Raja Saleh Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau

Serbuan Akronim

20 September 2015 - 10.00 WIB > Dibaca 3563 kali | Komentar
 
Serbuan Akronim
Raja Saleh
RIAUPOS.CO - Pernah membaca atau mendengar kata rudal, rapim, atau rakor?  Kata-kata tersebut merupakan akronim. Menurut Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), akronim dapat diartikan sebagai singkatan yang berupa gabungan huruf awal, suku kata, atau salah satu huruf dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata, baik dalam penulisan, maupun dalam pelafalan. Hal itu berbeda dengan singkatan yang pelafalannya dieja huruf demi huruf.

Dalam EYD tersebut, akronim diklasifikasikan a) akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital (misalnya IKIP, LAN, SIM, dan lain-lain); b) akronim nama diri yang merupakan gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital (misalnya Akabri, Iwapi, Bappenas, Pusdiklat, dan lain-lain); dan c) akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil (misalnya pemilu, rapim, tilang). Ketiga contoh tersebut, perbedaannya terlihat pada cara penulisannya. Pada contoh pertama, semua huruf ditulis dengan huruf kapital. Pada contoh kedua, hanya huruf awal saja yang ditulis dengan huruf kapital, sedangkan pada contoh ketiga, semua hurufnya ditulis dengan huruf kecil.

Penciptaan dan penggunaan akronim marak di dalam masyarakat. Salah satu penyumbang akronim dan singkatan yang cukup produktif adalah kepolisian dan militer. Kedua institusi ini dikenal sangat produktif menghasilkan akronim. Karena dipergunakan di lingkungan yang terbatas, seringkali masyarakat bingung dengan istilah-istilah yang mereka pergunakan. Baru-baru ini, kita mendengar ada istilah Balakpus. Barangkali, sebagian besar masyarakat awam tidak tahu bahwa Balakpus ini adalah sebuah akronim Badan Pelaksana Pusat. Contoh lainnya adalah bujukdas (Buku Petunjuk Dasar), Brigif (Brigade Infantri), Denkesyah (Detasemen Kesehatan Wilayah). Untuk menyebutkan pangkat, kepolisian dan militer membuat akronim-akronim (juga singkatan), seperti Bripda (Brigadir Polisi Dua), Kombes Pol (Komisaris Besar Polisi), Babinsa (Bintara Pembina Desa).

Akhir-akhir ini, akronim juga populer di masa-masa pesta demokrasi rakyat Indonesia. Sebut saja akronim Pemilihan Umum (Pemilu), Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pilgub (Pemilihan Gubernur), atau Pilbup (Pemilihan Bupati). Untuk mencari popularitas dan menarik simpati masyarakat, pasangan-pasangan bakal calon (balon) berusaha membuat akronim dengan menggabungkan nama mereka. Penyingkatan ini selalu diusahakan untuk menghasilkan akronim yang memiliki makna kata yang baik, semangat, dan (kadang) religius. Seorang bakal calon di sebuah kabupaten di Sumatera Barat mengusung semboyan Berkeadilan, Inovasi, Sejahtera, Agamis yang dijadikan akronim BISA.  
 
Akronim juga merebak di kalangan remaja ABG (Anak Baru Gede). Sepertinya, penciptaan akronim merupakan salah satu gaya komunikasi para remaja sekarang. Perilaku menyingkat-nyingkat kata ini sudah menjadi kebiasaan bagi remaja. Alasannya, agar penggunaan kata lebih efektif dan juga terlihat/terkesan keren.  

Remaja termasuk generasi yang paling produktif dan kreatif dalam membuat akronim.  Para remaja ini sering menyebut kata kepo yang berarti ‘sangat ingin tahu mengenai sesuatu hal’. Ternyata, kata ini merupakan sebuah akronim dari knowing everything particularly object. Selain kata kepo, mereka juga menciptakan  jaim (jaga image), gaptek (gagap teknologi), dan lain-lain.

Sesungguhnya, tidak semua akronim tersebut bisa populer dengan cepat. Walaupun  sudah lama dibuat, belum tentu masyarakat luas mengenalnya. Untuk padanan kata online dan offline dalam bahasa Inggris, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sudah menetapkan  akronim daring untuk ‘dalam jaring’ dan luring untuk ‘luar jaring’. Kemudian, padanan e-mail (elektronik mail) adalah surat elektronik, akronimnya adalah surel. Akan tetapi, online, offline,  dan e-mail  lebih dikenal dibandingkan daring, luring, dan surel.

Ada juga jenis akronim yang sudah digunakan dan sering diucapkan, tetapi tidak diketahui oleh yang mengucapkan atau yang menuliskannya bahwa kata itu termasuk sebuah akronim. Contoh yang bisa diajukan adalah kepo, seperti yang sudah disampaikan sebelumnya. Ketika kita mengendarai motor dan diberhentikan oleh polisi, mungkin kita pernah mendengar “saudara saya tilang”. Tidak semua orang paham bahwa kata tilang itu merupakan akronim dari bukti pelanggaran. Di kalangan remaja, kata modus, selain memiliki empat makna, seperti yang tertera di dalam KBBI, juga akronim dari modal dusta. Jadi, terkadang masyarakat sering menggunakan sebuah kata yang ternyata merupakan sebuah akronim tanpa diketahuinya.

Dewasa ini, pembentukan dan penggunaan akronim semakin “liar” dan sulit untuk dikendalikan. Semua orang atau instansi bisa membuat singkatan secara suka-suka. Padahal ada aturan-aturan dalam membuat akronim yang harus ditaati, seperti a) jumlah suku katanya jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim di dalam bahasa Indonesia; b) mengindahkan keserasian kombinasi vokal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.

Walaupun sulit, pengontrolan terhadap pembuatan dan penggunaan akronim dapat dilakukan pada instansi pemerintah, misalnya, nama lembaga, dokumen resmi yang digunakan oleh pemerintah, dan akronim yang digunakan oleh kepolisian dan militer. Namun, akronim yang biasa diproduksi dan digunakan oleh ABG, tentu akan sulit dikendalikan. Apalagi para remaja merupakan pemakai aktif media sosial sehingga akronim yang dipergunakannya akan menyebar cepat laksana virus ke tengah masyarakat. Sekali menggunggah status atau foto (dengan tulisan) ke media sosial, apalagi jika hal itu dilakukan oleh selebritas, akronim dan singkatan tersebut akan menyebar dan menjangkiti ABG di desa-desa dan pelosok-pelosok hanya dalam hitungan jam. Anda sudah terjangkiti?***

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:34 wib

Sandiaga: Saya Terus Berkomunikasi dengan SBY

Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang “Puasa” SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Rabu, 14 November 2018 - 12:32 wib

Pasien RSJ Bisa Gunakan Hak Pilih

Follow Us