Tuah Burung Serindit: Upaya Membumikan Khazanah Budaya Melayu Melalui Cerita Anak

Khazanah Budaya Melayu dan Generasi Muda

20 September 2015 - 10.03 WIB > Dibaca 1635 kali | Komentar
 
Oleh Nafiah Al Marab

Masyarakat Melayu Riau memiliki kekayaan khazanah budaya yang sangat beragam. Mulai dari adat dan tradisi, kuliner, objek wisata budaya dan sebagainya. Semua itu merupakan bagian dari keistimewaan Riau yang digadang-gadang menjadi pusat peradaban Melayu dunia.

Budaya Melayu umumnya, khasnya Melayu Riau, adalah budaya yang terbuka. Keterbukaan itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu menjadi majemuk dengan masyarakatnya yang majemuk pula. Kemajemukan inilah sebagai salah satu khasanah budaya Melayu yang tangguh, serta sarat dengan keberagaman. Karenanya, orang mengatakan bahwa budaya Melayu bagaikan pelangi atau taman bunga yang penuh warna warni, indah dan memukau. Salah satu khasanah budaya Melayu yang paling sarat dengan nilai-nilai utama sebagai jatidiri kemelayuan itu adalah adat istiadatnya atau dikatakan adat resam. (Wikipedia).

Melalui proses keterbukaan itu pula adat resam Melayu menjadi kaya dengan variasi, sarat dengan simbol (lambang) dan falsafah. Kekayaan khasanah nilai itu dapat disimak antara lain dari keberagaman alat dan kelengkapan upacara adat, dari alat dan kelengkapan pakaian pakaian adat, dari bentuk dan ragam hias rumah, dari alat dan kelengkapan ruamh tangga, dari upacara-upacara adat dan tradisi, dari ungkapan-ungkapan adat (pepatah petitih, bidal, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, seloka, syair dan sebagainya), yang mereka warisi turun temurun. Karenanya, tidaklah berlebihan bila ada yang berpendapat, bahwa khasana budaya Melayu merupakan samudera budaya dunia, sebab di dalam budaya Melayu memang terdapat berbagai unsur budaya dunia. Dengan sifat keterbukaan itu pula budaya Melayu mampu menyerap beragam unsur budaya luar, sehingga memperkaya khasanah budaya Melayu itu sendiri.

Dalam jumlah yang terukur, pesatnya budaya asing yang masuk ke Indonesia akan memperkaya khasanah budaya Melayu, akan tetapi pada kondisi yang sudah tidak wajar ditambah ketidaksiapan masyarakat Melayu sendiri dalam menerima budaya asing, akan berefek pada apa yang dikatakan dengan kealpaan tradisi pada generasi muda. Sedikit demi sedikit budaya Melayu hilang dan akhirnya terlupakan. Kondisi inilah yang menuntut banyak pihak mengambil solusi.

Kealpaan tradisi dan khazanah budaya masyarakat Melayu dimulai dari generasi anak. Modernisasi dan gempuran budaya asing telah membuat generasi anak masyarakat Riau tak banyak yang tau tentang nilai-nilai khazanah budayanya sendiri.

 Kebanggaan pada simbol-simbol asing sering kali muncul ketika apa yang menjadi budaya bangsa lain bisa dimiliki, bukan pada kekayaan budaya lokal yang sesungguhnya memiliki ketinggian nilai yang lebih baik. Selain itu, Lajunya pertumbuhan global dalam sektor ilmu pengetahuan dan teknologi diera sekarang sangat mempengaruhi keberadaan budaya, adat istiadat, dan norma-norma, karna lajunya impormasi dari luar yang masuk ke dalam negeri tidak dapat di bendung lagi (Sabki, 2014).
Cerita Anak Sebagai Media Konservasi

Cerita anak merupakan cerita yang berangkat dari persepsi tokoh anak. Nurgiyantoro (2005:35) Cerita anak adalah cerita yang di mana anak merupakan subjek yang menjadi fokus perhatian. Tokoh cerita anak boleh siapa saja, namun mesti ada anak-anaknya, dan tokoh anak itu tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga pusat pengisahan.

Cerita anak sebagai bagian dari cerita fiksi memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan tersirat dan tersurat kepada anak. Oleh karena itu lah sebuah karya fiksi anak atau cerita anak dapat dijadikan sebagai media penyampai pesan kekayaan khazanah budaya Melayu. Dalam alur sebuah cerita, upaya edukasi menjadi lebih menyenangkan untuk dinikmati. Anak-anak akan masuk dalam suasana cerita tanpa harus merasa digurui.

Cerita anak sebagai media konservasi nilai-nilai khazanah budaya Melayu Riau coba dirangkumkan oleh penulis Riau, Alam Terkembang melalui sebuah buku kumpulan cerita anak berjudul Tuah Burung Serindit. Buku ini menceritakan banyak hal menarik terkait nilai-nilai khazanah budaya tempatan yang dikemas melalui sebuah karya fiksi. Kelengkapan unsur intrinsik pada karya cerita anak seperti konflik, alur, tokoh dan ending menjadi cara yang halus untuk melakukan edukasi budaya di kalangan anak. Beberapa judul cerita di dalam buku tersebut diantaranya Tuah Burung Serindit, Bolu Komojo Ratna, Lampu Colok, Berkunjung ke Istana Siak, Kerajinan Tangan Kampung Melayu, Gasing Piring dan sebagainya. Tiap-tiap cerita mengemukakan objek khazanah budaya Melayu yang mungkin saja di kalangan generasi anak hal tersebut masih terdengar asing.
 
Sejauh mana cerita-cerita anak di dalam buku kumpulan cerita anak tersebut mampu mengedukasi kalangan anak terhadap kekayaan khazanah budaya Melayu tentu saja ditentukan beberapa faktor, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Kekuatan
penggarapan karya
Sejauh mana ketajaman setiap unsur-unsur intrinsic cerita tersebut dipadukan, maka sejau itulah pembaca kalangan anak bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan pengarang. Sebuah cerita yang berhasil mempengaruhi pembaca tak lepas dari kepiawaian penulis dalam menyanding setiap unsur cerita dengan porsi yang cukup.
2. Promosi dan dukungan

Sebuah karya sastra tidak berhenti setelah selesai dibuat. Tugas penulis selanjutnya adalah bagaimana mengajak orang untuk membaca apa yang ia tulis. Terlebih lagi jika memiliki pesan budaya yang secara urgen ingin disampaikan pada kelompok masyarakat. Maka sangat penting penulis mampu melakukan promosi dengan baik terhadap naskah buku yang telah ia tulis. Dukungan dari pihak-pihak terkait juga menjadi faktor pelengkap berhasil tidaknya buku cerita anak ini dijadikan sebagai upaya konservasi khazanah budaya Melayu Riau.

Tuah Burung Serindit merupakan satu dari karya sastra di Riau yang ingin memberikan muatan edukasi bernilai budaya kepada masyarakat. Buku ini telah membidik fokus kalangan anak sebagai generasi paling muda dari masyarakat Riau yang harus tetap mengetahui kekayaan budaya bangsanya. Berhasil tidaknya buku ini bergantung pada kita sendiri sebagai masyarakat Riau, sudahkah kita peduli dengan setiap upaya konservasi pelestarian budaya sendiri.***

Nafiah Al Marab (Sugiarti), adalah Ketua Forum Lingkar Pena Riau.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us