Sekali lagi Jerebu

20 September 2015 - 09.25 WIB > Dibaca 2282 kali | Komentar
 
Sekali lagi Jerebu
GEMA SETARA
RIAUPOS.CO - Kita dibuat tercengang, jerebu (asap, red) yang terjadi di Riau dalam sebulan terakhir membawa dampak yang cukup besar. Headline Riau Pos terbitan Jumat (18/9) kemarin membuat semua pihak terpana seakan tidak percaya. Bagaimana tidak dampak jerebu itu membawa kerugian yang cukup besar mencapai Rp22 triliun.

Kalaulah dana sebesar Rp22 triliun itu digunakan untuk pembangunan rumah layak huni mungkin beribu-ribu masyarakat miskin bisa menerimanya, jika anggaran itu dialih pada pembangunan jalan diberbagai ceruk kampung yang ada di Riau pastilah tidak ada keluhan masyarakat dari pelosok kampung itu akan keterisoliran mereka.

Kalau anggaran sebesar itu digulirkan untuk pembangunan ekonomi kerakyatan mungkin tidak ada jeritan masyarakat di tengah krisis yang dialami daerah dan bangsa ini. Tapi sayang, anggaran sebanyak itu menguap bersama asap, semua pihak rugi, berbagai sektor ekonomi masyarakat turut terhenti, dampaknya sudah pasti.

Riau Pos edisi  Sabtu (19/9) kembali mengungkap fakta, akibat asap hampir tiap pekan 2.000 rakyat di Kota Pekanbaru  terserang Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Itu baru di Kota Pekanbaru saja, bagaimana dengan kabupaten/kota lain di Riau, mungkin puluhan ribu orang terkena penyakit itu. Masihkah kita harus diam?.

Riau Pos  merilis, kerugian yang dialami itu terjadi pada berbagai sektor usaha. Transportasi udara misalnya, hampir setiap hari Bandara SSK II Pekanbaru mengalami kerugian Rp75 juta, ini baru dari operasional listrik, belum lagi kerugian dari mitra maskapai akibat gagal mendarat (RTB) ditanggung AP.

Sementara catatan dari Dinas Perhubungan Riau, hingga 16 September 2015, setidaknya 408 flight (penerbangan) dibatalkan. Sebanyak 201 flight mengalami delay, enam flight yang divert (dialihkan), dan  empat flight yang RTB (Return To Base). Dalam kasus RTB tak terhitung berapa ribu liter aftur yang terpakai sia-sia dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Kerugian finansial dari pendapatan pelayanan langsung sampai 14 September 2015 Bandara SSK II sebesar Rp1,5 miliar.
Sektor lain yang terkena imbas dari jerebu adalah sektor   hotel, restoran, ekspedisi, bisnis tour and travel, bisnis oleh-oleh makanan bahkan hingga ke ritel-ritel kecil. Sejak kabut asap, occupancy rate hotel berbintang di Riau yang berjumlah 55 hotel hanya sebesar 39,99 persen.

Sekali lagi, Riau menjadi sorotan dari berbagai pihak, sorotan negatif tentunya. Mengapa Riau tidak pernah belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya dalam mengatasi persoalan jerebu ini.  Tak terkira lagi anggaran yang dihabiskan untuk melakukan hujan buatan atau modifikasi cuaca, tapi sampai hari ini asap masih menyelimuti Riau. Udara pengap, oksigen menipis, nak menghirup udara segar bukan main susahnya

Riau menjadi negeri kayangan, kata orang saat ini, negeri kayangan yang tidak dihendaki oleh sesiapun. Hanya keledai yang jatuh di tempat yang sama. Mungkinkah Riau keledai? Entahlah. Selain keledai tentu tak mau jatuh ditempat yang sama.***

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us