiap kali kau menyebut kata rindu.

Tulis-Batang, 24 Juni 2015


Marionet

demi kelir panggung dan bidikan mata
kubiarkan takdir mencacah tubuhku tepat di sendi-sendi

temali adalah kerabat dekat jemari nasib pada kertap kaki kayu yang beradu di lempengan panggung. orang-orang termangu, membuntuti jalan cerita bak tersihir dan menyelapi sandiwara; dunia kotak persegi yang menjauh-jauhkan kenyataan sepenuh perasaan.
aku bicara lancang dengan cara yang tak kuduga. orang-orang lalu menangis, menjerit, dan bertepuk tangan hingga seluruh arena panggung, seketika riuh dikungkung dengung.

demi lampu-lampu sorot yang menyilaukan mata
aku berjalan dengan kaki yang patah
mengikuti sulur tali yang terus digerakkan
hingga lakon cerita tiba di pungkasan

Batang, 2014


Stockholm Syndrome

Perempuan itu pasti berdusta
Jika hanya menodongkan mata
pada tajam hunus belati
Tak menangis, kendati nyawanya bisa lepas
dari jarak tebas satu inci

Bukankah ia hanya tawanan
dengan pedih buhulan
di tangan?
Yang dihajar ancam
dan seribu satu wasangka
tak terjangkau perkiraan

Tidakkah ia takut
atau gelisah
atau sudah mati rasa
pada segalanya
jika rutuk dan serapah
mula-mula jadi jeri
lalu cinta pelan-pelan tumbuh di hati

Batang, 2015


Perangai Sepasang Angin


i.
yang datang dari daratan, menating cahaya bulan, telah membahasakan asin laut pada nelayan. jala dan kail pancing serta perahu yang tertambat di dermaga, menyongsong ikan-ikan yang berumah dalam samudera
“dengan siasat angin kami berangkat, sebab Tuhan telah menitipkan janji pada tiap kesiurnya. perahu kami akan pergi sepenuh doa. “

ii.
menghempaslah ia dari penjuru samudera
nelayan akan lekas tiba membawa tawanan ikan dalam jala
sauh segera jatuh
perahu beringsut mendekati dermaga
betapa indah angin menuntun nelayan jauh ke daratan. umpama saudara dengan lembut gandengan tangan
“dengan cerlang matahari pagi yang hangat menuju siang, sore temaram dan batas hari yang membentang. kami pulang sepenuh syukur bersama kelindan ikan-ikan di dalam jala. Tuhan mengutus angin, mengizinkan kami tiba di pesisir.”

Batang, 2014


Dari Tidur


1/
dari tidur yang asing
kau acapkali bergumam tentang malam
“mengapa ia begitu semangsi kopi?”
selimutmu diam-diam berbisik ihwal mimpi-mimpi ganjil
selalu mendapati sepasang mata yang terjaga
“terdiamlah di atas tilam hingga jam terus berputar. bukankah tidur tak harus terpejam, jika sepasang matamu tak mengizinkan kantuk mengetuk pelupuk.”

2/
kau yang dulu membenci kopi
kini engggan pergi dari aromanya
“tak mengapa mataku jika harus terus terjaga, asal segala hal usai dengan sederhana.” tukasmu
namun kopi kian menjauhkanmu dari tidur
pekatnya yang diaduk
menjelma arus yang memutar dalam lumpang
was-was yang datang
dari insomnia panjang

dari tidur yang asing seperti malam ini
dan malam-malam sebelumnya
apakah kau berniat pergi dari mimpi-mimpi yang anomali?

Batang, 2015


Mula-mula

mula-mula senandung
lalu lecut cemeti tepat di punggung
aku menggelinjang seiiring receh-receh berkelonang
mendaprat kaleng
saat orang-orang berhenti di lampu merah
seperti mendenguskan penat
dengan mata menyoraki kuda-kuda jalinan rotan
yang tertahan lajunya di perempatan

Batang, 2015


Malam Terjatuh di Kali Paingan

“karena di sini kita tak lagi kuasa menyelimuti jiwa.” bisikmu sembari meringkuk di jantung gazebo, di antara malam yang terjatuh di atap rumah bambu. angin merangkak, menelusuri waktu yang bungkam. mantel kebekuan, erat memagut badan.
“kubiarkan luka pergi menceburkan diri pada aliran kali ini. melarung ingatan kita tentang ritus rindu tiap hari.” kau menyalakan matamu sebelum kegelapan kian berpijar, nyaris membunuh lampu-lampu.
 di kali paingan, sebelum subuh. lampu-lampu mungkin tak akan terbunuh. biarlah mereka menjadi mata-mata yang menyaksikan malam
memekat dan terjatuh
di sepanjang aliran.

September, 192014

 

Kurnia Hidayati, lahir di Batang, Jawa Tengah, 1 Juni 1992. Pengajar di SMA N 1 Batang ini, tulisannya pernah dimuat di Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Indopos, Riau Pos, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Banjarmasin Pos, Pos Bali, Bandung Ekspress, Majalah Sastra Kalimas, Minggu Pagi, Haluan Padang, Radar Surabaya, Suara NTB, Solopos, Harian Cakrawala Makassar, dan lain-lain. Buku puisi tunggalnya adalah Senandika Pemantik Api (2015).
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us