CERPEN

Kota Balik Bukit

20 September 2015 - 10.02 WIB > Dibaca 2025 kali | Komentar
 
Oleh Ilham Fauzi

DI balik bukit yang  memagari kampung  kami, aku, Mono, dan Siman percaya terdapat sebuah kota. Di pikiran kami bersileweran keramaian yang tidak ada di kampung kami yang sunyi dan terpencil. Keyakinan kami akan keberadaan kota di balik bukit bukan mengada-ada. Mono selalu memendam keinginan membawa anjingnya ke atas bukit. Ia tidak sabar melihat ketangkasan si Joki yang telaten ia rawat. Hingga saat ini, tiap kali ia meminta pada ayahnya untuk membuktikannya di hari berburu pada hari Sabtu, tiap itu pula ayahnya menolak. Ketika kali ini di hari Sabtu tanggal merah, Mono tidak dapat lagi menahan keinginannya. Ia mengajakku dan Siman pergi diam-diam mengikuti rombongan orang dewasa.

Siman enggan karena ia tidak tertarik dengan perihal anjing yang sangat digemari Mono. Bagiku sendiri, mengapa Mono dengan mudah melupakan petuah yang melarang kami naik ke atas bukit. Namun Mono punya cara menyikapi ketidakmauan aku dan Siman. Ia merayu Siman dengan menyediakan sekantong makanan selama perjalanan. Siman tertarik dan tak mengelak lagi. Namun untukku yang tidak bisa disogok, Mono mengalah. Aku dan Siman menemaninya hanya sampai kaki bukit. Meski kecewa tidak bisa mengajak kami naik ke atas bukit, wajah Mono tetap menunjukkan raut senang. Kami memutuskan di pagi Sabtu itu pergi ke kaki bukit.

Pandanganku dan Mono tertuju pada anjing berburu yang besar dan menggonggong dengan keras. Siman bersandar kelelahan pada pohon Kersen. Sedikit demi sedikit iringan orang yang menuju bukit mulai menjauh meninggalkan kami. Para lelaki dewasa mengingatkan kepada untuk meninggalkan kaki bukit. Begitu suasana telah lengang, segera kuajak Mono dan Siman pulang. Siman bangkit dengan gerakan yang lambat. Mono masih diam mematung.
Apalagi yang ditunggu? desakku pada Mono.

Aku mendengar suara, tetapi masih samar-samar, sahut Mono ragu.
Jangan dipedulikan. Itu hanya halusinasimu! sergahku cepat.
Mono tidak menggubris sementara Siman memerhatikan sambil menguap.
Aku mulai mendengar sayup suara kendaraan, sepertinya suara mobil, ucap Mono membuatku heran. Siman serta-merta menatap Mono dengan muka penasaran.

Suaranya mulai bising, lalu... Mono berhenti sejenak. ada suara klakson mobil dan motor yang saling bersahutan, derum kendaraan besar yang bergemuruh, dan... Mono menggantung kata-katanya dengan mata tidak berkedip. Tetapi hanya sesaat, mata itu kembali berkedip.

Kau mendengar apa? buru Siman tidak sabar.

Ada gelak tawa anak-anak. Keras sekali.
Aku masih ragu dengan ucapan Mono. Ayolah, jangan terlalu lama di sini. Itu hanya perasaan kau saja! sanggahku sambil mendorong bahu Mono agar dia segera beranjak.

Bukannya mengiyakan ajakanku, Siman juga mulai terpaku. Tak lama ia bersuara. Aku juga mendengar suara yang kau katakan.

Mono tergelak kecil lalu mengangguk. Ada kota di balik bukit itu. Kita harus membuktikannya! ucapnya dengan nada penuh kemenangan.

Ketika kebingungan masih mendera pikiranku, perlahan-lahan telingaku menangkap suara yang begitu pelan lalu makin lama makin terdengar jelas. Suara itu seperti suara yang didengar Mono dan Siman.

***
Pulang dari kaki bukit, kami bermain guli di halam rumah Mono. Begitu sore datang, rombongan orang dewasa tampak ramai turun bukit sambil memegang tali anjing masing-masing. Ketika pamannya Mono, Pak Ngah Suki lewat, kami mendekat hendak bertanya sesuatu. Pak Ngah Suki berhenti dan mengambil posisi duduk. Kami menanyakan perihal keberadaan kota seperti yang kami dengar tadi pagi. Sebelum dari mulutnya keluar ucapan, Pak Ngah Suki menghela napas dan melepas topi koboinya yang lusuh.

Tidak ada apa-apa di balik bukit itu. Tidak ada kota yang kalian impikan, jawab Pak Ngah Suki dengan wajah tenang.
Tapi... kamu hendak mau memprotes.

Sudahlah. Tidak apapun. Kalian harus percaya itu, lanjut Pak Ngah Suki sambil bangkit dari duduknya dan berlalu.
    Kami tetap tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Ngah Suki begitu pun pada pesan orang-orang tua yang kerap kami dengar. Maka aku, Mono, dan Siman memutuskan untuk membuktikannya Sabtu depan. Kami mengumpulkan uang receh yang seharusnya dapat kami gunakan untuk jajan untuk dibelanjakan di kota nanti. Aku mendapat tugas menyimpan koin tersebut. Sebelum rencana itu terlaksana, maka aku memberitahu abangku, Rodin. Dia biasanya tidak banyak larangan, tetapi lebih menyerahkan keputusan kepadaku dan resikonya harus ditanggung sendiri. Begitulah dia bersikap kepadaku dan aku merasa sepaham dengannya dibanding ibu atau bapak.

    Kau tidak lupa bahwa siapapun anak di bawah umur lima belas tahun yang pergi ke sana biasanya tak akan kembali? ia menatapku tajam.

    Tapi kami sangat ingin ke sana, sahutku sambil menunduk.
Itu bukan suara kota yang sesungguhnya yang kalian dengar. Makhluk bunian bukit itu mempengaruhi kalian dengan suara kota karena mereka memiliki kesempatan, lanjut abangku memberi penjelasan.

    Lalu apa yang harus kami lakukan? tanyaku tidak memedulikan perkataannya.

Tampak gurat keraguan dari wajah abangku itu. Aku sebenarnya tak mengizinkan kau pergi. Kalau keinginan kalian sudah kuat, bagaimana lagi. Ada beberapa hal yang harus kau ingat dan tidak boleh dilakukan selama kalian menaiki bukit. Setidaknya hal ini masih membuat kalian aman walau kemungkinannya kecil, ujarnya menghela napas berat.
Apa itu? tanyaku mendongak menatap wajahnya.

Ia mengatakan beberapa hal yang harus selalu kuingat. Aku melihat cahaya redup di matanya. Namun aku tetap bersikukuh pada rencana yang telah aku sepakati bersama Mono dan Siman.
    
***
Pesan abangku, ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan. Kalian harus ingat baik-baik agar tidak lupa! ucapku keras agar Mono dan Siman menyimak dengan baik.

Ya, katakanlah! sahut Mono dengan enggan. Bola matanya tidak fokus menatapku. Ia terlihat tidak sabar lagi. Sedangkan Siman sibuk dengan kacang di tangannya. Meski agak ragu Mono dan Siman memahaminya dengan baik, aku mengatakan juga pesan-pesan itu.

Mono mengangguk, begitu juga Siman. Kami berjalan beriringan. Setelah beberapa meter mengikuti jalan setapak yang telah ada, kami berbelok dan membuat jalan baru agar tidak bertemu orang dewasa. Hal baiknya memilih hari yang sama dengan orang berburu, keberadaan kami tidak akan begitu jelas diketahui. Beberapa kali aku dan Mono menggunakan parang menyingkirkan semak. Kami kemudian berhenti di sebuah aliran air. Aku meneguk air jernih yang mengalir tenang lalu menaiki sebuah cabang pohon. Aman, tidak ada tanda-tanda orang dewasa mengetahui keberadaan kami.
Ayolah, jangan berlama-lama. Puncak bukit hampir dekat dan kita akan melihat kota, ujarku menyemangati Mono dan Siman yang bersandar kelelahan.

Siman bangkit dengan malas-malasan. Mono berjongkok mendekati aliran air hendak menghilangkan dahaganya. Namun bukannya meneguk air seperti yang aku kira, Mono melakukan larangan seperti yang dipesankan Bang Rodin.
Jangan lakukan itu! aku berteriak keras. Terlambat, air seni Mono telah bercampur dengan aliran air.
Tidak apalah. Kau ini terlalu nyinyir! balas Mono tak mau disalahkan.
Apa kau tidak mengingat apa yang aku katakan tadi? ujarku dongkol.
Mono diam saja. Ia segera bangkit dan berjalan paling depan.
Sudahlah, lupakan saja. Semakin cepat kita menemukan kota, maka segala kekhawatiranmu akan hilang, ucap Siman sambil menepuk pundakku.
    
***
Perjalanan terasa cepat dibanding yang kami kira. Mono mencapai puncak lebih dulu. Rimbunan daun-daun yang belum pernah tersentuh dan jejak jalan setapak yang tidak ada, benar-benar membuktikan bahwa orang dewasa belum pernah sampai ke sini. Bunyi gemerisik hewan hutan yang terdengar secara tiba-tiba, membuatku sempat khawatir jika sekawanan babi tetiba datang menghampiri. Tapi untunglah tak ada pertanda kehadiran mereka.

Mengapa tidak ada keberadaan ko... kalimatku terpotong oleh ucapan Mono.
Lihat baik-baik! seru Mono.

Ya, aku melihatnya! wajah Siman berseri dan dengan segera bangkit dari duduknya. lihatlah! Seperti yang kita duga orang dewasa  memang merahasiakannya, lanjut Siman sambil mengikuti Mono yang mulai menuruni balik bukit.
Aku masih terpaku melihat Mono dan Siman yang terus menuruni balik bukit. Aku tidak melihat apapun. Bagaimana mungkin penglihatan kami bisa berbeda. Lalu aku teringat pada uang receh yang telah kami kumpulkan. Aku meraba memastikan apakah masih tersimpan aman di saku. Wajahku berkerut begitu uang itu disentuh, mereka berjatuhan dan menggelinding ke bawah bukit menuju arah kampung.

Ketika itulah aku melihat keberadaan kota di balik bukit. Mobil dan motor melintasi jalan, toko-toko berderet, lalu wahana permainan yang berisik. Seluruh kesibukan kota berjalan tanpa satu pun terlihat kehadiran sosok manusia. Begitu saja langkahku mulai mengikuti Mono dan Siman yang semakin mendekati kota. Tiba-tiba sesuatu berkelebat di benakku. Kami tak mungkin menjalankan rencana di kota karena uang recehan itu telah pergi memberi kabar bahwa kami tak lagi kembali.***

Ilham Fauzi. Alumni UIN Suska Riau. Pernah bergiat di FLP Cabang Pekanbaru. Cerpennya termaktub dalam 100 Tahun Cerpen Riau (Disbudpar Riau, 2014) dan Matinya Lelaki yang Mencintai Peri (AG Publishing, 2014). Surel di fauziilham 28@yahoo.com

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 26 September 2018 - 11:09 wib

2 Bulan, Beraksi di 8 TKP

Rabu, 26 September 2018 - 10:56 wib

Melibatkan 10 Tenaga Verifikator

Rabu, 26 September 2018 - 10:30 wib

66 Orang Terjaring Razia Malam

Rabu, 26 September 2018 - 10:28 wib

Terpantau CCTv, Maling Dihajar Pegawai Pemprov

Rabu, 26 September 2018 - 10:25 wib

KTP Luar Pekanbaru Bisa Ikut

Rabu, 26 September 2018 - 10:15 wib

STIKes Hang Tuah-FAI UIR Jalin Kerja Sama

Rabu, 26 September 2018 - 10:06 wib

STIKes-STMIK Hang Tuah Tuan Rumah Festival Paduan Suara Se-Riau

Rabu, 26 September 2018 - 10:04 wib

Kurangi Kegiatan Seremonial

Follow Us